Kisah Pilu Seorang Janda di Aceh Timur Usai Diterjang Banjir
Minggu, 09 Januari 2022 - 20:48 WIB
loading...
A
A
A
Sejak hari itu, air mulai menggenangi halaman rumahnya namun Nurlailiwati masih menganggap genangan itu adalah hal biasa akibat hujan deras, ia pun tidur seperti biasa.
Namun, sekira pukul 5.00 WIB, ia terbangun dan terkejut melihat air sudah masuk ke dalam rumah setinggi 50 meter lebih.
Perempuan yang tinggal sendirian ini pun berusaha mengangkat barang agar tidak terendam air, sayangnya air semakin meninggi dan usahanya jadi sia-sia.
Lalu tanpa pikir panjang, Nurlaliwati memilih menyelamat diri keluar dari rumah, seiring banjir merendam rumahnya dengan ketinggian satu meter lebih.
Bersama ratusan warga lainnya, dia memilih mengungsi ke Kantor Keuchik Gampong Bayeun, Rantau Selamat.
Lima hari kemudian setelah banjir surut, dia kembali ke rumahnya dengan membawa bekal 5 kilogram beras, 10 pack mie instan dan 3 butir telur, yang diperolehnya dari bantuan korban banjir melalui aparat desa.
Nurlailiwati hanya bisa pasrah dengan kondisi rumahnya yang berantakan. Seisi rumah basah dan berlumpur diraup banjir, namun yang membuatnya sangat sedih saat melihat mesin jahit satu-satunya alat untuk dia cari rezeki ikut terendam banjir.
Pun demikian Nurlailiati mengaku bantuan bahan pokok makanan yang diperolehnya sudah memadai.
Namun, sekira pukul 5.00 WIB, ia terbangun dan terkejut melihat air sudah masuk ke dalam rumah setinggi 50 meter lebih.
Perempuan yang tinggal sendirian ini pun berusaha mengangkat barang agar tidak terendam air, sayangnya air semakin meninggi dan usahanya jadi sia-sia.
Lalu tanpa pikir panjang, Nurlaliwati memilih menyelamat diri keluar dari rumah, seiring banjir merendam rumahnya dengan ketinggian satu meter lebih.
Bersama ratusan warga lainnya, dia memilih mengungsi ke Kantor Keuchik Gampong Bayeun, Rantau Selamat.
Lima hari kemudian setelah banjir surut, dia kembali ke rumahnya dengan membawa bekal 5 kilogram beras, 10 pack mie instan dan 3 butir telur, yang diperolehnya dari bantuan korban banjir melalui aparat desa.
Nurlailiwati hanya bisa pasrah dengan kondisi rumahnya yang berantakan. Seisi rumah basah dan berlumpur diraup banjir, namun yang membuatnya sangat sedih saat melihat mesin jahit satu-satunya alat untuk dia cari rezeki ikut terendam banjir.
Pun demikian Nurlailiati mengaku bantuan bahan pokok makanan yang diperolehnya sudah memadai.
Lihat Juga :