Kisah Spiritual Pangeran Diponegoro dari Pantai Selatan hingga Bersemedi di Imogiri
Selasa, 12 Oktober 2021 - 10:26 WIB
loading...
A
A
A
Kunjungan ke masjid dan pesantren itu dilakukan Pangeran Diponegoro, untuk melengkapi pendidikannya sebagai santri, dan untuk mengenali buru yang pantas membimbing perkembangan keagamaannya ke tingkatan lebih lanjut.
Baca juga: Misteri Konspirasi Gajah Mada di Balik Terbunuhnya Jayanegara di Istana Majapahit
Persiapan pengembaraan spiritual ini juga dilakukan Pangeran Diponegoro, dengan mengganti namanya. Dia memakai nama baru yakni Syekh Ngabdurahim, yang dipakainya selama perjalanan dengan tujuan agar ia tidak dikenali orang.
Nama ini diambil dari bahasa Arab Shaykh Abd al Rahim, yang kemungkinan diusulkan oleh salah satu penasihat spiritualnya di Tegalrejo. Penggunaan nama Islam seperti itu, bukan sesuatu yang luar biasa di kalangan pangeran Jawa pada masa itu. Pangeran Dipowijoyo I, putra Sultan Pertama pun mengubah namanya menjadi Pangeran Muhammad Abubakar, saat bersiap diri menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada 1810.
Sebelum perjalanan spiritual itu dilakukan, Pangeran Diponegoro mencukur rambutnya agar selama berkelana ke pesantren-pesantren tidak menarik perhatian para santri. Pangeran Diponegoro seorang kasta tertinggi dan orang yang dihormati, memilih untuk menyamar dengan mengenakan pakaian biasa, sehingga hanya sedikit orang yang dapat mengenalinya.
Baca juga: Asyik Pesta Sabu di Kamar Kos, Wanita Cantik Bersama Kekasihnya Diringkus Polisi
Pakaian kebesarannya sebagai pangeran, ditanggalkan. Pangeran Diponegoro, memilih mengenakan busana sehari-hari yang lumrah digunakan kaum santri pada abad ke-18. Yaitu kain sarung kasar yang dipadu dengan baju putih, tanpa kancing, dan baju tak berkerah, dengan surban hijau atau putih sebagai penutup kepala.
Dalam Babad Diponegoro, perjalanan spiritual Pangeran Diponegoro itu dimulai dari Tegalrejo. Sang pangeran memilih memulai kehidupan sebagai santri, yang berkelana dengan mengunjungi pesantren-pesantren dan masjid-masjid.
Baca juga: Misteri Konspirasi Gajah Mada di Balik Terbunuhnya Jayanegara di Istana Majapahit
Persiapan pengembaraan spiritual ini juga dilakukan Pangeran Diponegoro, dengan mengganti namanya. Dia memakai nama baru yakni Syekh Ngabdurahim, yang dipakainya selama perjalanan dengan tujuan agar ia tidak dikenali orang.
Nama ini diambil dari bahasa Arab Shaykh Abd al Rahim, yang kemungkinan diusulkan oleh salah satu penasihat spiritualnya di Tegalrejo. Penggunaan nama Islam seperti itu, bukan sesuatu yang luar biasa di kalangan pangeran Jawa pada masa itu. Pangeran Dipowijoyo I, putra Sultan Pertama pun mengubah namanya menjadi Pangeran Muhammad Abubakar, saat bersiap diri menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada 1810.
Sebelum perjalanan spiritual itu dilakukan, Pangeran Diponegoro mencukur rambutnya agar selama berkelana ke pesantren-pesantren tidak menarik perhatian para santri. Pangeran Diponegoro seorang kasta tertinggi dan orang yang dihormati, memilih untuk menyamar dengan mengenakan pakaian biasa, sehingga hanya sedikit orang yang dapat mengenalinya.
Baca juga: Asyik Pesta Sabu di Kamar Kos, Wanita Cantik Bersama Kekasihnya Diringkus Polisi
Pakaian kebesarannya sebagai pangeran, ditanggalkan. Pangeran Diponegoro, memilih mengenakan busana sehari-hari yang lumrah digunakan kaum santri pada abad ke-18. Yaitu kain sarung kasar yang dipadu dengan baju putih, tanpa kancing, dan baju tak berkerah, dengan surban hijau atau putih sebagai penutup kepala.
Dalam Babad Diponegoro, perjalanan spiritual Pangeran Diponegoro itu dimulai dari Tegalrejo. Sang pangeran memilih memulai kehidupan sebagai santri, yang berkelana dengan mengunjungi pesantren-pesantren dan masjid-masjid.
Lihat Juga :