Kisah Pangeran Sambernyawa, Pemberontak yang Ditakuti VOC dan Sekutunya
Jum'at, 01 Juli 2022 - 05:30 WIB
loading...
A
A
A
Raden Mas Said bersama pengikutnya mulai mengembara mencari suatu daerah yang aman untuk kembali menyusun kekuatan. Raden Mas Said bersama para pengikutnya tiba di suatu daerah dan mulai menggelar pertemuan-pertemuan untuk menghimpun kembali kekuatan dan mendirikan sebuah pemerintahan biarpun masih sangat sederhana.
Dia pun membangun pasukan untuk melawan pasukan VOC dan pemerintahan Mataram yang kala itu bersekutu dengan VOC.
Baca juga: Tumenggung Endranata, Pengkhianat Mataram yang Dimutilasi Sultan Agung Menjadi 3 Bagian
RM Said memulai perjuangannya pada 1740 saat berusia 14 tahun. Musuhnya saat itu adalah Pakubuwana II dan tentara VOC. Pada 1746, RM Said bergabung dengan pamannya, Mangkubumi, untuk melawan Keraton Surakarta dan VOC.
Mangkubumi yang merupakan pemimpin senior berperan sebagai panglima besarnya. Sementara, RM Said menjadi pemimpin militernya yang berbakat dan berpengalaman, pengikut yang loyal dan banyak dikagumi. Dua kekuatan ini menjadikan mereka sangat kuat, bahkan dinilai sebagai kekuatan paling besar dan berbahaya yang pernah dihadapi tentara VOC di Jawa. Bahkan, beberapa kali pihak VOC mengajak berunding keduanya, namun hal itu mereka tolak.
Namun, pada 1752-1753 RM Said dan Mangkubumi mengalami perpecahan, bahkan berperang satu sama lain. Hal ini tentu menguntungkan pihak VOC. Hingga akhirnya, pada 13 Februari 1755 diadakan Perjanjian Giyanti, di mana VOC menyetujui permintaan Mangkubumi untuk membagi Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh Pakubuwana III dan Kasultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
RM Said pun ditinggalkan tanpa memiliki sekutu. Merasa haknya belum terpenuhi, ia pun semakin gencar melakukan perlawanan terhadap Pakubuwana III, Hamengku Buwono I, dan VOC. Namun RM Said terus melakukan perlawanan hingg VOC dan sekutunya kewalahan.
Diceritakan, RM Said memimpin pasukan melawan tiga kekuatan sekaligus; VOC, Pakubuwana III, dan Hamengkubuwana I. Dia pun mendapat julukan Pangeran Sambernyawa karena dalam setiap peperangan selalu membawa kematian bagi musuh- musuhnya. Semboyannya yang paling dikenal adalah tiji tibèh, kependekan dari mati siji, mati kabèh yang artinya gugur satu, gugur semua dan mukti siji, mukti kabèh yang artinya sejahtera satu, sejahtera semua.
Dia pun membangun pasukan untuk melawan pasukan VOC dan pemerintahan Mataram yang kala itu bersekutu dengan VOC.
Baca juga: Tumenggung Endranata, Pengkhianat Mataram yang Dimutilasi Sultan Agung Menjadi 3 Bagian
RM Said memulai perjuangannya pada 1740 saat berusia 14 tahun. Musuhnya saat itu adalah Pakubuwana II dan tentara VOC. Pada 1746, RM Said bergabung dengan pamannya, Mangkubumi, untuk melawan Keraton Surakarta dan VOC.
Mangkubumi yang merupakan pemimpin senior berperan sebagai panglima besarnya. Sementara, RM Said menjadi pemimpin militernya yang berbakat dan berpengalaman, pengikut yang loyal dan banyak dikagumi. Dua kekuatan ini menjadikan mereka sangat kuat, bahkan dinilai sebagai kekuatan paling besar dan berbahaya yang pernah dihadapi tentara VOC di Jawa. Bahkan, beberapa kali pihak VOC mengajak berunding keduanya, namun hal itu mereka tolak.
Namun, pada 1752-1753 RM Said dan Mangkubumi mengalami perpecahan, bahkan berperang satu sama lain. Hal ini tentu menguntungkan pihak VOC. Hingga akhirnya, pada 13 Februari 1755 diadakan Perjanjian Giyanti, di mana VOC menyetujui permintaan Mangkubumi untuk membagi Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh Pakubuwana III dan Kasultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
RM Said pun ditinggalkan tanpa memiliki sekutu. Merasa haknya belum terpenuhi, ia pun semakin gencar melakukan perlawanan terhadap Pakubuwana III, Hamengku Buwono I, dan VOC. Namun RM Said terus melakukan perlawanan hingg VOC dan sekutunya kewalahan.
Diceritakan, RM Said memimpin pasukan melawan tiga kekuatan sekaligus; VOC, Pakubuwana III, dan Hamengkubuwana I. Dia pun mendapat julukan Pangeran Sambernyawa karena dalam setiap peperangan selalu membawa kematian bagi musuh- musuhnya. Semboyannya yang paling dikenal adalah tiji tibèh, kependekan dari mati siji, mati kabèh yang artinya gugur satu, gugur semua dan mukti siji, mukti kabèh yang artinya sejahtera satu, sejahtera semua.
Lihat Juga :