FKPT DIY Ajak Masyarakat Waspada Bahaya Radikalisme di Masa Pandemi Corona
Rabu, 17 Juni 2020 - 06:32 WIB
loading...
Ketua FKPT DIY Prof Mukhtasar Syamsuddin saat membawakan materi dalam Webinar yang digelar FKPT DIY. Foto/Tangkapan Layar
A
A
A
YOGYAKARTA - Dalam masa pandemi, selain terhadap penyebaran virus Corona, masyarakat juga diajak tetap mewaspadai bahaya virus radikalisme dan terorisme. Dalam situasi semacam ini, paham tersebut dikawatirkan justru terus tumbuh dan berkembang.
“Masyarakat sedang tidak fokus. Perhatiannya sedang pada sitausi pandemi Corona. Nah, dalam situasi semacam ini, paham radikalisme akan mudah sekali masuk ke masyarakat,” kata Ketua FKPT DIY Prof Mukhtasar Syamsuddin, keynote speaker(pembicara kunci) dalam webinar "Pencegahan Keluarga dari Radikalisme dan Terorisme di Masa New Normal" yang digelar FKPT DIY, Selasa (16/6/2020) sore.
Mantan dekan Fakultas Filsafat UGM ini juga mengingatkan tentang bahaya indoktrinasi melalui online. Di masa pandemi ini justru banyak masyarakat yang melakukan aktivitasnya di rumah dengan mengandalkan internet. “Ini harus kita waspadai bersama,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Filsafat UGM itu menyebut kelompok radikal saat ini mulai merebut pangsa pasar influencer (kelompok berpengaruh). Melalui berbagai aplikasi online, mereka mulai menyasar profesional, birokrat, pengusaha sektor stratgesi, da’i populer di media, artis, tenaga pendidik, mahasiswa, hingga TNI/Polri.
Mukhtasar mencontohkan beberapa kasus terorismes eperti Bom di Polresta Surabaya, kasus penusukan terhadap mantan Menko Polhukam Wiranto dan lain sebagainya. Para pelaku mempelajari paham radikalisme diantaranya melalui telegram WhatsApp,instagram dan lain sebagainya. Ini harus kita waspadai bersama,” tutur Mukhtasar.
Sementara itu, Penyuluh Hukum Kanwil Kemenkumham DIY Tri Ari Astuti SAg MHum yang juga menjadi narasumber dalam webinar tersebut mengatakan, keluarga adalah garda terdepan dalam memerangi bahaya radikalisme dan terorisme. “Ibu-ibu biasanya peka jika ada sesuatu yang terjadi di rumah. Kita harus mulai berpartisipasi dalam pencegahan (radikalisme terorisme) mulai dari keluarga,” ungkap Ari.
Ari menyebut di masa pandemi Corona semacam ini, bahaya radikalisme juga tak boleh dipandang enteng. Para pelaku radikalisme melakukan perekrutan di mana saja. Pola perekrutan bisa dilakukan diberbagai tempat, mulai tempat ibadah, institusi pendidikan umum, institusi pendidikan agama, kekerabatan, dan persahabatan, hingga media internet.
“Masyarakat sedang tidak fokus. Perhatiannya sedang pada sitausi pandemi Corona. Nah, dalam situasi semacam ini, paham radikalisme akan mudah sekali masuk ke masyarakat,” kata Ketua FKPT DIY Prof Mukhtasar Syamsuddin, keynote speaker(pembicara kunci) dalam webinar "Pencegahan Keluarga dari Radikalisme dan Terorisme di Masa New Normal" yang digelar FKPT DIY, Selasa (16/6/2020) sore.
Mantan dekan Fakultas Filsafat UGM ini juga mengingatkan tentang bahaya indoktrinasi melalui online. Di masa pandemi ini justru banyak masyarakat yang melakukan aktivitasnya di rumah dengan mengandalkan internet. “Ini harus kita waspadai bersama,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Filsafat UGM itu menyebut kelompok radikal saat ini mulai merebut pangsa pasar influencer (kelompok berpengaruh). Melalui berbagai aplikasi online, mereka mulai menyasar profesional, birokrat, pengusaha sektor stratgesi, da’i populer di media, artis, tenaga pendidik, mahasiswa, hingga TNI/Polri.
Mukhtasar mencontohkan beberapa kasus terorismes eperti Bom di Polresta Surabaya, kasus penusukan terhadap mantan Menko Polhukam Wiranto dan lain sebagainya. Para pelaku mempelajari paham radikalisme diantaranya melalui telegram WhatsApp,instagram dan lain sebagainya. Ini harus kita waspadai bersama,” tutur Mukhtasar.
Sementara itu, Penyuluh Hukum Kanwil Kemenkumham DIY Tri Ari Astuti SAg MHum yang juga menjadi narasumber dalam webinar tersebut mengatakan, keluarga adalah garda terdepan dalam memerangi bahaya radikalisme dan terorisme. “Ibu-ibu biasanya peka jika ada sesuatu yang terjadi di rumah. Kita harus mulai berpartisipasi dalam pencegahan (radikalisme terorisme) mulai dari keluarga,” ungkap Ari.
Ari menyebut di masa pandemi Corona semacam ini, bahaya radikalisme juga tak boleh dipandang enteng. Para pelaku radikalisme melakukan perekrutan di mana saja. Pola perekrutan bisa dilakukan diberbagai tempat, mulai tempat ibadah, institusi pendidikan umum, institusi pendidikan agama, kekerabatan, dan persahabatan, hingga media internet.
Lihat Juga :