Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Kampung Pematang, Jejak Raja Siantar yang Masih Tersisa

loading...
Kampung Pematang, Jejak Raja Siantar yang Masih Tersisa
Kampung Pematang di kelurahan Simalungun, kecamatan Siantar Selatan.Foto SINDOnews
PEMATANGSIANTAR - Siantar merupakan kerajaan, salah satu kerajaan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, dan saat ini menjadi Kota Pematangsiantar. Pematangsiantar berkedudukan di Pulau Holing atau sekarang dikenal dengan nama kampung Pematang dan raja terakhir yang memimpin adalah Tuan Sang Nawaluh Damanik yang memegang kekuasaan raja tahun 1906.

Kampung Pematang yang terletak di kelurahan Simalungun, Kecamatan Siantar Selatan, Kota Pematangsiantar, merupakan kampung Tuan Sang Nawaluh Damanik, Raja ke 14 Kerajaan Siantar. Baca juga: Bangunan Candi Peninggalan Ratu Shima di Abad ke-7 Ditemukan di Pekarangan Warga Rowosari Kendal

Raja Sangnaualuh lahir pada 24 April tahun 1871 di Rumah Bolon atau istana raja Siantar di kelurahan Simalungun yang dikenal dengan nama kampung Pematang di Kecamatan Siantar Selatan, Kota Pematangsiantar.

Dalam perbincangan dengan Tuan Rudi Damanik, keturunan kelima paman Sang Nawaluh Damanik bernama Tuan Itam Damanik belum lama ini mengisahkan, kejayaan Sangnaualuh dapat dilihat di Pematang.

Di Pematang masih ada pesanggrahan, tempat bermusyawarah raja- raja, kompleks Jorat yang merupakan pemakaman dan pusat tradisi kerajaan sebelum mengenal Islam dan rumah batu, istana Kerajaan Siantar.

"Sampai saat ini jejak kebesaran Raja Siantar Tuan Sann Nawakuh Damanik masih dapat dilihat di kelurahan Pematang," ujar Rudi. Baca juga: Kapolres Minta Pimpinan Rumah Sakit di Pematangsiantar Dukung Vaksinasi Massal



Rudi menambahkan, di Kelurahan Pematang masih terdapat peninggalan kejayaan Raja Siantar seperti, pesanggrahan, tempat bermusyawarah raja-raja, kompleks Jorat yang merupakan pemakaman dan pusat tradisi kerajaan sebelum mengenal Islam dan rumah batu, istana Kerajaan Siantar.

Hingga saat ini hari kelahiran Raja Sang Nawaluh Damanik, menjadi hari lahirnya Kota Pematangsiantar. Setiap tahun makam atau komplek Jorat di kelurahan Pematang akan diziarahi oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) yang biasanya dipimpin langsung walikota Pematangsiantar.

Nama Raja Sang Nawaluh tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat kota Pematangsiantar dan Simalungun, namun kiprahnya juga dikenal sampai ke Bengkalis, Riau, di mana ia mengakhiri hayatnya di sana pada 9 Februari tahun 1913.

Kampung Pematang, Jejak Raja Siantar yang Masih Tersisa




Pada tahun 1904, Raja Sang Nawaluh, ditangkap Belanda dan dua tahun berselang diasingkan ke Bengkalis, Riau. Di sana pula Raja Siantar yang sudah matang dalam memimpin rakyat, mulai mensyiarkan Islam.

Sang Nawaluh, sempat menjadi guru mengaji dan dikenal sebagai ulama di daerah pengasingannya, hingga menghembuskan nafas terakhir di Bengkalis dan di sana pula, pusaranya didirikan sebagai tokoh masyarakat setempat.

Menurut Rudi cucu Raja Sang Nawaluh, Tuan Syah Damanik pernah berkeinginan memindahkan makamnya ke kota kelahiran di Pematangsiantar.

"Tapi pemerintah kabupaten Bengkalis menolak, lantaran menganggap Sang Nawaluh adalah bagian dari masyarakat Bengkalis. Selama hidup di sana, beliau mengajar ngaji, pertanian, pemerintahan dan lainnya," sebut Rudi.

Meski Raja Sang Nawaluh dimakamkan di Bengkalis, namun tempat kelahirannya di Kampung Pematang masih tetap dikenang sebagai kampung raja Siantar.
(don)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top