Cuaca Buruk dan Kampanye Negatif, Ancam Petani Tembakau
Selasa, 28 Juni 2022 - 17:11 WIB
loading...
Awali masa tanam raya, petani tembakau harus menghadapi banyak tantangan. (Ist)
A
A
A
PAMEKASAN - Awali masa tanam raya, petani tembakau harus menghadapi banyak tantangan. Selain akibat cuaca buruk yang mengundur waktu tanam, tekanan-tekanan kuat kian menyudutkan komoditas tembakau.
Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN-APTI) Soeseno menjelaskan, saat ini komoditas tembakau tak hanya diterjang isu kesehatan melainkan juga isu lingkungan.
“Apalagi sejumlah regulasi baik di tingkatan nasional dan regional juga memiliki dampak negatif kepada petani tembakau di sisi hulu ekosistem pertembakauan,” ungkapnya saat menghadiri tanam raya tembakau di Desa Samatan, Kecamatan Proppo, Pamekasan pekan lalu.
Padahal menurutnya, tembakau punya kontribusi besar terhadap penerimaan negara. Salah satunya penyerapan kerja. Soeseno bilang saat ini setidaknya terdapat lebih dari enam juta tenaga kerja pada ekosistem industri tembakau yang terdiri atas 2,5 juta petani tembakau, 1,5 juta petani cengkih, 2 juta tenaga di sektor pengolahan hingga industri kreatif dalam ekosistem industri tembakau.
Kampanye negatif yang terus mendesak regulasi ekosistem tembakau yang ketat disebut Soeseno akan berdampak terhadap 6 juta masyarakat yang bekerja di ekosistem tersebut, baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Sebab di beberapa wilayah Indonesia, tembakau telah menjadi bagian dari budaya dan merupakan warisan turun-temurun. Termasuk pengaruh narasi kenaikan cukai tinggi yang pasti akan berpengaruh kepada mata rantai ekosistem tembakau.
Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN-APTI) Soeseno menjelaskan, saat ini komoditas tembakau tak hanya diterjang isu kesehatan melainkan juga isu lingkungan.
“Apalagi sejumlah regulasi baik di tingkatan nasional dan regional juga memiliki dampak negatif kepada petani tembakau di sisi hulu ekosistem pertembakauan,” ungkapnya saat menghadiri tanam raya tembakau di Desa Samatan, Kecamatan Proppo, Pamekasan pekan lalu.
Padahal menurutnya, tembakau punya kontribusi besar terhadap penerimaan negara. Salah satunya penyerapan kerja. Soeseno bilang saat ini setidaknya terdapat lebih dari enam juta tenaga kerja pada ekosistem industri tembakau yang terdiri atas 2,5 juta petani tembakau, 1,5 juta petani cengkih, 2 juta tenaga di sektor pengolahan hingga industri kreatif dalam ekosistem industri tembakau.
Kampanye negatif yang terus mendesak regulasi ekosistem tembakau yang ketat disebut Soeseno akan berdampak terhadap 6 juta masyarakat yang bekerja di ekosistem tersebut, baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Sebab di beberapa wilayah Indonesia, tembakau telah menjadi bagian dari budaya dan merupakan warisan turun-temurun. Termasuk pengaruh narasi kenaikan cukai tinggi yang pasti akan berpengaruh kepada mata rantai ekosistem tembakau.
Lihat Juga :