Ingin Berjuang Untuk Agama, Gus Mus: Ngaji dan Belajar Dulu yang Benar
Kamis, 26 Agustus 2021 - 19:21 WIB
loading...
A
A
A
"Masyarakat kita ini sudah berkali-kali ‘kecele’ (tidak mendapatkan apa yang diharapkan). Ini karena apa ? Ya karena mereka ini tidak memakai landasan ilmu. Semuanya itu dalam memahami suatu masalah tentu sangat membutuhkan ilmu. Kalau tanpa ilmu, kita akhirnya ikut-ikutan," ujarnya.
Gus Mus juga memberikan contoh lain seperti yang terjadidi Palestina, di mana masyarakat bangsa ini juga asal ikut saja sesuatu yang didengarnya dari satu sumber, tetapi tidak mendengar dari sumber yang lain.
"Akhirnya mengikuti satu sumber tersebut yang belum tentu benar keberadaan berita tersebut. Nah kalau yang awalnya ikut-ikutan, lalu kemudian diikuti lagi, tentunya kacaunya juga makin tidak karu-karuan," ujar Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.
Oleh karena itu Gus Mus meminta kepada mereka yang mengaku sebagai ‘tokoh’ agama yang selama ini ucapannya sudah didengarkan oleh orang banyak terutama, orang yang ucapannya dalam posisi sudah didengarkan, untuk lebih berhati-hati lagi dalam menyampaikan sesuatu.
"Kalau kurang ilmunya maka ya harus belajar lagi. Jangan kemudian dia sudah ditinggalkan orang banyak, lalu kemudian menarasikan sesuatu yang tidak benar," tutur Gus Mus.
Ulama yang juga seorang penyair ini juga menanggapi terkait narasi-narasi keagamaan yang memecah belah umat yang justru disampaikan oleh ustaz-ustaz dan pengasuh keagamaan. Bahwasanya seseorang harus mampu menahan nafsu beragama. Karena jika tidak diimbangi dengan kedalaman pengetahuan agama tentunya malah akan menjadi kemudaharatan dan mencoreng wajah agama itu sendiri.
"Kalau semangat keberagamaan ini berkobar-kobar, tentunya hal ini mestinya harus dilandasi dan diimbangi dengan pengetahuan agama yang cukup. Karena kalau tidak ini justru malah merusak wajah agama itu sendiri," ucap Gus Mus.
Gus Mus juga memberikan contoh lain seperti yang terjadidi Palestina, di mana masyarakat bangsa ini juga asal ikut saja sesuatu yang didengarnya dari satu sumber, tetapi tidak mendengar dari sumber yang lain.
"Akhirnya mengikuti satu sumber tersebut yang belum tentu benar keberadaan berita tersebut. Nah kalau yang awalnya ikut-ikutan, lalu kemudian diikuti lagi, tentunya kacaunya juga makin tidak karu-karuan," ujar Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.
Oleh karena itu Gus Mus meminta kepada mereka yang mengaku sebagai ‘tokoh’ agama yang selama ini ucapannya sudah didengarkan oleh orang banyak terutama, orang yang ucapannya dalam posisi sudah didengarkan, untuk lebih berhati-hati lagi dalam menyampaikan sesuatu.
"Kalau kurang ilmunya maka ya harus belajar lagi. Jangan kemudian dia sudah ditinggalkan orang banyak, lalu kemudian menarasikan sesuatu yang tidak benar," tutur Gus Mus.
Ulama yang juga seorang penyair ini juga menanggapi terkait narasi-narasi keagamaan yang memecah belah umat yang justru disampaikan oleh ustaz-ustaz dan pengasuh keagamaan. Bahwasanya seseorang harus mampu menahan nafsu beragama. Karena jika tidak diimbangi dengan kedalaman pengetahuan agama tentunya malah akan menjadi kemudaharatan dan mencoreng wajah agama itu sendiri.
"Kalau semangat keberagamaan ini berkobar-kobar, tentunya hal ini mestinya harus dilandasi dan diimbangi dengan pengetahuan agama yang cukup. Karena kalau tidak ini justru malah merusak wajah agama itu sendiri," ucap Gus Mus.
Lihat Juga :