Ada Guguran Awan Panas Dari Puncak Semeru, Warga Diminta Waspada
Jum'at, 17 April 2020 - 17:36 WIB
loading...
A
A
A
"Apabila terjadi sumbatan dan ada dorongan energi yang besar dari dalam kawah, dikawatirkan akan memicu munculnya pergerakan magma menembus celah batuan yang lebih muda di sekitar kawah," terang pria asli Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Dia menyebutkan, dalam sejarahnya kawah Gunung Semeru terus berpindah-pindah. Pada awalnya, kawah berada di wilayah Ayeg-ayeg, lalu Kalimati, terus berpindah ke Mahameru, dan saat ini berada di Jonggring Seloko.
Periode perpindahannya, diakuinya belum pernah diketahui berapa ratus tahun terjadinya. Yang pasti, kawah Jonggring Salaka sebagai kawah termuda usianya sudah mencapai ratusan tahun.
Pada tahun 1941, dia menyebutkan, sempat terjadi letusan magma di kawah baru, yang dikenal masyarakat sebagai Kawah Kemerling. Letusan magma ini terjadi di bawah Kawah Jonggring Seloko, dan berjarak sekitar 4 km dari permukiman warga.
Potensi bahaya bencana alam lainnya dari Gunung Semeru, yang memiliki tipe letusan stombolian dengan kubah lava tersebut, menurut Liswanto adalah adanya guguran awan panas dari puncak gunung. "Tahun 1994 luncuran awan panas mencapai 14 km dari puncak, sementara tahun 2006 mencapai sejauh 4 km dari puncak," ungkapnya.
Sementara itu menurut Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Lapangan dan Kehumasan, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Sarif Hidayat, telah melaporkan perkembangan kondisi yang terjadi di puncak Gunung Semeru, kepada petugas lapangan di Pronojiwo, agar proaktif menanggapi informasi yang disampaikan Pos Pantau Gunung Apri Semeru.
"Petugas di lapangan, diminta untuk menyosialisasikan kondisi Gunung Semeru, agar masyarakat tetap tenang namun selalu waspada, sehingga bisa meminimalisir potensi korban akibat bencana skunder. Terutama lokasi sekitar Besuk Kembar, Besuk Kobokan, dan Besuk Bang," tuturnya.
Dia menyebutkan, dalam sejarahnya kawah Gunung Semeru terus berpindah-pindah. Pada awalnya, kawah berada di wilayah Ayeg-ayeg, lalu Kalimati, terus berpindah ke Mahameru, dan saat ini berada di Jonggring Seloko.
Periode perpindahannya, diakuinya belum pernah diketahui berapa ratus tahun terjadinya. Yang pasti, kawah Jonggring Salaka sebagai kawah termuda usianya sudah mencapai ratusan tahun.
Pada tahun 1941, dia menyebutkan, sempat terjadi letusan magma di kawah baru, yang dikenal masyarakat sebagai Kawah Kemerling. Letusan magma ini terjadi di bawah Kawah Jonggring Seloko, dan berjarak sekitar 4 km dari permukiman warga.
Potensi bahaya bencana alam lainnya dari Gunung Semeru, yang memiliki tipe letusan stombolian dengan kubah lava tersebut, menurut Liswanto adalah adanya guguran awan panas dari puncak gunung. "Tahun 1994 luncuran awan panas mencapai 14 km dari puncak, sementara tahun 2006 mencapai sejauh 4 km dari puncak," ungkapnya.
Sementara itu menurut Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Lapangan dan Kehumasan, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Sarif Hidayat, telah melaporkan perkembangan kondisi yang terjadi di puncak Gunung Semeru, kepada petugas lapangan di Pronojiwo, agar proaktif menanggapi informasi yang disampaikan Pos Pantau Gunung Apri Semeru.
"Petugas di lapangan, diminta untuk menyosialisasikan kondisi Gunung Semeru, agar masyarakat tetap tenang namun selalu waspada, sehingga bisa meminimalisir potensi korban akibat bencana skunder. Terutama lokasi sekitar Besuk Kembar, Besuk Kobokan, dan Besuk Bang," tuturnya.
(eyt)
Lihat Juga :