Tragedi Raden Ayu Lembah dan Jatuhnya Kekuasaan Amangkurat III di Kartasura
Jum'at, 03 Desember 2021 - 08:18 WIB
loading...
A
A
A
Baca: Lengsernya Mahapatih Gajah Mada karena Misi Asmara Gagal usai Perang Bubat
Perang saudara yang terjadi antara 1704-1708 ini, dimulai dengan pemberontakan yang dilakukan putra Pengeran Puger, yakni Raden Suryokusumo terhadap Amangkurat III. Akibat peristiwa itu, keluarga Pangeran Puger ditahan.
Tetapi atas nasihat Patih Sumabrata, kerabat dan keluarga Pangeran Puger yang ditahan dibebaskan. Masih di tahun 1704, Amangkurat III akhirnya memerintahkan pasukannya untuk membunuh Pangeran Puger.
Rencana ini gagal, karena Pangeran Puger sudah terlebih dahulu mengungsi ke Semarang. Pada 1705, bersama dengan VOC, pasukan Pangeran Puger melakukan serangan dan berhasil menduduki Kartasura, pada 11 September 1705.
Baca: Siasat Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa Hancurkan Monopoli Dagang VOC
Tentu saja, bantuan VOC tidak gratis. VOC sengaja membantu Pangeran Puger karena punya maksud ingin menguasai wilayah Madura bagian timur. Setelah Kartasura ditaklukan, Amangkurat III hidup dalam pelarian sebagai buronan.
Dalam pelariannya, Amangkurat III membawa semua bende-bende Mataram atau pusaka-pusaka Keraton Kartasura. Pertama-tama, dia kabur ke Ponorogo, lalu ke Madiun, Malang, Blitar dan menyingkir ke wilayah Kediri.
Baca: Terhasut VOC, Sultan Haji Putra Mahkota Banten Memberontak dan Kudeta Ayahnya
Ekspedisi penangkapan Amangkurat III pun dibentuk VOC, pada 19 Juni 1707. Pasukan VOC ini dipimpin Herman de Wilde. Mereka akhirnya menangkap Amangkurat III di Surabaya, pada 1708. Amangkurat III lalu diseret ke Batavia.
Meski telah ditangkap, Amangkurat III tidak pernah mau menyerahkan pusara Keraton Kartasura, kepada Pangeran Puger. Dari Batavia, Amangkurat III dihukum dibuang ke Srilangka. Dia mangkat di sana, pada 1734.
Baca: Kisah Pertempuran Untung Surapati Melawan VOC dan Kesuksesan Menjadi Adipati Pasuruhan
Menurut Babad Tanah Jawi, jatuhnya pemerintahan Amangkurat III yang singkat ini akibat kutukan Amangkurat I yang menyatakan, keturunannya tidak ada yang menjadi raja kecuali satu orang, itupun hanya sebentar.
Dengan jatuhnya Amangkurat III dan dikuasainya Kartasura oleh Pangeran Puger, maka sebagai gantinya wilayah Priangan, Cirebon dan Madura bagian timur diserahkan kepada VOC sebagai imbalan.
Sumber tulisan:
Joko Darmawan, Mengenal Budaya Nasional Trah Raja-raja Mataram di Tanah Jawa, Deepublish, 2017.
Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir I, Tempo Publishing,
Drs. H. Budiono Herusatoto, Kisah Penerus Dinasti Mataram, Sang Pangeran Senapati Puger, Berjuang Dari Banyumas Hingga Kartasura, Deepublish, Mei 2021.
Christopher Reinhart, Antara Lawu dan Wilis, Kepustakaan Populer Gramedia, November 2021.
V. Wiranata Sujarweni, Menelusuri Jejak Mataram Islam di Yogyakarta, Anak Hebat Indonesia, Juli 2017.
Perang saudara yang terjadi antara 1704-1708 ini, dimulai dengan pemberontakan yang dilakukan putra Pengeran Puger, yakni Raden Suryokusumo terhadap Amangkurat III. Akibat peristiwa itu, keluarga Pangeran Puger ditahan.
Tetapi atas nasihat Patih Sumabrata, kerabat dan keluarga Pangeran Puger yang ditahan dibebaskan. Masih di tahun 1704, Amangkurat III akhirnya memerintahkan pasukannya untuk membunuh Pangeran Puger.
Rencana ini gagal, karena Pangeran Puger sudah terlebih dahulu mengungsi ke Semarang. Pada 1705, bersama dengan VOC, pasukan Pangeran Puger melakukan serangan dan berhasil menduduki Kartasura, pada 11 September 1705.
Baca: Siasat Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa Hancurkan Monopoli Dagang VOC
Tentu saja, bantuan VOC tidak gratis. VOC sengaja membantu Pangeran Puger karena punya maksud ingin menguasai wilayah Madura bagian timur. Setelah Kartasura ditaklukan, Amangkurat III hidup dalam pelarian sebagai buronan.
Dalam pelariannya, Amangkurat III membawa semua bende-bende Mataram atau pusaka-pusaka Keraton Kartasura. Pertama-tama, dia kabur ke Ponorogo, lalu ke Madiun, Malang, Blitar dan menyingkir ke wilayah Kediri.
Baca: Terhasut VOC, Sultan Haji Putra Mahkota Banten Memberontak dan Kudeta Ayahnya
Ekspedisi penangkapan Amangkurat III pun dibentuk VOC, pada 19 Juni 1707. Pasukan VOC ini dipimpin Herman de Wilde. Mereka akhirnya menangkap Amangkurat III di Surabaya, pada 1708. Amangkurat III lalu diseret ke Batavia.
Meski telah ditangkap, Amangkurat III tidak pernah mau menyerahkan pusara Keraton Kartasura, kepada Pangeran Puger. Dari Batavia, Amangkurat III dihukum dibuang ke Srilangka. Dia mangkat di sana, pada 1734.
Baca: Kisah Pertempuran Untung Surapati Melawan VOC dan Kesuksesan Menjadi Adipati Pasuruhan
Menurut Babad Tanah Jawi, jatuhnya pemerintahan Amangkurat III yang singkat ini akibat kutukan Amangkurat I yang menyatakan, keturunannya tidak ada yang menjadi raja kecuali satu orang, itupun hanya sebentar.
Dengan jatuhnya Amangkurat III dan dikuasainya Kartasura oleh Pangeran Puger, maka sebagai gantinya wilayah Priangan, Cirebon dan Madura bagian timur diserahkan kepada VOC sebagai imbalan.
Sumber tulisan:
Joko Darmawan, Mengenal Budaya Nasional Trah Raja-raja Mataram di Tanah Jawa, Deepublish, 2017.
Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir I, Tempo Publishing,
Drs. H. Budiono Herusatoto, Kisah Penerus Dinasti Mataram, Sang Pangeran Senapati Puger, Berjuang Dari Banyumas Hingga Kartasura, Deepublish, Mei 2021.
Christopher Reinhart, Antara Lawu dan Wilis, Kepustakaan Populer Gramedia, November 2021.
V. Wiranata Sujarweni, Menelusuri Jejak Mataram Islam di Yogyakarta, Anak Hebat Indonesia, Juli 2017.
(hsk)
Lihat Juga :