Siasat Tribhuana Tunggadewi Menumpas Pemberontakan Sadeng dan Keta
Jum'at, 11 Februari 2022 - 05:12 WIB
loading...
A
A
A
Kendati marah, Gajah Mada masih mampu memendamnya karena ada masalah lebih besar yang harus diselesaikan. Gajah Mada segera memerintahkan pasukan Majapahit segera ke Sadeng. Ada juga yang versi lain yang menyebutkan, pemimpin Sadeng bernama Tuhan Waruyu dan Pangeran Pamelekehen mempunyai cemeti sakti hingga pasukan Majapahit enggan menghadapinya.
Hingga akhirnya, Ratu Tribhuwanatunggadewi turun gelanggang menumpas pemberontakan. Setelah itu, Gajah Mada diangkat Amangkubumi menggantikan Arya Tadah. Sedangkan Ra Kembar diangkat menjadi koordinator kekuatan bersenjata pemukul musuh. Setelah menjadi patih atau Amangkubumi Majapahit, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang amat terkenal yakni, Sumpah Palapa di Balairung Istana Majapahit di hadapan pembesar Majapahit.
Dalam buku Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (2005) karya Slamet Muljana, Sumpah Amukti Palapa mengantarkan Kerajaan Majapahit ke gerbang kejayaan. Dalam sejarah disebutkan wilayah kekuasaan Majapahit, tercatat dalam Nagarakretagama, meliputi Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Indonesia bagian timur, termasuk Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga sebagian Maluku.
Dalam Pararaton disebutkan Tribhuana Tunggadewi menjadi panglima perang untuk menumpas pemberontakan Sandeng dan Keta di tengah persaingan patih Gajah Mada dan Ra Kembar. Tribhuana Tunggadewi menjadi panglima didampingi Adityawarman, sepupunya. Sedangkan dalam Nagarakretagama diceritakan, pemberontakan Sadeng dan Keta pecah sebagai aksi balas dendam atas kematian patih pertama Majapahit, Nambi pada 1316.
Baca Juga: Kisah Perang Saudara Kerajaan Majapahit, Kepala Bhre Wirabhumi Dipenggal oleh Prajurit Raja Suhita
Sadeng, Keta, dan Lamajang merupakan daerah taklukkan Kerajaan Majapahit yang merupakan daerah pelabuhan terhubung lewat jalur-jalur sungai. Ketiga daerah itu menjadi bandar dagang sekaligus pemasok stok pangan untuk Majapahit. M. Nasruddin Anshoriy Ch & Dri Arbaningsih Soeleiman dalam Negara Maritim Nusantara: Jejak Sejarah yang Terhapus (2008) menuliskan Sadeng terletak di sebelah selatan Probolinggo. Ada pula yang meyakini bahwa Sadeng kini termasuk wilayah Jember.
Pemberontakan Sadeng dan Keta menjadi ujian besar bagi pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi. Keta, seperti yang disebutkan dalam Sejarah Birokrasi Pemerintahan Indonesia Dahulu dan Sekarang (1989) hasil karya P.J. Suwarno, berada di sekitar Besuki atau wilayah Situbondo di pesisir utara Jawa Timur.
Hingga akhirnya Tribhuwana Tunggadewi memutuskan turun takhta pada 1350. Keputusan tersebut diambil seiring wafatnya Gayatri. Hayam Wuruk kemudian naik takhta menggantikan ibunya untuk melanjutkan misi menyatukan Nusantara.
Hingga akhirnya, Ratu Tribhuwanatunggadewi turun gelanggang menumpas pemberontakan. Setelah itu, Gajah Mada diangkat Amangkubumi menggantikan Arya Tadah. Sedangkan Ra Kembar diangkat menjadi koordinator kekuatan bersenjata pemukul musuh. Setelah menjadi patih atau Amangkubumi Majapahit, Gajah Mada mengucapkan sumpah yang amat terkenal yakni, Sumpah Palapa di Balairung Istana Majapahit di hadapan pembesar Majapahit.
Dalam buku Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (2005) karya Slamet Muljana, Sumpah Amukti Palapa mengantarkan Kerajaan Majapahit ke gerbang kejayaan. Dalam sejarah disebutkan wilayah kekuasaan Majapahit, tercatat dalam Nagarakretagama, meliputi Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Indonesia bagian timur, termasuk Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga sebagian Maluku.
Dalam Pararaton disebutkan Tribhuana Tunggadewi menjadi panglima perang untuk menumpas pemberontakan Sandeng dan Keta di tengah persaingan patih Gajah Mada dan Ra Kembar. Tribhuana Tunggadewi menjadi panglima didampingi Adityawarman, sepupunya. Sedangkan dalam Nagarakretagama diceritakan, pemberontakan Sadeng dan Keta pecah sebagai aksi balas dendam atas kematian patih pertama Majapahit, Nambi pada 1316.
Baca Juga: Kisah Perang Saudara Kerajaan Majapahit, Kepala Bhre Wirabhumi Dipenggal oleh Prajurit Raja Suhita
Sadeng, Keta, dan Lamajang merupakan daerah taklukkan Kerajaan Majapahit yang merupakan daerah pelabuhan terhubung lewat jalur-jalur sungai. Ketiga daerah itu menjadi bandar dagang sekaligus pemasok stok pangan untuk Majapahit. M. Nasruddin Anshoriy Ch & Dri Arbaningsih Soeleiman dalam Negara Maritim Nusantara: Jejak Sejarah yang Terhapus (2008) menuliskan Sadeng terletak di sebelah selatan Probolinggo. Ada pula yang meyakini bahwa Sadeng kini termasuk wilayah Jember.
Pemberontakan Sadeng dan Keta menjadi ujian besar bagi pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi. Keta, seperti yang disebutkan dalam Sejarah Birokrasi Pemerintahan Indonesia Dahulu dan Sekarang (1989) hasil karya P.J. Suwarno, berada di sekitar Besuki atau wilayah Situbondo di pesisir utara Jawa Timur.
Hingga akhirnya Tribhuwana Tunggadewi memutuskan turun takhta pada 1350. Keputusan tersebut diambil seiring wafatnya Gayatri. Hayam Wuruk kemudian naik takhta menggantikan ibunya untuk melanjutkan misi menyatukan Nusantara.
(aww)
Lihat Juga :