Survei MC Matrix: Dedi Mulyadi dan Susi Pudjiastuti Penantang Potensial untuk Ridwan Kamil
Kamis, 14 April 2022 - 07:31 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, angka elektabilitas terbilang lumayan untuk disebut sebagai calon penantang. Sedangkan untuk Susi, angka elektabilitas yang dia peroleh itu dapat terbilang tinggi. "Jadi diibaratkan, Susi dapat angkat tersebut saat dia tidur. Alias tidak running untuk untuk kontestasi elektoral Jabar," tegasnya.
"Bayangkan, jika Susi serius dan bangun untuk menggarap jalur elektoral. Angkanya bisa saja makin tinggi. Susi bisa disebut Kuda Hitam. Beda dengan Dedi Mulyadi. Yang sudah dapat dibaca oleh publik ada kepentingan elektoral. Entah menjaga peluang untuk urusan Pilgub Jawa Barat atau menjaga suara di dapil dia berasal," imbuhnya.
Dalam survei Pilgub Jabar yang dilakukan MC Matrix, angka elektabilitas atau tingkat keterpilhan, Ridwan Kamil mencapai 42.05 persen. Dedi Mulyadi 12.73 persen. Susi Pudjiastuti 4.55 persen. Bima Arya Sugiarto 2.05 persen. Dede Yusuf 1.14 persen. Dessy Ratnasari 0.91 persen.
Tingginya angka elektabilitas Ridwan Kamil ini sejalan dengan dengan tingkat kepuasan publik Jabar. Secara umum,70.68 persen publik menilai perkembangan Jabar, selama hampir lima tahun di bawah kepimpinan Ridwan Kamil, semakin baik. Sedangkan terhadap kinerja pemerintah Jabar, saat ini tingkat kepuasan mencapai 65.45 persen.
Baca juga: Hilang usai Jalan dengan Pacar Mahasiswa Kedokteran Universitas Brawijaya Dibunuh Pakai Benda Tumpul
Sayangnya, angka tingkat kepuasan itu tidak terdistribusi atau tidak mampu dikapitalisasi oleh UU. Ini dapat dilihat dari gap antara angka elektabilitas di antara petahana Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini, RK dan UU. Angka RK mencapai 42.05 persen. Sedangkan UU, 0.68 persen. Kendati demikian, bukan berarti bahwa RK dapat dengan mulus untuk memenangkan Pilgub Jawa Barat.
Alasannya, saat ini RK tidak memiliki partai. Sebaliknya, UU adalah kader partai dan sudah menggenggam separuh tiket dukungan dari partai dia berasal. "Ini berangkat dari studi kasus inkumben di sebuah kabuapten di Maluku Utara. Di mana pada Pilkada 2020, dia tidak mendapatkan tiket. Padahal angkanya elektabiltas tembus hingga 40 persen. Dalam kasus seperti ini Ridwan Kamil harus hati-hati. Mengingat ada fatsun di politik bahwa, kandidat terkuat potensial akan menjadi musuh bersama bagi kompetitor lainnya. dan itu dimulai saat musim berburu tiket," terangnya.
"Bayangkan, jika Susi serius dan bangun untuk menggarap jalur elektoral. Angkanya bisa saja makin tinggi. Susi bisa disebut Kuda Hitam. Beda dengan Dedi Mulyadi. Yang sudah dapat dibaca oleh publik ada kepentingan elektoral. Entah menjaga peluang untuk urusan Pilgub Jawa Barat atau menjaga suara di dapil dia berasal," imbuhnya.
Dalam survei Pilgub Jabar yang dilakukan MC Matrix, angka elektabilitas atau tingkat keterpilhan, Ridwan Kamil mencapai 42.05 persen. Dedi Mulyadi 12.73 persen. Susi Pudjiastuti 4.55 persen. Bima Arya Sugiarto 2.05 persen. Dede Yusuf 1.14 persen. Dessy Ratnasari 0.91 persen.
Tingginya angka elektabilitas Ridwan Kamil ini sejalan dengan dengan tingkat kepuasan publik Jabar. Secara umum,70.68 persen publik menilai perkembangan Jabar, selama hampir lima tahun di bawah kepimpinan Ridwan Kamil, semakin baik. Sedangkan terhadap kinerja pemerintah Jabar, saat ini tingkat kepuasan mencapai 65.45 persen.
Baca juga: Hilang usai Jalan dengan Pacar Mahasiswa Kedokteran Universitas Brawijaya Dibunuh Pakai Benda Tumpul
Sayangnya, angka tingkat kepuasan itu tidak terdistribusi atau tidak mampu dikapitalisasi oleh UU. Ini dapat dilihat dari gap antara angka elektabilitas di antara petahana Gubernur dan Wakil Gubernur saat ini, RK dan UU. Angka RK mencapai 42.05 persen. Sedangkan UU, 0.68 persen. Kendati demikian, bukan berarti bahwa RK dapat dengan mulus untuk memenangkan Pilgub Jawa Barat.
Alasannya, saat ini RK tidak memiliki partai. Sebaliknya, UU adalah kader partai dan sudah menggenggam separuh tiket dukungan dari partai dia berasal. "Ini berangkat dari studi kasus inkumben di sebuah kabuapten di Maluku Utara. Di mana pada Pilkada 2020, dia tidak mendapatkan tiket. Padahal angkanya elektabiltas tembus hingga 40 persen. Dalam kasus seperti ini Ridwan Kamil harus hati-hati. Mengingat ada fatsun di politik bahwa, kandidat terkuat potensial akan menjadi musuh bersama bagi kompetitor lainnya. dan itu dimulai saat musim berburu tiket," terangnya.
Lihat Juga :