Sultan Menyapa: Menata Normal-Baru, Menuju Peradaban Baru DIY
Selasa, 23 Juni 2020 - 14:46 WIB
loading...
A
A
A
"Utamanya, harus didasari oleh mutual trust untuk memperoleh mutual-benefits. Diikuti kesadaran dan kesediaan saling-belajar, memahami, menghargai dan berbagi, sebagai pengikat partisipasi, solidaritas dan kolaborasi dalam mewujudkan harmoni kehidupan bersama, " beber tokoh yang saat kecil bernama RM Herjuno Darpito ini.
Untuk itu, dia mengajak semua masyarakat harus siap mengubah mindset dalam mengelola kehidupan bersama. Untuk mewujudkannya memabg diakui tidak mudah. Namun memerlukan pandangan reflektif guna memperkuat fondasi pemahaman penyelenggaraan keistimewan DIY ke depan, berlandaskan nilai-nilai filosofi, core-beliefs, dan nilai-nilai budaya, core-values, yang mengatur hubungan vertikal dan horisontal.
Nilai-nilainya tersebut, dibagi dalam tiga tataran, yaitu (1) Nilai dasar yang bersifat abstrak dan tetap, (2) nilai instrumental yang bersifat kontekstual dengan tuntutan zaman, dan (3) nilai praksis yang terekspresikan dalam kehidupan sehari-hari, cara rakyat mewujudnyatakan nilai-nilai itu.
"Sesungguhnya, pada nilai praksislah ditentukan tegak, atau rapuhnya nilai dasar dan nilai instrumental itu. Implikasinya, nilai-nilai yang abstrak, umum, universal itu perlu ditransformasikan menjadi rumusan yang riil, spesifik, kolektif, bahkan bersifat individual. Artinya, nilai-nilai itu menjadi sifat-sifat dari subjek kelompok dan individu, sehingga menjiwai perilaku dalam lingkungan praksisnya di bidang ketugasan, profesi, dan kehidupan pribadi," ungkapnya.
Beberapa hal tersebut adalah hal susbtansial dan aktual yang harus diwujudkan sebagai fondasi awal sekaligus langkah strategis menuju peradaban baru DIY, yang juga harus dipahami oleh setiap warga Yogyakarta. "Akhirnya, jangan lagi dikembalikan pada perdebatan makna nilai-nilai ideal yang di era baru ini tidak mengakar. Semoga demikianlah adanya," pungkasnya.
Untuk itu, dia mengajak semua masyarakat harus siap mengubah mindset dalam mengelola kehidupan bersama. Untuk mewujudkannya memabg diakui tidak mudah. Namun memerlukan pandangan reflektif guna memperkuat fondasi pemahaman penyelenggaraan keistimewan DIY ke depan, berlandaskan nilai-nilai filosofi, core-beliefs, dan nilai-nilai budaya, core-values, yang mengatur hubungan vertikal dan horisontal.
Nilai-nilainya tersebut, dibagi dalam tiga tataran, yaitu (1) Nilai dasar yang bersifat abstrak dan tetap, (2) nilai instrumental yang bersifat kontekstual dengan tuntutan zaman, dan (3) nilai praksis yang terekspresikan dalam kehidupan sehari-hari, cara rakyat mewujudnyatakan nilai-nilai itu.
"Sesungguhnya, pada nilai praksislah ditentukan tegak, atau rapuhnya nilai dasar dan nilai instrumental itu. Implikasinya, nilai-nilai yang abstrak, umum, universal itu perlu ditransformasikan menjadi rumusan yang riil, spesifik, kolektif, bahkan bersifat individual. Artinya, nilai-nilai itu menjadi sifat-sifat dari subjek kelompok dan individu, sehingga menjiwai perilaku dalam lingkungan praksisnya di bidang ketugasan, profesi, dan kehidupan pribadi," ungkapnya.
Beberapa hal tersebut adalah hal susbtansial dan aktual yang harus diwujudkan sebagai fondasi awal sekaligus langkah strategis menuju peradaban baru DIY, yang juga harus dipahami oleh setiap warga Yogyakarta. "Akhirnya, jangan lagi dikembalikan pada perdebatan makna nilai-nilai ideal yang di era baru ini tidak mengakar. Semoga demikianlah adanya," pungkasnya.
(nun)
Lihat Juga :