Begini Awal Mula Rumah Warga di Ciledug Dipagar Beton Setinggi 2 Meter
Jum'at, 12 Maret 2021 - 23:17 WIB
loading...
A
A
A
Persoalan baru muncul setelah banjir besar, pada Februari 2021. Saat banjir, pagar beton yang dibangun Anas jebol diterjang air. Sementara itu, Anna Melinda (30), anak almarhum H Munir menambahkan, pihak ahli waris tanah jalan itu menyalahkan keluarganya saat tembok jebol. Pada 22-23 Februari 2021, tembok yang jebol dibeton lagi. Termasuk akses masuk rumah almarhum Munir.
"Almarhum papa saya dulu beli tanah dipelelangan. Otomatis udah berikut jalan dong. Jadi sengketanya diakses jalan. Kolam renang sudah tidak aktif. Sekarang isinya perlengkapan fitnes saja," jelasnya. Anna dan keluarga pun tidak tahu sebab ahli waris menutup akses jalan utama depan rumahnya. Saat melakukan pembetonan, adiknya sempat bertanya kenapa hal itu dilakukan, tetapi dijawab emosional.
"Tidak tahu, dia datang marah-marah bawa golok dan mengancam mamah saya dengan golok. Sekarang mamah saya sakit, kepikiran," ungkapnya. Sejak akses masuk rumahnya ditutup, Anna sangat kesulitan. Tidak hanya untuk keperluan membeli makan, untuk mengantar anaknya les pun dia sangat susah. Pagar beton yang menutup rumahnya benar-benar membuat hidupnya menjadi terpenjara.
"Saya kalau mau antar les anak lewat pintu gerbang, pinjam kunci. Kadang dikasih. Tetapi pas sudah keluar, gak bisa ngapa-ngapain lagi. Gak bisa masuk, harus manjat. Soalnya gak dikasih kunci. Anak saya takut, dia lihat mamah diancam golok," tukasnya.
"Almarhum papa saya dulu beli tanah dipelelangan. Otomatis udah berikut jalan dong. Jadi sengketanya diakses jalan. Kolam renang sudah tidak aktif. Sekarang isinya perlengkapan fitnes saja," jelasnya. Anna dan keluarga pun tidak tahu sebab ahli waris menutup akses jalan utama depan rumahnya. Saat melakukan pembetonan, adiknya sempat bertanya kenapa hal itu dilakukan, tetapi dijawab emosional.
"Tidak tahu, dia datang marah-marah bawa golok dan mengancam mamah saya dengan golok. Sekarang mamah saya sakit, kepikiran," ungkapnya. Sejak akses masuk rumahnya ditutup, Anna sangat kesulitan. Tidak hanya untuk keperluan membeli makan, untuk mengantar anaknya les pun dia sangat susah. Pagar beton yang menutup rumahnya benar-benar membuat hidupnya menjadi terpenjara.
"Saya kalau mau antar les anak lewat pintu gerbang, pinjam kunci. Kadang dikasih. Tetapi pas sudah keluar, gak bisa ngapa-ngapain lagi. Gak bisa masuk, harus manjat. Soalnya gak dikasih kunci. Anak saya takut, dia lihat mamah diancam golok," tukasnya.
(hab)
Lihat Juga :