Tumpes Kelor, Cara Keji Belanda Menghabisi Keturunan Untung Surapati di Jawa Timur

Senin, 21 Juni 2021 - 05:00 WIB
loading...
A A A
Sebanyak 186 prajurit Eropa, 500 Madura dan 1.600 prajurit Surabaya, Bangil, dan Pasuruan, dikerahkan Kapten Casper Ledowijk Tropponegro untuk memburu mereka. Pertempuran pecah di Rajegwesi (Sekarang Bojonegoro) yang membuat Raden Mas, putra Pangeran Singasari terpaksa harus keluar dari Rajegwesi.

Bersama Pangeran Singasari , ayahnya Raden Mas bergeser ke wilayah selatan. Mereka berada di Samperak, utara Lodalem dan bergabung dengan pemberontak lain. Mereka berencana kembali ke Malang. Sementara Malayakusuma, dan Tirtanagara berada di Sambi Geger, barat daya Samperak.

Belanda mengerahkan seluruh kekuatan dan sekutunya untuk mengepung dari segala sisi. Dari Srengat, pasukan koalisi Belanda menuju Blitar, berlanjut ke Selagurit untuk langsung menyerang lawan yang dalam posisi terjepit. Dari Kediri, Bupati Kediri juga menyiapkan pasukan, ikut memperkuat Belanda.

Baca juga: Bandar Laut Besar Itu Bernama Pasuruan

Belum lagi tambahan pasukan dari Raja Mataram . Pertempuran antara Belanda dengan koalisi keturunan Surapati dan Pangeran Singasari beserta Raden Mas anaknya, berlangsung hampir satu tahun. Pada 16 Juli 1768, Pangeran Singasari atau Parabujaka menyerah di Dapat, tenggara Lodalem, Kabupaten Malang.

Pengeran asal Mataram yang menolak pembagian kerajaan itu ditangkap bersama istri, dua anak perempuan dan anak laki-lakinya yang masih kecil. Semua dibawa ke Semarang, dan tiba 5 Agustus 1768. Sementara Raden Mas, putranya yang besar berhasil melarikan diri bersama Tirtanagara.

30 hari setelah ayahnya ditangkap, Raden Mas yang terluka parah terkepung prajurit Kompeni di daerah Rawa (Sekarang Tulungagung). Ia memilih menyerahkan diri kepada prajurit Sultan Mataram, dan langsung digelandang ke Yogyakarta. Belanda membawa Raden Mas ke Semarang, untuk dijebloskan ke penjara .

Baca juga: Mas-mas TRIP Berjuang Hingga Akhir Zaman...

Sementara Pangeran Singasari , ayahnya diekstradisi ke Batavia. Singasari atau Prabujaka dibawa bersama dua anak perempuannya serta seorang putra remajanya. Dengan tertangkapnya Pangeran Singasari dan putranya (Raden Mas), pengejaran Belanda terfokus kepada Bupati Malang, Malayakusuma.

Perburuan dilakukan di sepanjang pesisir selatan. Sebab melalui telik sandi Belanda mendapat kabar cucu Surapati tersebut hendak menuju Blambangan (Sekarang Banyuwangi). Malayakusuma bersama keluarganya yang sebagian besar wanita dan anak-anak terkepung di Sabak, dekat Lodalem. Malayakusuma menyerah dan digelandang menuju Malang.

Di saat beristirahat di pinggir pantai. Malayakusuma tiba-tiba merebut sebatang tombak dan menusuk Kopral Smid Van Stam hingga tewas. Melihat itu, seorang pelayan prajurit Belanda sontak mencabut sebilah keris . Malayakusuma langsung ditikamnya. Cucu Surapati tersebut tewas seketika.

Baca juga: Di Patirtan Ini, Cinta Pandangan Pertama Arok-Dedes Bersemi

Dengan marah si pelayan melempar jasad Malayakusuma ke laut. Rombongan lalu melanjutkan perjalanan dengan tawanan yang tersisa. Pada 16 November 1768. Tiba di Wanapala, dua anak Malayakusuma yang masih berusia muda dibunuh . Sedangkan enam wanita, satu anak dan seorang pelayan dikirim ke Surabaya.

Sementara Tirtanagara, adik Malayakusuma yang termuda ditawan pasukan Kompeni di Antang (Sekarang Ngantang). Buntut dari pemberontakan Malang, dan Lumajang, para keturunan dan pengikut Surapati di Blambangan ditangkapi. Begitu juga di Malang. Seluruh keturunan Surapati dan keluarganya ditawan.

Karena dianggap subversif, seluruh keturunan Surapati dan keluarga yang ditangkap kemudian dijatuhi hukuman mati. Mereka yang selamat dalam pemberontakan Malang, dan Lumajang, bersembunyi di wilayah Sultan Mataram.

Baca juga: Mengintip Petilasan Ken Dedes, Ibu Para Raja Nusantara

Namun dua tahun kemudian atas perintah otoritas Belanda di Semarang, Sultan melakukan operasi penangkapan mereka yang teridentifikasi sebagai keturunan Surapati. Tertangkap 21 orang yang dianggap sebagai kelompok terakhir keluarga Surapati.

Belanda menerapkan gagasan tumpes kelor . Yakni menumpas seluruhnya, baik akar maupun batang. Operasi perburuan keturunan Surapati dilakukan hingga ke Ujung Timur Jawa. "Ekspedisi militer Belanda ke Ujung Timur Jawa bertujuan melenyapkan para keturunan Surapati, dan melenyapkan mereka dari politik Jawa secara permanen," tulis Ann Kumar dalam Surapati Man and Legend, A Study of Three Babad Traditions.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Sasar Siswa SMA, Kemendagri...
Sasar Siswa SMA, Kemendagri Gelar Dialog Pemahaman Nilai Sejarah
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Peristiwa Bersejarah...
Peristiwa Bersejarah 21 Mei 1998, BJ Habibie Ucapkan Sumpah Jabatan Presiden di Istana Merdeka
Rekomendasi
Brasil Rajai Daftar...
Brasil Rajai Daftar Gol Terbanyak Sepanjang Sejarah Piala Dunia
Ziarah ke Makam Soekarno...
Ziarah ke Makam Soekarno di Blitar, Kapolri: Menyerap Nilai Pemimpin Bangsa
Garda Bangsa Dukung...
Garda Bangsa Dukung Penuh Program Pemerintahan Prabowo
Berita Terkini
3 Kendaraan Kecelakaan...
3 Kendaraan Kecelakaan di Tol Becakayu, 8 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit
Tahfidz 11 Juz, Alhazen...
Tahfidz 11 Juz, Alhazen Nufail Dapat Beasiswa Yayasan Al-Azhar Kelapa Gading
Haul Akbar Ulama Betawi,...
Haul Akbar Ulama Betawi, Gus Muhaimin Urai Peran Besar Ulama Bangun Bangsa
BPDP Dorong UMKM Perkebunan...
BPDP Dorong UMKM Perkebunan Naik Kelas lewat Inovasi Produk
Jelang Hari Bhayangkara,...
Jelang Hari Bhayangkara, Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Pramono Anung Siapkan 500 Ondel-ondel Karya Desainer Top
Infografis
5 Proyek Jalan Tol di...
5 Proyek Jalan Tol di Pulau Jawa Bakal Beroperasi Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved