Menanti Tetes Hujan di Masa Panen Kopi Pungkasan Petani Blitar Lereng Kawi
Senin, 02 Agustus 2021 - 01:52 WIB
loading...
A
A
A
Bunga yang rontok karena tertimpa air hujan, kata Kinan akan berdampak pada bakal buah. Buah menjadi lebih lebat. Lebih lebat dibanding tanaman kopi yang bunganya tidak rontok. "Karenananya ketika datang hujan, para petani merasa bersyukur. Sebab itu yang ditunggu-tunggu," kata Kinan. Saat SINDOnews di Desa Sumberurip, di banyak pelataran rumah warga terlihat biji-biji kopi yang dijemur.
Biji-biji kopi berawarna merah dihamparkan di atas para-para. Mengingat kopi memiliki sifat menyerap, para-para yang terbuat dari bambu diletakkan berjarak dengan tanah. Kendati demikian tidak sedikit petani yang menjemur biji kopi di atas terpal yang langsung dihamparkan di atas tanah.
Baca juga: Tangis Pecah di Bantul, Terpapar COVID-19 Nakes Meninggal Dalam Kondisi Hamil 7 Bulan
Saat ini harga kopi robusta gelondongan Rp5-6 ribu/kg. Sedangkan biji yang sudah terkelupas kulitnya Rp12-13 ribu/kg. Beberapa petani, kata Kinan langsung menjual hasil panennya. Kendati demikian tidak sedikit yang memilih menggudangkan dulu. Sampai pasar memberi tawaran harga lebih menguntungkan, kopi baru dikeluarkan. Menurut Kinan, lima tahun terakhir ini, para petani Sumberurip mulai menanam tanaman hortikultura. Yakni di antaranya kentang.
Hasil tanaman hortikultura , ditambah peternakan kambing mereka pakai untuk menyambung hidup bulanan. Agar keuangan mereka terkelola dengan baik, para petani juga mendirikan lembaga koperasi sendiri. "Saat ini untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari para petani cukup mengandalkan dari tanaman hortikultura dan ternak kambing," pungkas Kinan.
Biji-biji kopi berawarna merah dihamparkan di atas para-para. Mengingat kopi memiliki sifat menyerap, para-para yang terbuat dari bambu diletakkan berjarak dengan tanah. Kendati demikian tidak sedikit petani yang menjemur biji kopi di atas terpal yang langsung dihamparkan di atas tanah.
Baca juga: Tangis Pecah di Bantul, Terpapar COVID-19 Nakes Meninggal Dalam Kondisi Hamil 7 Bulan
Saat ini harga kopi robusta gelondongan Rp5-6 ribu/kg. Sedangkan biji yang sudah terkelupas kulitnya Rp12-13 ribu/kg. Beberapa petani, kata Kinan langsung menjual hasil panennya. Kendati demikian tidak sedikit yang memilih menggudangkan dulu. Sampai pasar memberi tawaran harga lebih menguntungkan, kopi baru dikeluarkan. Menurut Kinan, lima tahun terakhir ini, para petani Sumberurip mulai menanam tanaman hortikultura. Yakni di antaranya kentang.
Hasil tanaman hortikultura , ditambah peternakan kambing mereka pakai untuk menyambung hidup bulanan. Agar keuangan mereka terkelola dengan baik, para petani juga mendirikan lembaga koperasi sendiri. "Saat ini untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari para petani cukup mengandalkan dari tanaman hortikultura dan ternak kambing," pungkas Kinan.
(eyt)
Lihat Juga :