Kisah Teungku Fakinah, Ulama Perempuan dan Panglima Perang Paling Ditakuti Belanda
Kamis, 12 Mei 2022 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Baca: Kiai Bisri Syansuri Pelopor Pendidikan Santriwati di Indonesia
Lagi-lagi, Fakinah dan pasukannya harus kembali mundur mencari benteng pertahanan baru. Hingga sampai lah mereka di Tangse. Sambil terus berjuang, Fakinah juga menyusun kembali dayah dan mengajarkan pendidikan agama Islam.
Baru pada 1911, Fakinah akhirnya turun gunung meninggalkan medan pertempuran menuju kampungnya Lam Krak.
Sekembalinya di Lam Krak, Fakinah terlebih dahulu membangun kembali pondok pesantrennya yang hancur akibat perang. Dalam waktu singkat, dayah Lamdiran berkembang menjadi pusat pendidikan Islam terbesar di Aceh.
Baca: Kisah Cinta Sultan Mahmud Syah III Hadiahkan Emas Kawin Pulau Penyengat
Tidak hanya itu, dia juga memimpin masyarakatnya untuk memperbaiki dan membangun kembali kampung-kampung yang hancur akibat perang. Dia lalu membangun jalan yang cukup panjang yang kini dikenal Jalan Teungku Faki.
Dua tahun sepeninggal sang suami, Teungku Fakinah menikah lagi dengan Teuku Nyak Badai. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari fitnah, karena dia satu-satunya panglima perang wanita yang sering bertemu pemimpin pria.
Pada 1915, Fakinah bersama suaminya pergi ke Tanah Suci Makkah. Di sana, mereka kembali belajar mengaji dengan para ulama besar di Makkah dan Madinah. Mereka juga banyak bertemu dengan para pemimpin Muslim.
Akan tetapi, pada 1918, Teuku Nyak Badai meninggal dunia di Makkah. Teungku Fakinah akhirnya kembali ke Aceh dan memimpin pondok pesantrennya dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.
Teuku Fakinah wafat pada 8 Ramadhan 1359 H/1939 M. Dia menghembuskan napas terakhir di rumahnya, Kampung Beuha Mukim Lam Krak, dalam usia 82 tahun. Jenazahnya diantarkan ribuan orang ke pemakaman.
Sumber tulisan:
1. Amatullah Shafiyyah, Seorang Ibu Sebuah Dunia Berjuta Cinta, Gema Insani Press, 2002.
2. Peranan Wanita Indonesia di Masa Perang Kemerdekaan 1945-1950, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1985.
3. Husein Muhammad, Perempuan Ulama di Atas Panggung Sejarah, IRCiSoD, 2020.
Lagi-lagi, Fakinah dan pasukannya harus kembali mundur mencari benteng pertahanan baru. Hingga sampai lah mereka di Tangse. Sambil terus berjuang, Fakinah juga menyusun kembali dayah dan mengajarkan pendidikan agama Islam.
Baru pada 1911, Fakinah akhirnya turun gunung meninggalkan medan pertempuran menuju kampungnya Lam Krak.
Sekembalinya di Lam Krak, Fakinah terlebih dahulu membangun kembali pondok pesantrennya yang hancur akibat perang. Dalam waktu singkat, dayah Lamdiran berkembang menjadi pusat pendidikan Islam terbesar di Aceh.
Baca: Kisah Cinta Sultan Mahmud Syah III Hadiahkan Emas Kawin Pulau Penyengat
Tidak hanya itu, dia juga memimpin masyarakatnya untuk memperbaiki dan membangun kembali kampung-kampung yang hancur akibat perang. Dia lalu membangun jalan yang cukup panjang yang kini dikenal Jalan Teungku Faki.
Dua tahun sepeninggal sang suami, Teungku Fakinah menikah lagi dengan Teuku Nyak Badai. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari fitnah, karena dia satu-satunya panglima perang wanita yang sering bertemu pemimpin pria.
Pada 1915, Fakinah bersama suaminya pergi ke Tanah Suci Makkah. Di sana, mereka kembali belajar mengaji dengan para ulama besar di Makkah dan Madinah. Mereka juga banyak bertemu dengan para pemimpin Muslim.
Akan tetapi, pada 1918, Teuku Nyak Badai meninggal dunia di Makkah. Teungku Fakinah akhirnya kembali ke Aceh dan memimpin pondok pesantrennya dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.
Teuku Fakinah wafat pada 8 Ramadhan 1359 H/1939 M. Dia menghembuskan napas terakhir di rumahnya, Kampung Beuha Mukim Lam Krak, dalam usia 82 tahun. Jenazahnya diantarkan ribuan orang ke pemakaman.
Sumber tulisan:
1. Amatullah Shafiyyah, Seorang Ibu Sebuah Dunia Berjuta Cinta, Gema Insani Press, 2002.
2. Peranan Wanita Indonesia di Masa Perang Kemerdekaan 1945-1950, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1985.
3. Husein Muhammad, Perempuan Ulama di Atas Panggung Sejarah, IRCiSoD, 2020.
(san)
Lihat Juga :