Sejarah Lukisan Hidup Pangeran Diponegoro, Separuh Badan Dibuat di Batavia
Senin, 04 Juli 2022 - 07:05 WIB
loading...
A
A
A
Sejak tahun 1828 karirnya meningkat menjadi seorang baljuw atau hakim daerah, yakni sebuah jabatan yang ada sejak zaman VOC, yang kedudukannya setara dengan Residen.
Secara kedinasan Jan Bik lah yang memikul tanggung jawab atas masa kurungan Diponegoro di Batavia. Melihat kehadiran Pangeran Diponegoro di Balai Kota, jiwa seniman Jan Bik terpantik.
Baca juga: Kisah Sentot, Sang Panglima Perang Muda Diponegoro yang Jatuh karena Uang dan Dibuang
Secara pribadi ia menyiapkan pensil dan selembar kertas untuk membuat sketsa lukisan dengan subyek hidup yang secara fisik berjarak dekat dengannya. Jan Bik ingin mengabadikan sang Pangeran yang kini telah menjadi seorang pesakitan. “Pangeran yang ditawan itu sepenuhnya tersedia bagi Bik,” kata Harm Stevens.
Proses memindahkan sosok Pangeran Diponegoro ke dalam sketsa di atas kertas putih itu, relatif berjalan lancar. Diponegoro memenuhi apa yang menjadi keinginan Jan Bik.
Ia duduk di atas kursi dengan lengan kiri bertumpu pada sandaran, dengan posisi berhadapan dengan Jan Bik yang berjarak dekat. Bik yang mengawali karir seniman dengan melukis di atas permukaan porselein, mampu bekerja dengan baik.
Ia sanggup menggambar wajah Pangeran Diponegoro secara akurat. Hasil dari energi dan kemampuan yang banyak tercurah itu adalah wajah Diponegoro berparas halus dengan sorot dua bola mata yang menatap tajam. Gestur wajah yang kemudian kerap disebut memancarkan martabat.
Secara kedinasan Jan Bik lah yang memikul tanggung jawab atas masa kurungan Diponegoro di Batavia. Melihat kehadiran Pangeran Diponegoro di Balai Kota, jiwa seniman Jan Bik terpantik.
Baca juga: Kisah Sentot, Sang Panglima Perang Muda Diponegoro yang Jatuh karena Uang dan Dibuang
Secara pribadi ia menyiapkan pensil dan selembar kertas untuk membuat sketsa lukisan dengan subyek hidup yang secara fisik berjarak dekat dengannya. Jan Bik ingin mengabadikan sang Pangeran yang kini telah menjadi seorang pesakitan. “Pangeran yang ditawan itu sepenuhnya tersedia bagi Bik,” kata Harm Stevens.
Proses memindahkan sosok Pangeran Diponegoro ke dalam sketsa di atas kertas putih itu, relatif berjalan lancar. Diponegoro memenuhi apa yang menjadi keinginan Jan Bik.
Ia duduk di atas kursi dengan lengan kiri bertumpu pada sandaran, dengan posisi berhadapan dengan Jan Bik yang berjarak dekat. Bik yang mengawali karir seniman dengan melukis di atas permukaan porselein, mampu bekerja dengan baik.
Ia sanggup menggambar wajah Pangeran Diponegoro secara akurat. Hasil dari energi dan kemampuan yang banyak tercurah itu adalah wajah Diponegoro berparas halus dengan sorot dua bola mata yang menatap tajam. Gestur wajah yang kemudian kerap disebut memancarkan martabat.
Lihat Juga :