Gunung Anak Krakatau Picu Tsunami 2018 hingga Tewaskan 400 Orang, Ini Penyebabnya
Kamis, 30 Desember 2021 - 13:21 WIB
loading...
A
A
A
Hasilnya menghadirkan tantangan untuk memprediksi bahaya masa depan di pulau-pulau gunung api. Mirzam Abdurrachman, dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan, jika tanah longsor berskala besar terjadi di daerah vulkanik sebagai akibat dari ketidakstabilan jangka panjang, dan dapat terjadi tanpa perubahan khas dalam aktivitas magmatik di gunung berapi, ini berarti fenomena tersebut dapat terjadi secara tiba-tiba dan tanpa peringatan yang jelas.
Baca juga: Dor!!! Bawa 2 Kg Sabu Warga Palembang Terkapar Ditembak BNN di Pintu Tol Mesuji
"Apa yang coba disampaikan Anak Krakatau 2018, mungkin bisa menjawab beberapa hal yang terjadi di Semeru pada saat ini, terjadi secara tiba-tiba dan tanpa tanda-tanda khusus," jelasnya.
"Temuan ini penting bagi orang-orang yang tinggal di daerah yang dikelilingi oleh gunung berapi aktif, dan pulau-pulau gunung api di tempat-tempat seperti Indonesia, Filipina, dan Jepang," tambah Mirzam.
Kyra Cutler, peneliti utama dari Universitas Oxford mengatakan, mengevaluasi pertumbuhan jangka panjang dan pola deformasi gunung berapi akan sangat membantu memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kemungkinan terjadinya fenomena tersebut.
"Tentu ini akan sangat relevan untuk Anak Krakatau saat ia membangun kembali tubuhnya menjadi lebih besar. Mengidentifikasi daerah yang rentan, bersama dengan upaya untuk mengembangkan deteksi tsunami nonseismik, akan meningkatkan strategi manajemen bahaya secara keseluruhan untuk masyarakat yang berisiko," pungkasnya.
Baca juga: Dor!!! Bawa 2 Kg Sabu Warga Palembang Terkapar Ditembak BNN di Pintu Tol Mesuji
"Apa yang coba disampaikan Anak Krakatau 2018, mungkin bisa menjawab beberapa hal yang terjadi di Semeru pada saat ini, terjadi secara tiba-tiba dan tanpa tanda-tanda khusus," jelasnya.
"Temuan ini penting bagi orang-orang yang tinggal di daerah yang dikelilingi oleh gunung berapi aktif, dan pulau-pulau gunung api di tempat-tempat seperti Indonesia, Filipina, dan Jepang," tambah Mirzam.
Kyra Cutler, peneliti utama dari Universitas Oxford mengatakan, mengevaluasi pertumbuhan jangka panjang dan pola deformasi gunung berapi akan sangat membantu memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kemungkinan terjadinya fenomena tersebut.
"Tentu ini akan sangat relevan untuk Anak Krakatau saat ia membangun kembali tubuhnya menjadi lebih besar. Mengidentifikasi daerah yang rentan, bersama dengan upaya untuk mengembangkan deteksi tsunami nonseismik, akan meningkatkan strategi manajemen bahaya secara keseluruhan untuk masyarakat yang berisiko," pungkasnya.
(eyt)
Lihat Juga :