Jadi Pembicara Zero Carbon City, Anies: Jakarta Telah Turunkan 26% Efek Gas Rumah Kaca
Rabu, 17 Maret 2021 - 22:30 WIB
loading...
A
A
A
“Kami telah mengubah paradigma pembangunan kota berorientasi mobil menjadi pembangunan berorientasi transit dengan melakukan integrasi sistem transportasi umum massal, hingga akhirnya kami mendapatkan penghargaan Sustainable Transport Award 2020,” ungkapnya.
“Selain itu kami juga menetapkan kota tua sebagai zona rendah emisi, mewajibkan setiap kendaraan pribadi lolos uji emisi, merevitalisasi trotoar, menyiapkan jalur sepeda dan tempat parkir sepeda, serta masih banyak lagi,” lanjutnya. (Baca juga; Anies dan Jusuf Kalla Hadiri Pengukuhan DMI Jakarta, Warganet: Anies-JK for 2024 Mantap )
Anies juga mengakui, usaha untuk mengurangi emisi gas rumah kaca terbantu dengan adanya pandemi COVID-19. Sebab, pandemi yang memberikan dampak negatif utamanya di bidang kesehatan, ternyata juga memiliki dampak positif dengan keluarnya Jakarta sebagai 10 besar kota termacet di dunia versi TomTom Traffic Index, sehingga secara langsung membuat peningkatan kualitas udara di Jakarta.
Lebih lanjut, Anies menyampaikan bahwa menjadi kota berketahanan tidak dapat dilakukan oleh Jakarta saja. Melainkan perlu adanya kolaborasi dengan berbagai pihak dan para pemangku kepentingan, saling berbagi ilmu dan pengalaman dengan berbagai kota lain di dunia. (Baca juga; Berangkat Kerja Naik MRT, Anies Diminta Setiap Hari Gunakan Moda Transportasi )
Maka dari itu Jakarta telah menetapkan dirinya sebagai kota kolaborasi sehingga semua warganya memiliki perasaan kepemilikan atas suatu masalah dan akan diselesaikan juga secara bersama-sama. “Kami menyediakan platform Jakarta Development Collaboration Network (JDCN) di mana merupakan model kolaborasi lintas sektor, bahkan kami juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai kota di dunia,” tutup Anies.
“Selain itu kami juga menetapkan kota tua sebagai zona rendah emisi, mewajibkan setiap kendaraan pribadi lolos uji emisi, merevitalisasi trotoar, menyiapkan jalur sepeda dan tempat parkir sepeda, serta masih banyak lagi,” lanjutnya. (Baca juga; Anies dan Jusuf Kalla Hadiri Pengukuhan DMI Jakarta, Warganet: Anies-JK for 2024 Mantap )
Anies juga mengakui, usaha untuk mengurangi emisi gas rumah kaca terbantu dengan adanya pandemi COVID-19. Sebab, pandemi yang memberikan dampak negatif utamanya di bidang kesehatan, ternyata juga memiliki dampak positif dengan keluarnya Jakarta sebagai 10 besar kota termacet di dunia versi TomTom Traffic Index, sehingga secara langsung membuat peningkatan kualitas udara di Jakarta.
Lebih lanjut, Anies menyampaikan bahwa menjadi kota berketahanan tidak dapat dilakukan oleh Jakarta saja. Melainkan perlu adanya kolaborasi dengan berbagai pihak dan para pemangku kepentingan, saling berbagi ilmu dan pengalaman dengan berbagai kota lain di dunia. (Baca juga; Berangkat Kerja Naik MRT, Anies Diminta Setiap Hari Gunakan Moda Transportasi )
Maka dari itu Jakarta telah menetapkan dirinya sebagai kota kolaborasi sehingga semua warganya memiliki perasaan kepemilikan atas suatu masalah dan akan diselesaikan juga secara bersama-sama. “Kami menyediakan platform Jakarta Development Collaboration Network (JDCN) di mana merupakan model kolaborasi lintas sektor, bahkan kami juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai kota di dunia,” tutup Anies.
(wib)
Lihat Juga :