Penyaluran Bansos di Mojokerto Langgar Physical Distancing

Kamis, 21 Mei 2020 - 20:06 WIB
loading...
Penyaluran Bansos di Mojokerto Langgar Physical Distancing
Ratusan warga penerima BST Pemprov Jatim berdesakan di depan kantor Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Foto/SINDOnews/Tritus Julan
A A A
MOJOKERTO - Penyaluran Bantuan Sosial Tunai (BST) terdampak COVID-19 sebesar Rp200.000 di Kota Mojokerto, diwarnai aksi desak-desakan.

Warga pun tidak mengindahkan imbauan physical distancing yang ditetapkan pemerintah. (Baca juga: Karut-marut Penyaluran Bansos Saat Pandemi COVID-19 )

Hal itu terlihat saat penyaluran di kantor Kecamatan Prajurit Kulon dan Magersari, Kota Mojokerto, sekira pukul 14.20 WIB. Ratusan warga penerima bantuan nekat berdesakan satu sama lain. Seakan tidak mengindahkan protokol kesehatan untuk saling menjaga jarak.

Sebelumnya ratusan warga ini nampak antre di luar pintu pagar kantor kecamatan. Begitu pintu pagar dibuka, ratusan warga penerima BST dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur itupun saling berebut posisi terdepan untuk bisa segera dilayani.

Seorang warga Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto Suyono, menceritakan, dia sudah antre sejak pukul 13.00 WIB. Namun, pintu pagar kantor kecamatan baru dibuka satu setengah jam kemudian, sekitar pukul 14.20 WIB.

"Saya baru kali ini dapat bantuan, nominalnya Rp200.000. Ini bantuan dari Dinsos (Dinas Sosial). Sebelumnya dari pemerintah belum dapat, hanya dari bantuan sembako tapi dari lingkungan," kata Suyono, kepada awak media, Kamis (21/5/2020).

Bantuan ini sangat berguna bagi Suyono. Menurut dia, dirinya sudah tidak bekerja sejak bulan April 2020 lalu lantaran pandemi COVID-19. Padahal, dia menghidupi empat orang anak. Sehingga bantuan tersebut sangat dibutuhkan bagi Suyono.

"Alhamdulillah, membantu sekali, buat tambahan belanja sehari-hari. Karena saya sudah tidak bekerja sekarang. Ini juga buat persiapan Lebaran juga," kata dia.

Pria paruh baya ini pun mengaku nekat berjubel bersama warga lainnya dalam penyaluran bantuan ini lantaran khawatir tidak dilayani. Kendati dia sendiri mengaku waswas lantaran banyak warga yang berdesakan dan tidak mematuhi aturan physical distancing.

"Khawatir iya tapi bagaimana lagi. Soalnya saya juga sudah lama antre. Khawatir waktunya habis dan tidak dilayani," kata Suyono.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1127 seconds (10.101#12.26)