PT Vale Menjaga Iklim, Mewujudkan Ekonomi Hijau
Senin, 06 Desember 2021 - 23:58 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga:Bantu Operasi SAR, PT Vale Kirim Tim Tanggap Darurat ke Semeru
Selain pemerintah negara, di COP26 itu hadir pula pemimpin industri yang berkaitan langsung dengan gerakan mitigasi perubahan iklim ini, salah satunya PT Vale Indonesia Tbk , perusahaan pertambangan yang berpusat di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulsel.
"Saya senang berada di sini, di Glasgow, untuk menghadiri COP-26 UNFCC, mendukung Paviliun Indonesia dan berbagi upaya bersama menuju ekonomi hijau dari perspektif bisnis. Perubahan iklim adalah nyata dan setiap dari kita dapat berkontribusi untuk menciptakan masa depan yang lebih hijau. Bersama," ujar CEO PT Vale Indonesia Tbk, Febriani Eddy.
Febriani menegaskan komitmen pihaknya mengurangi emisi karbon yang jadi solusi mencegah perubahan iklim. Salah satunya dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas sebesar 365 Megawatt (MW). Fasilitasi ini berkontribusi terhadap 36% total energi yang dibutuhkan perusahaan untuk beroperasi. Pengoperasiannya diklaim mampu mengurangi emisi CO2 lebih dari 1 juta ton CO2eq setiap tahun.
Tak hanya itu saja, pada operasional pabrik di Blok Sorowako juga telah menerapkan penggunaan teknologi electric boiler, dan pemanfaatan biodiesel B30. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai target net zero emissions pada 2050.
“Perseroan membuat komitmen publik yang sangat ambisius untuk mengurangi emisi karbon terkait dengan kegiatan penambangan, pengolahan, dan pada akhirnya, penggunaan produk kami. Tujuan kami adalah mengurangi emisi sebesar 30% paling lambat pada 2030 dan menjadi net zero emissions pada 2050. Hal ini sejalan dengan Paris Agreement yang telah ditandatangani Vale pada 2019 silam,” kata Febriany Eddy dalam keterangannya.
Baca juga:PT Vale Lakukan Rebuild Furnace 4 pada Pertengahan Desember 2021
Selain itu, pada pembangunan pabrik baru di area Bahodopi, Sulteng akan menggunakan PLTG atau energi gas bumi. Pabrik tersebut akan menjadi pabrik nikel dengan emisi karbon per ton nikel terendah kedua setelah Sorowako yang menggunakan PLTA. Menyusul kemudian pada proyek Pomalaa, di Sultra juga akan menerapkan operasional rendah karbon emisi.
Selain pemerintah negara, di COP26 itu hadir pula pemimpin industri yang berkaitan langsung dengan gerakan mitigasi perubahan iklim ini, salah satunya PT Vale Indonesia Tbk , perusahaan pertambangan yang berpusat di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulsel.
"Saya senang berada di sini, di Glasgow, untuk menghadiri COP-26 UNFCC, mendukung Paviliun Indonesia dan berbagi upaya bersama menuju ekonomi hijau dari perspektif bisnis. Perubahan iklim adalah nyata dan setiap dari kita dapat berkontribusi untuk menciptakan masa depan yang lebih hijau. Bersama," ujar CEO PT Vale Indonesia Tbk, Febriani Eddy.
Febriani menegaskan komitmen pihaknya mengurangi emisi karbon yang jadi solusi mencegah perubahan iklim. Salah satunya dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas sebesar 365 Megawatt (MW). Fasilitasi ini berkontribusi terhadap 36% total energi yang dibutuhkan perusahaan untuk beroperasi. Pengoperasiannya diklaim mampu mengurangi emisi CO2 lebih dari 1 juta ton CO2eq setiap tahun.
Tak hanya itu saja, pada operasional pabrik di Blok Sorowako juga telah menerapkan penggunaan teknologi electric boiler, dan pemanfaatan biodiesel B30. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai target net zero emissions pada 2050.
“Perseroan membuat komitmen publik yang sangat ambisius untuk mengurangi emisi karbon terkait dengan kegiatan penambangan, pengolahan, dan pada akhirnya, penggunaan produk kami. Tujuan kami adalah mengurangi emisi sebesar 30% paling lambat pada 2030 dan menjadi net zero emissions pada 2050. Hal ini sejalan dengan Paris Agreement yang telah ditandatangani Vale pada 2019 silam,” kata Febriany Eddy dalam keterangannya.
Baca juga:PT Vale Lakukan Rebuild Furnace 4 pada Pertengahan Desember 2021
Selain itu, pada pembangunan pabrik baru di area Bahodopi, Sulteng akan menggunakan PLTG atau energi gas bumi. Pabrik tersebut akan menjadi pabrik nikel dengan emisi karbon per ton nikel terendah kedua setelah Sorowako yang menggunakan PLTA. Menyusul kemudian pada proyek Pomalaa, di Sultra juga akan menerapkan operasional rendah karbon emisi.
Lihat Juga :