Padaherang Digenangi Banjir, Warga: Sudah Sejak Puluhan Tahun Begini
Senin, 08 Februari 2021 - 15:37 WIB
loading...
A
A
A
Dampaknya, masyarakat selain kehilangan mata pencaharian dari bertani, pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) juga tersendat. "Kalau pembayaran PBB mencapai target 50 persen saja itu sudah beruntung, karena pada masa tanam pertama masyarakat rugi lantaran tidak panen padi," tambahnya.
Baca juga: Upaya BKSDA Blitar Melacak 'Sang Legenda' Harimau Jawa di Lereng Wilis
Sano menambahkan, areal pesawahan baru bisa dikelola apabila debit Sungai Citanduy sudah mulai surut. Kondisinya, pembuangan air pada areal pesawahan yang terendam banjir hanya ke Sungai Citanduy. "Sawah di sini selalu terendam banjir karena debit Sungai Citanduy lebih tinggi dari area pesawahan," jelasnya.
Saat ini masyarakat yang hidup dari bertani beralih profesi menjadi pencari ikan, dan mencetak bata merah sebagai pengganti pekerjaan bertani dan buruh tani. Baca juga: Miris, Berbulan-bulan Tugas di Ruang Isolasi COVID-19 Puluhan Nakes Tak Terima Insentif
"Harapan kami Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat segera mencari solusi persoalan banjir yang terus melanda daerah kami," paparnya. Diterangkan Sano, pernah ada wacana penanganan melalui pembuatan embung dan sudah dibuatkan (DED) namun hingga kini belum terealisasi.
Baca juga: Upaya BKSDA Blitar Melacak 'Sang Legenda' Harimau Jawa di Lereng Wilis
Sano menambahkan, areal pesawahan baru bisa dikelola apabila debit Sungai Citanduy sudah mulai surut. Kondisinya, pembuangan air pada areal pesawahan yang terendam banjir hanya ke Sungai Citanduy. "Sawah di sini selalu terendam banjir karena debit Sungai Citanduy lebih tinggi dari area pesawahan," jelasnya.
Saat ini masyarakat yang hidup dari bertani beralih profesi menjadi pencari ikan, dan mencetak bata merah sebagai pengganti pekerjaan bertani dan buruh tani. Baca juga: Miris, Berbulan-bulan Tugas di Ruang Isolasi COVID-19 Puluhan Nakes Tak Terima Insentif
"Harapan kami Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat segera mencari solusi persoalan banjir yang terus melanda daerah kami," paparnya. Diterangkan Sano, pernah ada wacana penanganan melalui pembuatan embung dan sudah dibuatkan (DED) namun hingga kini belum terealisasi.
(eyt)
Lihat Juga :