Dulu Desa Tertinggal, Wangisagara Kini Punya BUMDes Beromzet Rp30 Miliar
Jum'at, 23 April 2021 - 15:08 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, saat ini BUMDes yang dipimpinnya ini memiliki beberapa unit usaha. Mulai dari pengelolaan pasar tradisional, koperasi simpan pinjam, jual beli produk kerajinan, hingga pengelolaan sarana olahraga dan tempat wisata. Dari lini usaha itu, saat ini pihaknya mengelola aset senilai Rp16 miliar yang semuanya milik pemerintah desa.
Dia menjelaskan, keberhasilan BUMDesnya ini berawal dari inisiatif warga dan aparatur desa untuk membangun pasar tradisional pada medio 2000-an silam. Saat itu, Desa Wangisagara yang masuk kategori desa tertinggal belum memiliki pasar sehingga warganya sulit untuk membeli kebutuhan sehari-hari. "Dulu ke pasar terdekat sekitar 4 km. Akses jalan pun belum bagus," ujarnya.
Melihat kondisi itu, pemerintah desa kemudian memanfaatkan modal Rp150 juta untuk membangun 48 kios. Pasar itu kini semakin berkembang sehingga terdapat 150 kios yang disewakan per 10 tahun sekali. Selain dari sewa kios, pihaknya juga menerima pendapatan dari retribusi.
Sementara koperasi simpan pinjam yang menyasar pedagang dan warga sekitar sebagai nasabahnya juga berkembang dan membukukan laba yang signifikan. Bahkan, hingga saat ini keuntungan terbesar berasal dari simpan pinjam yang telah memiliki sekitar 3.000 nasabah, termasuk dari desa lain.
Kendati begitu, mengelola BUMDes Niagara bukan tanpa persoalan. Neneng mengakui pihaknya masih kesulitan ketika mengembangkan unit usaha jual beli produk kerajinan. Terutama dalam membuka pasar untuk menjual hasil produksi warga sekitar seperti sandal, sepatu, dompet, dan tas.
Dia menjelaskan, keberhasilan BUMDesnya ini berawal dari inisiatif warga dan aparatur desa untuk membangun pasar tradisional pada medio 2000-an silam. Saat itu, Desa Wangisagara yang masuk kategori desa tertinggal belum memiliki pasar sehingga warganya sulit untuk membeli kebutuhan sehari-hari. "Dulu ke pasar terdekat sekitar 4 km. Akses jalan pun belum bagus," ujarnya.
Melihat kondisi itu, pemerintah desa kemudian memanfaatkan modal Rp150 juta untuk membangun 48 kios. Pasar itu kini semakin berkembang sehingga terdapat 150 kios yang disewakan per 10 tahun sekali. Selain dari sewa kios, pihaknya juga menerima pendapatan dari retribusi.
Sementara koperasi simpan pinjam yang menyasar pedagang dan warga sekitar sebagai nasabahnya juga berkembang dan membukukan laba yang signifikan. Bahkan, hingga saat ini keuntungan terbesar berasal dari simpan pinjam yang telah memiliki sekitar 3.000 nasabah, termasuk dari desa lain.
Kendati begitu, mengelola BUMDes Niagara bukan tanpa persoalan. Neneng mengakui pihaknya masih kesulitan ketika mengembangkan unit usaha jual beli produk kerajinan. Terutama dalam membuka pasar untuk menjual hasil produksi warga sekitar seperti sandal, sepatu, dompet, dan tas.
Lihat Juga :