Tahun Baru Momentum Perkuat Toleransi dan Moderasi Beragama
Sabtu, 01 Januari 2022 - 03:49 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Polisi Bubarkan Pengunjung Malam Tahun Baru di Kuta
Kyai Muflich menambahkan, intoleransi justru dapat merusak fitrah kemuliaan manusia dan nilai kemanusiaan yang luhur, karena tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak mencampuri atau mengintervensi keyakinan atau pandangan orang lain. Sehingga, perlu agar masyarakat diingatkan untuk kembali kepada perjanjian luhur bangsa.
"Kita memiliki konsensus bersama, di mana kita ada UUD 1945 serta Pancasila, itulah yang perlu kita dengungkan kepada seluruh elemen bangsa ini. Karena orang intoleran cenderung lupa bahwa kita ini bangsa yang ramah dan berbudaya luhur serta tidak menyadari itu semua akan memecah belah kita sebagai bangsa yg besar dan luhur peradabannya," jelasnya.
Terkait peran pemerintah dalam moderasi agama kepada masyarakat, mantan anggota MPR-RI ini menilai pemerintah memiliki peran penting untuk membukakan pintu seluas-luasnya. Hal itu untuk dialog kebhinekaan antar tokoh suku dan agama, terkait peran vital para tokoh sebagai ujung tombak moderasi beragama.
Pemerintah punya peran penting untuk membuka ruang-ruang untuk dialog. Tokoh-tokoh masyarakat, agama ataupun pejabat-pejabat semuanya harus membiasakan diri untuk memberikan tauladan, baik dalam bertutur kata, santun, sopan perilaku dalam menyikapi berbagai hal.
"Ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab kita kepada sejarah bangsa dan negara dan juga kepada generasi setelah kita," ungkapnya.
Tak hanya pemerintah, Kiai Muflich juga ingin mendorong semua lapisan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam hal moderasi beragama. Cerdas dalam beperilaku dengan tidak mencampuradukkan aqidah dan ibadah dengan keyakinan masing-masingataupun dengan ibadahnya agama lain.
Kyai Muflich menambahkan, intoleransi justru dapat merusak fitrah kemuliaan manusia dan nilai kemanusiaan yang luhur, karena tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak mencampuri atau mengintervensi keyakinan atau pandangan orang lain. Sehingga, perlu agar masyarakat diingatkan untuk kembali kepada perjanjian luhur bangsa.
"Kita memiliki konsensus bersama, di mana kita ada UUD 1945 serta Pancasila, itulah yang perlu kita dengungkan kepada seluruh elemen bangsa ini. Karena orang intoleran cenderung lupa bahwa kita ini bangsa yang ramah dan berbudaya luhur serta tidak menyadari itu semua akan memecah belah kita sebagai bangsa yg besar dan luhur peradabannya," jelasnya.
Terkait peran pemerintah dalam moderasi agama kepada masyarakat, mantan anggota MPR-RI ini menilai pemerintah memiliki peran penting untuk membukakan pintu seluas-luasnya. Hal itu untuk dialog kebhinekaan antar tokoh suku dan agama, terkait peran vital para tokoh sebagai ujung tombak moderasi beragama.
Pemerintah punya peran penting untuk membuka ruang-ruang untuk dialog. Tokoh-tokoh masyarakat, agama ataupun pejabat-pejabat semuanya harus membiasakan diri untuk memberikan tauladan, baik dalam bertutur kata, santun, sopan perilaku dalam menyikapi berbagai hal.
"Ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab kita kepada sejarah bangsa dan negara dan juga kepada generasi setelah kita," ungkapnya.
Tak hanya pemerintah, Kiai Muflich juga ingin mendorong semua lapisan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam hal moderasi beragama. Cerdas dalam beperilaku dengan tidak mencampuradukkan aqidah dan ibadah dengan keyakinan masing-masingataupun dengan ibadahnya agama lain.
Lihat Juga :