Kisah Bung Karno, Kekuatan Gaibnya Hilang Setelah Beranjak Dewasa
Senin, 13 Juni 2022 - 17:01 WIB
loading...
A
A
A
Soekarno memandang hal itu sebagai kontradiksi berbagai kekuatan. “Lebih jauh ia menyimpulkannya sebagai munculnya kekuatan baru sebagai hasil logis terhadapa kontradiksi dengan kekuatan lama, sesuatu yang olehnya selalu disebutnya sebagai dialektika,” demikian yang tertulis dalam buku Bob Hering, “Soekarno Bapak Indonesia Merdeka”.
Bung Karno kembali pindah ke Surabaya saat tiba waktunya masuk sekolah menengah. Raden Soekemi mengirimkan putranya kepada H.O.S Tjokroaminoto, sahabat lamanya.
Ia beralasan tak ingin melihat anaknya tumbuh menjadi kebarat-baratan, meskipun juga mendapat pendidikan Belanda. Bung Karno masuk ke sekolah menengah tertinggi di Jawa Timur, yakni Hogere Burger School (HBS) Surabaya.
Di Kota Surabaya, Bung Karno kelak digembleng langsung oleh H.O.S Tjokroaminoto yang merupakan tokoh terpenting Sarikat Islam (SI). Pemikiran politik Bung Karno juga dipengaruhi guru bahasa Jerman di HBS Coos Hartogh yang beraliran kiri moderat, anggota Dewan Kota, serta anggota berpengaruh di ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging).
Sebelum berangkat naik kereta api menuju Surabaya, di depan rumah Bung Karno diminta ibunya berbaring di atas tanah. Ida Ayu Nyoman Rai lantas melangkahi putranya sebanyak tiga kali, sebagai wujud restu orang tua kepada anak yang telah dilahirkan.
Bung Karno kemudian diminta bangkit dengan posisi menghadap ke arah timur dan diberi pesan. “Jangan sekali-kali kau lupakan anakku, bahwa engkau adalah putera sang fajar,” kata Bung Karno seperti dikutip dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”.
Bung Karno kembali pindah ke Surabaya saat tiba waktunya masuk sekolah menengah. Raden Soekemi mengirimkan putranya kepada H.O.S Tjokroaminoto, sahabat lamanya.
Ia beralasan tak ingin melihat anaknya tumbuh menjadi kebarat-baratan, meskipun juga mendapat pendidikan Belanda. Bung Karno masuk ke sekolah menengah tertinggi di Jawa Timur, yakni Hogere Burger School (HBS) Surabaya.
Di Kota Surabaya, Bung Karno kelak digembleng langsung oleh H.O.S Tjokroaminoto yang merupakan tokoh terpenting Sarikat Islam (SI). Pemikiran politik Bung Karno juga dipengaruhi guru bahasa Jerman di HBS Coos Hartogh yang beraliran kiri moderat, anggota Dewan Kota, serta anggota berpengaruh di ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging).
Sebelum berangkat naik kereta api menuju Surabaya, di depan rumah Bung Karno diminta ibunya berbaring di atas tanah. Ida Ayu Nyoman Rai lantas melangkahi putranya sebanyak tiga kali, sebagai wujud restu orang tua kepada anak yang telah dilahirkan.
Bung Karno kemudian diminta bangkit dengan posisi menghadap ke arah timur dan diberi pesan. “Jangan sekali-kali kau lupakan anakku, bahwa engkau adalah putera sang fajar,” kata Bung Karno seperti dikutip dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”.
(shf)
Lihat Juga :