Kisah Kiai As'ad yang Melatih Pasukan Khusus Ikut Bertempur pada 10 November 1945
Minggu, 13 Maret 2022 - 05:04 WIB
loading...
A
A
A
Saat hendak mengumpulkan massa itu, ada persoalan terkait siapa yang bakal ikut berjihad, para Kiai atau santri. Kalau memilih kiai atau ulama untuk berperang, siapa yang akan mengurusi pendidikan agama, khususnya di pesantren? Baca juga: Kiai Dibacok saat Khusyuk Berzikir, Pelaku Mengaku Terganggu karena Beda Paham
Lalu, kalau santri yang terlibat, siapa yang akan meneruskan dakwah Islam di masyarakat nantinya jika banyak santri yang gugur. Kemudian, kalau wali santri, siapa yang akan membiayai santri dalam menuntut ilmu agama? Maka pilihannya bukan pada ketiga pribadi itu. Pilihannya untuk ikut berperang adalah pada penjahat.
"Rasa-rasanya, inilah pilihan yang paling pas. Bukankah mereka (penjahat) memiliki modal keberanian? Lagi pula kalau mereka nantinya mati, berarti mengurangi jumlah orang jahat. Syukur-syukur kalau mereka nantinya insyaf," tulis Samsul A Hasan dalam bukunya bertajuk Kisah Tiga Kiai Mengelola Bekas Bajingan; Sang Pelopor.
Setelah memberikan arahan kepada para ulama di Madura agar mencari para preman dan penjahat, Kiai As'ad kembali ke pesantrennya di Sukorejo. Selanjutnya, Kiai As'ad kemudian menghubungi beberapa anggota Pelopor (Palopor), pasukan inti gerilya yang dibina oleh Kiai As'ad.
Di pasukan Pelopor yang legendaris ini para bandit bergabung. Untuk memberi latihan fisik dan rohani, Kiai As'ad mempercayakan tugas itu kepada Mabruk dan Abdus Shomad. Tidak hanya latihan fisik, mereka juga diberi amalan atau ijazah dzikir agar mereka selamat dari serangan musuh, yang di lingkungan budaya Madura dikenal sebagai "jaza".
KH Syamsul Arifin, abah dari Kiai As'ad, juga ikut memberikan sentuhan spiritual "jaza" kepada para bandit itu. Mereka juga diajari ilmu menghilang yang biasa digunakan oleh anggota Pelopor untuk mencuri senjata di gudang pasukan musuh.
Pelatihan pasukan khusus Pelopor ini ternyata tidak sia-sia. Saat pasukan sekutu kembali dan mau mendarat di Surabaya, pada 10 November 1945, perang tak terhindarkan. Pasukan Pelopor yang terdiri dari para bandit yang sudah insaf itu ikut ambil bagian, khususnya di wilayah Tanjung Perak, Jembatan Merah dan di wilayah Wonokromo, Surabaya.
Lalu, kalau santri yang terlibat, siapa yang akan meneruskan dakwah Islam di masyarakat nantinya jika banyak santri yang gugur. Kemudian, kalau wali santri, siapa yang akan membiayai santri dalam menuntut ilmu agama? Maka pilihannya bukan pada ketiga pribadi itu. Pilihannya untuk ikut berperang adalah pada penjahat.
"Rasa-rasanya, inilah pilihan yang paling pas. Bukankah mereka (penjahat) memiliki modal keberanian? Lagi pula kalau mereka nantinya mati, berarti mengurangi jumlah orang jahat. Syukur-syukur kalau mereka nantinya insyaf," tulis Samsul A Hasan dalam bukunya bertajuk Kisah Tiga Kiai Mengelola Bekas Bajingan; Sang Pelopor.
Setelah memberikan arahan kepada para ulama di Madura agar mencari para preman dan penjahat, Kiai As'ad kembali ke pesantrennya di Sukorejo. Selanjutnya, Kiai As'ad kemudian menghubungi beberapa anggota Pelopor (Palopor), pasukan inti gerilya yang dibina oleh Kiai As'ad.
Di pasukan Pelopor yang legendaris ini para bandit bergabung. Untuk memberi latihan fisik dan rohani, Kiai As'ad mempercayakan tugas itu kepada Mabruk dan Abdus Shomad. Tidak hanya latihan fisik, mereka juga diberi amalan atau ijazah dzikir agar mereka selamat dari serangan musuh, yang di lingkungan budaya Madura dikenal sebagai "jaza".
KH Syamsul Arifin, abah dari Kiai As'ad, juga ikut memberikan sentuhan spiritual "jaza" kepada para bandit itu. Mereka juga diajari ilmu menghilang yang biasa digunakan oleh anggota Pelopor untuk mencuri senjata di gudang pasukan musuh.
Pelatihan pasukan khusus Pelopor ini ternyata tidak sia-sia. Saat pasukan sekutu kembali dan mau mendarat di Surabaya, pada 10 November 1945, perang tak terhindarkan. Pasukan Pelopor yang terdiri dari para bandit yang sudah insaf itu ikut ambil bagian, khususnya di wilayah Tanjung Perak, Jembatan Merah dan di wilayah Wonokromo, Surabaya.
Lihat Juga :