Sunan Giri, Ahli Jurnalistik yang Tulisannya Mengguncang Kerajaan Majapahit
Jum'at, 12 Maret 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Menyegarkan ingatan, Sunan Giri lahir di Blambangan 1442. Putra dari Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu dari Blambangan. Blambangan itu masuk wilayah Kerajaan Majapahit di masa-masa akhir.
Namun, kelahiran Sunan Giri yang punya nama Raden Ainul Yaqin sempat membawa kutukan. Karenanya, dipaksa untuk diasingkan. Akhirnya, Sunan Giri dibuang ke laut, saat ini Selat Bali. Akhirnya awak kapal bernama Sobir dan Sabar menemukan. Dan dibawa ke Gresik.
Sesampainya di Gresik yang saat itu masuk wilayah Surabaya, bayi laki-laki itu diadopsi seorang wanita yang saudagar. Beliau, Nyai Ageng Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, Nyi Ageng menamai Joko Samudro. Beranjak dewasa, Joko Samudro dipondokan di Sunan Ampel. Hingga, menjadi santri kesayangan.
Bersama Makdhum Ibrahim atau Sunan Bonang dikirim belajar ke Pasai. Ternyata Joko Samudro bertemu dengan orang tuanya, Maulana Ishaq. Akhirnya, Joko Samudro atau Sunan Giri mengetahui identitasnya. Alasan hingga dibuang ke laut.
Cerita punya cerita, Sunan Giri memutuskan kembali ke Gresik. Tepatnya, ke pegunungan Giri Kedaton. Beliau mendirikan pesantren yang juga pusat pemerintahan. Namanya, Giri Kedaton. Lokasinya di Desa Giri, Kecamatan Gresik, Jawa Timur. Selain sebagai pesantren, juga pusat pemerintahan. Ratusan santri belajar di pesantren tersebut.
Sebagai pusat pemerintahan atau kerajaan, pengaruh Giri Kedaton cukup luas. Tidak cukup di Jawa dan Madura, tetapi sampai Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.
Kehidupan Sunan Giri yang dinamis sejak lahir. Membuat beliau punya banyak panggilan. Diantaranya; Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden Ainul Yaqin dan Joko Samudro.
Pengaruh itu tidak didapat Sunan Giri tiba-tiba. Namun melalui tahapan tirakat yang luar biasa. Bahkan, beliau piawai di bidang jurnalistik alias tulis-menulis.
Namun, kelahiran Sunan Giri yang punya nama Raden Ainul Yaqin sempat membawa kutukan. Karenanya, dipaksa untuk diasingkan. Akhirnya, Sunan Giri dibuang ke laut, saat ini Selat Bali. Akhirnya awak kapal bernama Sobir dan Sabar menemukan. Dan dibawa ke Gresik.
Sesampainya di Gresik yang saat itu masuk wilayah Surabaya, bayi laki-laki itu diadopsi seorang wanita yang saudagar. Beliau, Nyai Ageng Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, Nyi Ageng menamai Joko Samudro. Beranjak dewasa, Joko Samudro dipondokan di Sunan Ampel. Hingga, menjadi santri kesayangan.
Bersama Makdhum Ibrahim atau Sunan Bonang dikirim belajar ke Pasai. Ternyata Joko Samudro bertemu dengan orang tuanya, Maulana Ishaq. Akhirnya, Joko Samudro atau Sunan Giri mengetahui identitasnya. Alasan hingga dibuang ke laut.
Cerita punya cerita, Sunan Giri memutuskan kembali ke Gresik. Tepatnya, ke pegunungan Giri Kedaton. Beliau mendirikan pesantren yang juga pusat pemerintahan. Namanya, Giri Kedaton. Lokasinya di Desa Giri, Kecamatan Gresik, Jawa Timur. Selain sebagai pesantren, juga pusat pemerintahan. Ratusan santri belajar di pesantren tersebut.
Sebagai pusat pemerintahan atau kerajaan, pengaruh Giri Kedaton cukup luas. Tidak cukup di Jawa dan Madura, tetapi sampai Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.
Kehidupan Sunan Giri yang dinamis sejak lahir. Membuat beliau punya banyak panggilan. Diantaranya; Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden Ainul Yaqin dan Joko Samudro.
Pengaruh itu tidak didapat Sunan Giri tiba-tiba. Namun melalui tahapan tirakat yang luar biasa. Bahkan, beliau piawai di bidang jurnalistik alias tulis-menulis.
(msd)
Lihat Juga :