RS Nyatakan Penyair Umbu Landu Paranggi Meninggal Karena COVID-19

loading...
RS Nyatakan Penyair Umbu Landu Paranggi Meninggal Karena COVID-19
Penyair legendaris Umbu Landu Paranggi wafat di Bali, Selasa (6/4/2021). Begawan sastra Indonesia itu terkonfirmasi meninggal akibat COVID-19. Foto/Twitter @ganjarpranowo
DENPASAR - Penyair legendaris Umbu Landu Paranggi wafat di Rumah Sakit Bali Mandara, Sanur, Denpasar, Bali , Selasa (6/4/2021) dini hari. Begawan sastra Indonesia itu terkonfirmasi meninggal akibat COVID-19.

Baca juga: Presiden Malioboro Umbu Landu Paranggi Tutup Usia, Ini Sosoknya

"Meninggal (terkonfirmasi) positif COVID-19," kata Kasubag Humas Rumah Sakit Bali Mandara I Gusti Agung Putu Aditya Mahendra ketika dihubungi.,Selasa (6/4/2021) siang.

Baca juga: Penyair Umbu Landu Paranggi Berpulang

Dari laporan yang dia terima dari petugas rumah sakit, Aditya mengatakan almarhum sempat dirawat di ruang ICU dalam dua hari terakhir.



Namun dia belum mengetahui kapan persisnya Umbu masuk ke rumah sakit. Begitu juga dengan diagnosa awal saat masuk rumah sakit. Hingga kini, jenasah masih berada di kamar jenasah. "Petugas masih melakukan proses formalin," ujar Aditya.

Umbu meninggal dalam usia 77 tahun dinihari tadi. Berpulangnya mahaguru sastra Nusantara itu meninggalkan duka mendalam bagi pegiat sastra tanah air.

Umbu lahir di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Dia dikenal sebagai "Presiden Malioboro" karena banyak bergiat di kawasan Malioboro, Yogyakarta itu pada dasawarsa 1970-an bersama PSK (Persada Studi Klub) yang didirikannya dengan sekian banyak kawan dan muridnya, seperti Linus Suryadi AG, Iman Budi Santosa, Korrie Layun Rampan, Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, dan lainnya.

Awalnya, pada tahun 1969, Umbu mengasuh rubrik sastra di mingguan Pelopor Yogya. Kantornya ada di Jalan Malioboro. Dia bersama Iman Budhi Santosa, Teguh Ranusastra Asmara, Ragil Suwarno Pragolopati, Suparno S. Adhy, Ipan Sugiyanto Sugito, Mugiyono Gitowarsono, kemudia mendirikan Persada Studi Klub (PSK).

Umbu pulang kampung ke Sumba pada tahun 1975. Tiga tahun kemudian dia menetap di Bali. Pada 1979, ia menjadi redaktur sastra di harian Bali Post dan menjadi guru bagi para sastrawan muda Bali. Beberapa muridnya di Bali antara lain, Putu Fajar Arcana, Cok Sawitri, Oka Rusmini hingga Raudal Tanjung Banua.



Alumnus jurusan Sosiatri, Fisipol UGM ini betah menetap dan banyak berkesenian di Bali hingga meninggal. Banyak pencapaian dan pengakuan atas sepak terjangnya sebagai penyair atau seniman. Antara lain Umbu mendapatkan Penghargaan Seni pada tahun 2019 dari Akademi Jakarta.
(shf)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top