Outlook Wajah Industri Pariwisata di Masa Pandemi COVID-19
Sabtu, 12 Juni 2021 - 09:56 WIB
loading...
A
A
A
“Sekarang banyak hotel yang menerapkan satu kamar satu customer. Kalau dipaksakan dua, enggak boleh single bed, tapi harus twin,” cetusnya.
“Sisi industri pariwisata bukan hanya hotel saja, dan itu tetap harus hidup. Karena di dalam industri ada sekian puluh bahkan ratusan ribu sumber daya tenaga kerja yang mempunyai efek langsung industri pariwisata,” terangnya.
“Jadi intinya dari sisi industri kalau mau beroperasi silakan, tapi dengan mengikuti regulasi mengikuti salah satunya adalah mengikuti protokol yang telah ditentukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” imbuh dia.
Menurutnya, pemerintah saat ini juga dalam posisi tak mudah untuk memberikan izin seluas-luasnya atau bahkan melakukan pelarangan beroperasi. Dua tindakan itu memiliki dampak serius di tengah masyarakat.
“Kemudian dari sisi regulator atau pemerintah. Kalau saya melihatnya seperti buah simalakama. Jika dibuka efeknya nanti penyebaran COVID-19 sulit dikontrol. Makanya dibutuhkan ketegasan pemerintah dalam menerapkan protokol kesehatan,” lanjut dia.
Dia mencontohkan, tindakan tegas pemerintah dilakukan ketika industri pariwisata mulai abai terhadap protokol kesehatan. Pengunjung berjubel tanpa jaga jarak. Untuk itu, pemerintah memberikan sanksi berupa penutupan sementara bagi industri pariwisata tersebut.
“Sisi industri pariwisata bukan hanya hotel saja, dan itu tetap harus hidup. Karena di dalam industri ada sekian puluh bahkan ratusan ribu sumber daya tenaga kerja yang mempunyai efek langsung industri pariwisata,” terangnya.
“Jadi intinya dari sisi industri kalau mau beroperasi silakan, tapi dengan mengikuti regulasi mengikuti salah satunya adalah mengikuti protokol yang telah ditentukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” imbuh dia.
Menurutnya, pemerintah saat ini juga dalam posisi tak mudah untuk memberikan izin seluas-luasnya atau bahkan melakukan pelarangan beroperasi. Dua tindakan itu memiliki dampak serius di tengah masyarakat.
“Kemudian dari sisi regulator atau pemerintah. Kalau saya melihatnya seperti buah simalakama. Jika dibuka efeknya nanti penyebaran COVID-19 sulit dikontrol. Makanya dibutuhkan ketegasan pemerintah dalam menerapkan protokol kesehatan,” lanjut dia.
Dia mencontohkan, tindakan tegas pemerintah dilakukan ketika industri pariwisata mulai abai terhadap protokol kesehatan. Pengunjung berjubel tanpa jaga jarak. Untuk itu, pemerintah memberikan sanksi berupa penutupan sementara bagi industri pariwisata tersebut.
Lihat Juga :