Penjual Kopi Dijebloskan ke Penjara, Tak Punya Uang Bayar Denda PPKM Darurat
Kamis, 15 Juli 2021 - 16:12 WIB
loading...
A
A
A
Dengan langkah tenang dan penuh keyakinan, pemuda yang merupakan pemilik kedai kopi yang setiap hari berjualan di halaman rumahnya ini langsung berjalan mendekati pintu masuk Lapas Tasikmalaya. Asep mengenakan celana panjang, switer dan membawa sebuah tas kecil.
Sebelum masuk ke dalam Lapas, Asep mengaku kaget dijeblosakan ke dalam Lapas karena mengira akan di tahan di Polsek atau Polres. “Saya tidak menyangka. Namun sudah mempersiapkan mental karena sesuai hukuman hanya kurungan saja,” katanya, Kamis (15/7/2021)
Sedangkan orang tua Asep, Agus Suparman (56) menuturkan bahwa anaknya dari awal sudah menerima untuk dikurung, daripada harus membayar denda. Sebelum dieksekusi, Agus sudah berbicara dengan anaknya dan akan berusaha mencarikan uang untuk membayar denda. Namun anaknya menghalanginya karena hanya menjalani kurungan 3 hari saja.
Saat ini rekan-rekan sesama penjual kopi untuk sementara mengelola kedai kopi milik anaknya. “Semua biaya dan bahan bahan mulai dari kopi, susu dan bahan lainya juga sudah disiapkan untuk berjualan selama Asep dipenjara. Komunitas penjual kopi yang menanggung biaya operasional semuanya,” ujarnya.
Melihat anaknya mengambil keputusan untuk menjalani hukuman penjara, Agus merasa bangga atas tanggung jawab anaknya. Sebab dari awal saat kena razia juga anaknya sudah menerima semuanya.
Sebelum masuk ke dalam Lapas, Asep mengaku kaget dijeblosakan ke dalam Lapas karena mengira akan di tahan di Polsek atau Polres. “Saya tidak menyangka. Namun sudah mempersiapkan mental karena sesuai hukuman hanya kurungan saja,” katanya, Kamis (15/7/2021)
Sedangkan orang tua Asep, Agus Suparman (56) menuturkan bahwa anaknya dari awal sudah menerima untuk dikurung, daripada harus membayar denda. Sebelum dieksekusi, Agus sudah berbicara dengan anaknya dan akan berusaha mencarikan uang untuk membayar denda. Namun anaknya menghalanginya karena hanya menjalani kurungan 3 hari saja.
Saat ini rekan-rekan sesama penjual kopi untuk sementara mengelola kedai kopi milik anaknya. “Semua biaya dan bahan bahan mulai dari kopi, susu dan bahan lainya juga sudah disiapkan untuk berjualan selama Asep dipenjara. Komunitas penjual kopi yang menanggung biaya operasional semuanya,” ujarnya.
Melihat anaknya mengambil keputusan untuk menjalani hukuman penjara, Agus merasa bangga atas tanggung jawab anaknya. Sebab dari awal saat kena razia juga anaknya sudah menerima semuanya.
Lihat Juga :