Laksamana Muda John Lie, Si 'Hantu' Selat Malaka yang Selalu Lolos dari Kepungan Belanda
Selasa, 17 Mei 2022 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Lolos dari situ, "The Outlaw" kemudian memutuskan kembali ke Penang. Saat itu, satu baling-baling mesinnya copot sehingga dipastikan sulit untuk melarikan diri jika dikejar Belanda.
Dan benar, saat subuh, tinggal sedikit lagi memasuki Selat Malaka, "The Outlaw" berpapasan dengan kapal tanker milik Belanda. Nakhoda kapal tangker itu kemudian menghubungi armada militer Belanda. Dalam waktu singkat, kapal patroli Belanda kembali mengadang "The Outlaw".
Tembakan meriam memecah kesunyian di pagi-pagi buta. Sadar jarak ke Penang masih jauh, John Lie dan awak hanya bisa pasrah dan berserah pada Tuhan. Kali ini, "The Outlaw" kembali mendapat keajaiban.
Cuaca di selat maut di pagi itu tiba-tiba berubah. Hujan tumpah dari langit sangat deras disertai kabut yang menyelimuti permukaan laut. Gelombang laut tiba-tiba berkecamuk. Ini membuat kapal Belanda tidak bisa melihat, sehingga "The Outlaw" kembali lolos dari perangkap.
Pada 30 September 1949, John Lie dipindahkan ke Bangkok. Ia mendapat tugas baru di Pos Hubungan Luar Negeri. Meski tidak lagi menahkodai kapal, namun tugasnya di darat sama, yaitu menyiapkan pasokan senjata untuk para pejuang kemerdekaan.
"The Outlaw" kemudian dipimpin Kapten Laut Kusno. Disebutkan, dalam pelayaran pertama yang dipimpin Kusno, "The Outlaw" berhasil ditangkap armada Belanda. Seluruh isinya disita musuh.
Apa yang membuat John Lie selalu lolos dari kepungan Belanda? Menurut pengakuannya, semua itu karena campur tangan Tuhan. Sebab, sebuah kapal yang sudah jadi target dan dikepung di Selat Malaka, sulit lolos. Peristiwa lolos dari kepungan musuh sesuatu yang di luar nalar, bukan karena kehebatan manusia, tapi kuasa Tuhan.
Menurut Kepala Subdinas Sejarah Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Kolonel Syarif Thoyib, John Lie memiliki koneksi yang baik dengan orang-orang di pelabuhan Singapura, Thailand, bahkan hingga Afrika. Tidak heran jika operasi penyelundupan senjata selalu berjalan sukses.
Pada 27 Agustus 1988, John Lie meninggal dunia. Atas perjuangannya mempertahankan kemerdekaan, pada 9 November 2009 John Lie dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Tidak hanya itu, untuk menghormatinya, pada awal Januari 2017, nama Jon Lie diabadikan pada Kapal Perang Indonesia, yaitu KRI John Lie. Dia, seorang warga keturunan Tionghoa yang mendapat pangkat tertinggi di Angakatan Laut, yaitu Laksamana Muda.
Dan benar, saat subuh, tinggal sedikit lagi memasuki Selat Malaka, "The Outlaw" berpapasan dengan kapal tanker milik Belanda. Nakhoda kapal tangker itu kemudian menghubungi armada militer Belanda. Dalam waktu singkat, kapal patroli Belanda kembali mengadang "The Outlaw".
Tembakan meriam memecah kesunyian di pagi-pagi buta. Sadar jarak ke Penang masih jauh, John Lie dan awak hanya bisa pasrah dan berserah pada Tuhan. Kali ini, "The Outlaw" kembali mendapat keajaiban.
Cuaca di selat maut di pagi itu tiba-tiba berubah. Hujan tumpah dari langit sangat deras disertai kabut yang menyelimuti permukaan laut. Gelombang laut tiba-tiba berkecamuk. Ini membuat kapal Belanda tidak bisa melihat, sehingga "The Outlaw" kembali lolos dari perangkap.
Pada 30 September 1949, John Lie dipindahkan ke Bangkok. Ia mendapat tugas baru di Pos Hubungan Luar Negeri. Meski tidak lagi menahkodai kapal, namun tugasnya di darat sama, yaitu menyiapkan pasokan senjata untuk para pejuang kemerdekaan.
"The Outlaw" kemudian dipimpin Kapten Laut Kusno. Disebutkan, dalam pelayaran pertama yang dipimpin Kusno, "The Outlaw" berhasil ditangkap armada Belanda. Seluruh isinya disita musuh.
Apa yang membuat John Lie selalu lolos dari kepungan Belanda? Menurut pengakuannya, semua itu karena campur tangan Tuhan. Sebab, sebuah kapal yang sudah jadi target dan dikepung di Selat Malaka, sulit lolos. Peristiwa lolos dari kepungan musuh sesuatu yang di luar nalar, bukan karena kehebatan manusia, tapi kuasa Tuhan.
Menurut Kepala Subdinas Sejarah Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Kolonel Syarif Thoyib, John Lie memiliki koneksi yang baik dengan orang-orang di pelabuhan Singapura, Thailand, bahkan hingga Afrika. Tidak heran jika operasi penyelundupan senjata selalu berjalan sukses.
Pada 27 Agustus 1988, John Lie meninggal dunia. Atas perjuangannya mempertahankan kemerdekaan, pada 9 November 2009 John Lie dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Tidak hanya itu, untuk menghormatinya, pada awal Januari 2017, nama Jon Lie diabadikan pada Kapal Perang Indonesia, yaitu KRI John Lie. Dia, seorang warga keturunan Tionghoa yang mendapat pangkat tertinggi di Angakatan Laut, yaitu Laksamana Muda.
(don)
Lihat Juga :