Diintai Banjir, Warga Pinggiran Sungai Citarum Diminta Pakai Aplikasi Bencana
Sabtu, 12 Juni 2021 - 15:07 WIB
loading...
A
A
A
Dengan adanya upaya-upaya mitigasi tersebut, Dani meminta warga, khususnya warga di kawasan DAS Citarum tidak panik saat menghadapi bencana. Dani juga menekankan bahwa simulasi penanganan bencana harus dilakukan, sehingga warga terlatih dalam menghadapi bencana.
"Sebenarnya kalau panik pada saat bencana itu normal. Namun bagaimana caranya supaya tidak panik? Maka harus terlatih," ucapnya.
Menurut Dani, berdasarkan hasil survei saat peristiwa bencana gempa besar di Jepang, 35 persen faktor keselamatan ternyata ada pada diri sendiri. Karenanya, warga harus memiliki pengetahuan dan berlatih menghadapi bencana.
"Tapi hal itu tidak cukup karena biasanya ada faktor lain, 32 persen itu faktor keluarga. Jika di rumah ada lansia, balita atau difabel itu harus ditolong dengan latihan. Lalu 27 persennya adalah komunitas karena itu yang paling dekat membantu. Maka perlu ada sosialisasi dan edukasi di tingkat RT, RW, sampai desa," paparnya.
Dani menambahkan, sosialisasi kebencanaan rutin dilakukan oleh BPBD Jabar. Namun, selama pandemi melanda, sosialisasi lebih banyak dilakukan lewat webinar atau virtual.
"Kita bekerja sama dengan BMH, Bandung Mitigasi Hub. Setiap Senin-Jumat jam 11.00 ada diskusi mengenai berbagai isu dan topik kebencanaan. Tinggal buka instagram BMH atau BPBD Jabar nanti akan kita informasikan," katanya.
Dani pun mengingatkan warga selalu waspada dalam menghadapi potensi bencana di DAS Citarum. "Ingatlah ada ibu-ibu pakai kebaya, duduk di kursi memakai kain sulam. Kebaya itu apa? Kenali bahayanya. Duduk di kursi, kursi itu apa? Kurangi risikonya. Lalu kain sulam, siap untuk selamat. Kenali bahayanya, kurangi risikonya, siap untuk selamat," tandasnya.
"Sebenarnya kalau panik pada saat bencana itu normal. Namun bagaimana caranya supaya tidak panik? Maka harus terlatih," ucapnya.
Menurut Dani, berdasarkan hasil survei saat peristiwa bencana gempa besar di Jepang, 35 persen faktor keselamatan ternyata ada pada diri sendiri. Karenanya, warga harus memiliki pengetahuan dan berlatih menghadapi bencana.
"Tapi hal itu tidak cukup karena biasanya ada faktor lain, 32 persen itu faktor keluarga. Jika di rumah ada lansia, balita atau difabel itu harus ditolong dengan latihan. Lalu 27 persennya adalah komunitas karena itu yang paling dekat membantu. Maka perlu ada sosialisasi dan edukasi di tingkat RT, RW, sampai desa," paparnya.
Dani menambahkan, sosialisasi kebencanaan rutin dilakukan oleh BPBD Jabar. Namun, selama pandemi melanda, sosialisasi lebih banyak dilakukan lewat webinar atau virtual.
"Kita bekerja sama dengan BMH, Bandung Mitigasi Hub. Setiap Senin-Jumat jam 11.00 ada diskusi mengenai berbagai isu dan topik kebencanaan. Tinggal buka instagram BMH atau BPBD Jabar nanti akan kita informasikan," katanya.
Dani pun mengingatkan warga selalu waspada dalam menghadapi potensi bencana di DAS Citarum. "Ingatlah ada ibu-ibu pakai kebaya, duduk di kursi memakai kain sulam. Kebaya itu apa? Kenali bahayanya. Duduk di kursi, kursi itu apa? Kurangi risikonya. Lalu kain sulam, siap untuk selamat. Kenali bahayanya, kurangi risikonya, siap untuk selamat," tandasnya.
(shf)
Lihat Juga :