Kisah Pariani dan Amran, Korban PHK Perusahaan Crumb Rubber di Asahan
Minggu, 07 Juni 2020 - 09:08 WIB
loading...
A
A
A
Disamping itu, juga menjual bahan bakar minyak (BBM) eceran. BBM Jenis Pertalite dan Solar. Yang dibeli dari SPBU terdekat. "Lumayan, buat tambah-tambah penhasilan, selain dari jualan jajanan anak-anak," katanya menambahkan.
Dari hasil berdagang kecil-kecilan itu, dia bisa meraih keuntungan Rp30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. Jika beruntung, bisa dapat lebih. Dapat Rp60 ribu. Tapi jarang. "Seratus ribu, hampir tidak pernah. Paling sering di bawah lima puluh ribu. Jauh berkurang, waktu suami masih ada dan bekerja. Bisa dapat Rp600 ribu per minggu," ujarnya lirih.
Mengingat itu, hati Pariani seolah tercabik. Tapi bukan karena pendapatan yang jauh berkurang dan tak pernah cukup memenuhi kehidupannya sehari-hari. Dan bukan pula semata karena kepergian yang menafkahinya dari 20 tahun yang lalu.
Melainkan, karena merasa kehilangan hak-hak suaminya yang sudah bekerja selama 16 tahun dan hanya ditawari uang kompensasi senilai 1 bulan gaji. Selain khawatir, untuk membiayai kebutuhan sekolah kedua anaknya yang masih kecil-kecil. "Ya, sedih, kecewa, kesal, marah. Semuanya jadi satu. Entahlah...," katanya
Tak jauh, sekitar 500 meter dari rumah Pariani, tepatnya di Dusun V Desa Mekar Sari, Amran Sinaga (50) tengah duduk dii beranda depan rumahnya, di Dusun V Desa Mekar Sari.
Senasib dengan mendiang istri Jamari itu, ia juga sedang membayangkan bayang-bayang suram diusianya yang tak lagi muda. Apalagi di tengah-tengah masa pandemi Covid-19 yang belum tahu hingga kapan berakhir.
Dari hasil berdagang kecil-kecilan itu, dia bisa meraih keuntungan Rp30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. Jika beruntung, bisa dapat lebih. Dapat Rp60 ribu. Tapi jarang. "Seratus ribu, hampir tidak pernah. Paling sering di bawah lima puluh ribu. Jauh berkurang, waktu suami masih ada dan bekerja. Bisa dapat Rp600 ribu per minggu," ujarnya lirih.
Mengingat itu, hati Pariani seolah tercabik. Tapi bukan karena pendapatan yang jauh berkurang dan tak pernah cukup memenuhi kehidupannya sehari-hari. Dan bukan pula semata karena kepergian yang menafkahinya dari 20 tahun yang lalu.
Melainkan, karena merasa kehilangan hak-hak suaminya yang sudah bekerja selama 16 tahun dan hanya ditawari uang kompensasi senilai 1 bulan gaji. Selain khawatir, untuk membiayai kebutuhan sekolah kedua anaknya yang masih kecil-kecil. "Ya, sedih, kecewa, kesal, marah. Semuanya jadi satu. Entahlah...," katanya
Tak jauh, sekitar 500 meter dari rumah Pariani, tepatnya di Dusun V Desa Mekar Sari, Amran Sinaga (50) tengah duduk dii beranda depan rumahnya, di Dusun V Desa Mekar Sari.
Senasib dengan mendiang istri Jamari itu, ia juga sedang membayangkan bayang-bayang suram diusianya yang tak lagi muda. Apalagi di tengah-tengah masa pandemi Covid-19 yang belum tahu hingga kapan berakhir.
Lihat Juga :