Bersekongkol dengan Kompeni, Siasat Licik Ratu Syarifah Raih Kekuasaan Berakhir di Pengasingan
Rabu, 15 Desember 2021 - 05:04 WIB
loading...
A
A
A
Setelah putra mahkota itu berhasil disingkirkan, skenario kedua diarahkan ke Sultan Zaenal Arifin. Campur tangan kompeni lewat permaisuri makin kuat hingga wibawa sultan Banten makin lemah.
Puncaknya terjadi pada 1748, saat konspirasi antara permaisuri dan Belanda berhasil menggulingkan kekuasaan sah Sultan Zaenul Arifin. Sultan Zaenul Arifin dibuang ke Ambon sebagai pesakitan oleh VOC Belanda.
Seiring melemahnya Kesultanan Banten, VOC semakin menguasai hasil bumi. VOC memonopoli pedagangan di Banten. Pala, lada, cengkeh dan komoditi lainnya dikuasai VOC. Baca juga: Terhasut VOC, Sultan Haji Putra Mahkota Banten Memberontak dan Kudeta Ayahnya
Sisi lain, masyarakat dan para tokoh Banten muak dengan ambisi Ratu Syarifah Fatimah yang sudah memakan korban yaitu suaminya. Selepas Pangeran Gusti dan Sultan Zaenal Arifin dibuang, situasi soail di Kesultanan Banten semakin memburuk.
Maka 1 November 1750, masyarakat yang sudah sangat marah melakukan perlawanan terhadap permaisuri dan putranya. Pemberontakan dipimpin oleh dua tokoh legendaris yaitu Kiai Tapa alias Kiai Bagus Mustofa dan Tubagus Buang. Basis perjuangan para pemberontak ini adalah Gunung Munara, kawasan antara Gunung Kaler dan Kresek Tangerang
Perang yang dipimpin kedua tokoh itu pecah. Pasukan pemebrontak yang dipimpin oleh Kiai Tapa dan Tubagus Buang mampu menusuk masuk ke dalam area keraton yang prajuritnya tidak bisa mengimbangi pasukan Kiai Tapa.
Padahal saat itu, pasukan penjaga keraton terdiri dari tentara campuran Eropa yang dibina oleh VOC dan pasukan pribumi non parjurit. Mereka ikut bergabung untuk menghalau serbuan pasukan Kiai Tapa dan Tubagus Buang.
Meski demikian, pasukan gabungan keraton tidak bisa membendung serangan pasukan pemberontak. Merasa terdesak, keraton kemudian mengajukan permohonan bantuan tentara VOC yang ditempatkan di tangsi-tangsi yang jaraknya tidak jauh dari Keraton Surosowan.
Puncaknya terjadi pada 1748, saat konspirasi antara permaisuri dan Belanda berhasil menggulingkan kekuasaan sah Sultan Zaenul Arifin. Sultan Zaenul Arifin dibuang ke Ambon sebagai pesakitan oleh VOC Belanda.
Seiring melemahnya Kesultanan Banten, VOC semakin menguasai hasil bumi. VOC memonopoli pedagangan di Banten. Pala, lada, cengkeh dan komoditi lainnya dikuasai VOC. Baca juga: Terhasut VOC, Sultan Haji Putra Mahkota Banten Memberontak dan Kudeta Ayahnya
Sisi lain, masyarakat dan para tokoh Banten muak dengan ambisi Ratu Syarifah Fatimah yang sudah memakan korban yaitu suaminya. Selepas Pangeran Gusti dan Sultan Zaenal Arifin dibuang, situasi soail di Kesultanan Banten semakin memburuk.
Maka 1 November 1750, masyarakat yang sudah sangat marah melakukan perlawanan terhadap permaisuri dan putranya. Pemberontakan dipimpin oleh dua tokoh legendaris yaitu Kiai Tapa alias Kiai Bagus Mustofa dan Tubagus Buang. Basis perjuangan para pemberontak ini adalah Gunung Munara, kawasan antara Gunung Kaler dan Kresek Tangerang
Perang yang dipimpin kedua tokoh itu pecah. Pasukan pemebrontak yang dipimpin oleh Kiai Tapa dan Tubagus Buang mampu menusuk masuk ke dalam area keraton yang prajuritnya tidak bisa mengimbangi pasukan Kiai Tapa.
Padahal saat itu, pasukan penjaga keraton terdiri dari tentara campuran Eropa yang dibina oleh VOC dan pasukan pribumi non parjurit. Mereka ikut bergabung untuk menghalau serbuan pasukan Kiai Tapa dan Tubagus Buang.
Meski demikian, pasukan gabungan keraton tidak bisa membendung serangan pasukan pemberontak. Merasa terdesak, keraton kemudian mengajukan permohonan bantuan tentara VOC yang ditempatkan di tangsi-tangsi yang jaraknya tidak jauh dari Keraton Surosowan.
Lihat Juga :