Jenderal Sudirman, Panglima Besar yang Pimpin Perang Gerilya dengan 1 Paru-paru
Kamis, 14 April 2022 - 05:04 WIB
loading...
A
A
A
Selagi menunggu keputusan pemerintah, Pak Dirman menyusun perintah untuk seluruh anggota Angkatan Perangnya. Perintah itu disiarkan juga melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta. Perintah itu berbunyi, “Semua Angkatan Perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda”.
Saat itu pemerintah akhirnya mengeluarkan perintah agar tetap tinggal di dalam kota dan Presiden Soekarno juga meminta agar Jenderal Soedirman tetap tinggal di dalam kota. Baca juga: Mengenang Palagan Ambarawa, Pertempuran yang Menginspirasi TNI AD
Namun, Sudirman memberikan jawaban di luar dugaannya. Panglima Besar menjawab, “Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah dan saya akan meneruskan perjuangan gerilya dengan sekuat tenaga seluruh prajurit.”
Setelah memberikan jawaban kepada Soekarno, Pak Dirman langsung meninggalkan Yogyakarta dan memulai perjalanan gerilya yang berlangsung selama kurang lebih tujuh bulan. Selama perang gerilya, pria kelahiran 24 Januari 1916 itu menghadapi berbagai tantangan seperti sulitnya memperoleh obat-obatan.
Kendati digerogoti sakit paru-paru, semangat juangnya melawan penjajah tetap menyala. Pak Dirman berkeras hati untuk memimpin pasukannya dalam Perang Kemerdekaan jilid 2 (1948-1949). Para prajuritnya yang juga militan siap membawanya dalam tandu, keluar masuk belukar demi menghindari perburuan serdadu-serdadu Belanda yang bersenjata lengkap dan lebih terlatih.
Saat itu pemerintah akhirnya mengeluarkan perintah agar tetap tinggal di dalam kota dan Presiden Soekarno juga meminta agar Jenderal Soedirman tetap tinggal di dalam kota. Baca juga: Mengenang Palagan Ambarawa, Pertempuran yang Menginspirasi TNI AD
Namun, Sudirman memberikan jawaban di luar dugaannya. Panglima Besar menjawab, “Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah dan saya akan meneruskan perjuangan gerilya dengan sekuat tenaga seluruh prajurit.”
Setelah memberikan jawaban kepada Soekarno, Pak Dirman langsung meninggalkan Yogyakarta dan memulai perjalanan gerilya yang berlangsung selama kurang lebih tujuh bulan. Selama perang gerilya, pria kelahiran 24 Januari 1916 itu menghadapi berbagai tantangan seperti sulitnya memperoleh obat-obatan.
Kendati digerogoti sakit paru-paru, semangat juangnya melawan penjajah tetap menyala. Pak Dirman berkeras hati untuk memimpin pasukannya dalam Perang Kemerdekaan jilid 2 (1948-1949). Para prajuritnya yang juga militan siap membawanya dalam tandu, keluar masuk belukar demi menghindari perburuan serdadu-serdadu Belanda yang bersenjata lengkap dan lebih terlatih.
Lihat Juga :