AIPGI Dukung Pengembangan Lahan Garam di NTT
Jum'at, 29 Mei 2020 - 07:50 WIB
loading...
Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) mendukung pengembangan lahan garam di Provinsi NTT guna memasok bahan baku garam industri dari dalam negeri. Foto/Okezone
A
A
A
JAKARTA - Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) mendukung pengembangan lahan garam di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) guna memasok bahan baku garam industri dari dalam negeri.
Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Tony Tanduk mengatakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) cocok sebagai sentra produksi garam industri karena memiliki lahan dan cuaca yang mendukung. (Baca juga: KPU: Anggaran Rp535 M Belum Termasuk Penambahan TPS)
“Wilayah NTT itu cocok karena ketersediaan lahan yang landai dan musim kemarau yang panjang sekitar 7-8 bulan pertahun,” ucapnya saat dihubungi oleh media, Jumat (29/5/2020).
Untuk menghasilkan garam kualitas tinggi, kata Tony, harus menggunakan metode dengan penguapan dan kristalisasi bertingkat. Proses produksi seperti ini dilakukan oleh PT Garam di Madura dan PT Inti Daya Kencana (IDK) di Malaka, NTT.
“Dibuat penguapan dan kristalisasi bertingkat. PT IDK di NTT sedang membangun lahan penggaraman dengan sistem tersebut, namun lahan masih sekitar 50 hektar dan yang sedang dikembangkan berkisar 300 hektar,” ucapnya.
Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Tony Tanduk mengatakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) cocok sebagai sentra produksi garam industri karena memiliki lahan dan cuaca yang mendukung. (Baca juga: KPU: Anggaran Rp535 M Belum Termasuk Penambahan TPS)
“Wilayah NTT itu cocok karena ketersediaan lahan yang landai dan musim kemarau yang panjang sekitar 7-8 bulan pertahun,” ucapnya saat dihubungi oleh media, Jumat (29/5/2020).
Untuk menghasilkan garam kualitas tinggi, kata Tony, harus menggunakan metode dengan penguapan dan kristalisasi bertingkat. Proses produksi seperti ini dilakukan oleh PT Garam di Madura dan PT Inti Daya Kencana (IDK) di Malaka, NTT.
“Dibuat penguapan dan kristalisasi bertingkat. PT IDK di NTT sedang membangun lahan penggaraman dengan sistem tersebut, namun lahan masih sekitar 50 hektar dan yang sedang dikembangkan berkisar 300 hektar,” ucapnya.
Lihat Juga :