Kisah Maling Aguno, Si Pencuri Sakti Berhati Budiman yang Selalu Membikin Resah Orang-orang Kaya
Sabtu, 03 April 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Tatok percaya, kisah Maling Aguno bukan sepenuhnya legenda. Ia meyakini ada. Sebab keberadaan makam Maling Aguno , betul-betul ada. "Saya kira Maling Aguno betul-betul ada. Karena ada makamnya," terang Tatok menceritakan di mana makam itu berada.
Baca juga: Hasil Uji GeNose C 19 Positif, 54 Penumpang Pesawat di Bandara Juanda Gagal Terbang
Makam itu terletak di kawasan tebing Gunung Pegat , wilayah Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Tepatnya di Desa Prambutan yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Ponggok. Lokasinya di bawah Situs Pertapaan.
Yakni puncak Gunung Pegat setinggi 200 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang konon Dewi Kilisuci, putri sulung Prabu Airlangga, Raja Kahuripan, pernah bertapa. Lokasi makam juga tidak terpaut jauh dari situs Candi Mleri di Desa Bagelenan, tempat persemayaman abu jenazah Ranggawuni atau Wisnuwardhana, Raja Singasari ketiga.
"Apakah masih ada kaitan dengan pertapaan Dewi Kilisuci dan Candi Mleri?, sampai hari ini jawabanya masih misteri," tambahnya. Baca juga: Kisah Kejayaan Majapahit dan Mitos-mitos Misterius yang Menyelubunginya
Secara topografi, lokasi makam tersebut tersembunyi di kawasan hutan. Akses menuju lokasi berupa jalan setapak yang sarat tanjakan. Tanahnya merah bercampur bebatuan. Tidak hanya terjal. Tanah tersebut juga berkarakter licin saat tersiram air hujan.
Karenanya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sekitar 20 meter sebelum makam, berdiri bongkahan batu kuno yang diduga bagian dari konstruksi bangunan candi. Di atasnya terlihat sisa abu pembakaran dupa. Makam Maling Aguno membujur dengan arah mata angin Utara-Selatan.
Pada bagian kedua ujungnya, masing-masing tertancap nisan. Namun tidak ada tulisan nama. Juga bersih dari angka tahun. Yang unik pada bagian pusaranya. Bukan gundukan tanah. Melainkan tumpukan potongan batu candi. Entah siapa yang meletakannya. "Saya pertama kali ziarah makam Maling Aguno sejak masih madrasah tsanawiyah. Dari dulu pusaranya ya seperti itu," terang Tatok menjelaskan.
Baca juga: Kisah Kesaktian Hang Tuah dan Keris Taming Sari Menjaga Kedaulatan Kesultanan Malaka
Bagi sebagian besar masyarakat Blitar, Maling Aguno dianggap sebagai pencuri budiman. Semacam Robin Hood di Inggris, yang menyatroni para bangsawan untuk dibagi bagikan kepada rakyat jelata. Semacam Brandal Loka Jaya di Tuban. Maling Cluring di Jombang.
Maling Kentiri di Kediri (Ada yang menyebut Blora). Diego Carrientes di Spanyol. Atau Janosik di Slovakia. Begitu juga dengan Maling Aguno . Kata Tatok, hasil dari aksi kejahatannya untuk disedahkan kepada orang orang miskin.
Ia hanya menyasar orang-orang kaya tamak. Mereka yang menumpuk-numpuk harta tanpa mempedulikan nasib rakyat jelata. Karenanya, meskipun secara hukum melanggar, rakyat kecil tetap mencintainya. Tidak jarang rakyat memilih bersikap melindungi saat Maling Aguno dikejar-kejar.
Baca juga: Hasil Uji GeNose C 19 Positif, 54 Penumpang Pesawat di Bandara Juanda Gagal Terbang
Makam itu terletak di kawasan tebing Gunung Pegat , wilayah Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Tepatnya di Desa Prambutan yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Ponggok. Lokasinya di bawah Situs Pertapaan.
Yakni puncak Gunung Pegat setinggi 200 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang konon Dewi Kilisuci, putri sulung Prabu Airlangga, Raja Kahuripan, pernah bertapa. Lokasi makam juga tidak terpaut jauh dari situs Candi Mleri di Desa Bagelenan, tempat persemayaman abu jenazah Ranggawuni atau Wisnuwardhana, Raja Singasari ketiga.
"Apakah masih ada kaitan dengan pertapaan Dewi Kilisuci dan Candi Mleri?, sampai hari ini jawabanya masih misteri," tambahnya. Baca juga: Kisah Kejayaan Majapahit dan Mitos-mitos Misterius yang Menyelubunginya
Secara topografi, lokasi makam tersebut tersembunyi di kawasan hutan. Akses menuju lokasi berupa jalan setapak yang sarat tanjakan. Tanahnya merah bercampur bebatuan. Tidak hanya terjal. Tanah tersebut juga berkarakter licin saat tersiram air hujan.
Karenanya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sekitar 20 meter sebelum makam, berdiri bongkahan batu kuno yang diduga bagian dari konstruksi bangunan candi. Di atasnya terlihat sisa abu pembakaran dupa. Makam Maling Aguno membujur dengan arah mata angin Utara-Selatan.
Pada bagian kedua ujungnya, masing-masing tertancap nisan. Namun tidak ada tulisan nama. Juga bersih dari angka tahun. Yang unik pada bagian pusaranya. Bukan gundukan tanah. Melainkan tumpukan potongan batu candi. Entah siapa yang meletakannya. "Saya pertama kali ziarah makam Maling Aguno sejak masih madrasah tsanawiyah. Dari dulu pusaranya ya seperti itu," terang Tatok menjelaskan.
Baca juga: Kisah Kesaktian Hang Tuah dan Keris Taming Sari Menjaga Kedaulatan Kesultanan Malaka
Bagi sebagian besar masyarakat Blitar, Maling Aguno dianggap sebagai pencuri budiman. Semacam Robin Hood di Inggris, yang menyatroni para bangsawan untuk dibagi bagikan kepada rakyat jelata. Semacam Brandal Loka Jaya di Tuban. Maling Cluring di Jombang.
Maling Kentiri di Kediri (Ada yang menyebut Blora). Diego Carrientes di Spanyol. Atau Janosik di Slovakia. Begitu juga dengan Maling Aguno . Kata Tatok, hasil dari aksi kejahatannya untuk disedahkan kepada orang orang miskin.
Ia hanya menyasar orang-orang kaya tamak. Mereka yang menumpuk-numpuk harta tanpa mempedulikan nasib rakyat jelata. Karenanya, meskipun secara hukum melanggar, rakyat kecil tetap mencintainya. Tidak jarang rakyat memilih bersikap melindungi saat Maling Aguno dikejar-kejar.
Lihat Juga :