Ada Guguran Awan Panas Dari Puncak Semeru, Warga Diminta Waspada
Jum'at, 17 April 2020 - 17:36 WIB
loading...
A
A
A
Masyarakat diimbau lebih waspada terhadap bahaya skunder dari Gunung Semeru, utamanya saat masih sering terjadi hujan di kawasan puncak, dan material vulkanik menumpuk di puncak.
Sewaktu-waktu material vulkanik tersebut bisa meluncur ke bawah, melalui aliran-aliran sungai yang berhulu di kawasan Gunung Semeru, akibat adanya hujan deras di kawasan puncak. "Sejak tahun 2010, di kawah Jonggring Seloko, yang merupakan kawah termuda Gunung Semeru, terus mengalami fase pembentukan kubah lava," terang Liswanto.
Saat ini material vulkanik yang terbentuk sejak tahun 2010 tersebut, diperkirakan telah mencapai lebih dari 100 juta meter kubik. "Pada awal pemantauan yang kami lakukan tahun 2010, baru terbentuk kubah lava sekitar 5 meter kubik. Kubah lava tersebut terus tumbuh, dan tahun 2017 kami amati sudah mencapai sekitar 100 juta meter kubik," tuturnya.
![Ada Guguran Awan Panas Dari Puncak Semeru, Warga Diminta Waspada]()
Material vulkanik ini kondisinya labil, sehingga ketika terjadi dorongan energi dari dalam kawah gunung, atau terkena gerusan air hujan dengan intensitas tinggi, bisa runtuh dan meluncur ke bawah menjadi lahar hujan.
Selain lahar hujan, bahaya bencana skunder yang perlu diwaspadai dari Gunung Semeru, menurut Liswanto adalah semburan material vulkanik yang dipicu oleh dorongan energi dari dalam kawah.
"Material vulkanik ini bisa mengganggu jalur penerbangan pesawat dari Bandara Abdulrachman Saleh Malang, karena sebaran material vulkaniknya berada di kawasan jalur penerbangan. Ini yang selalu kami pantau dan waspadai, demi keselamatan penerbangan," ungkapnya.
Pria yang sudah 25 tahun bertugas mengamati gunung api tersebut menjelaskan, keberadaan tumpukan material vulkanik di sekitar kawah tersebut bisa juga menimbulkan sumbatan pada saluran magma dari dalam kawah.
Sewaktu-waktu material vulkanik tersebut bisa meluncur ke bawah, melalui aliran-aliran sungai yang berhulu di kawasan Gunung Semeru, akibat adanya hujan deras di kawasan puncak. "Sejak tahun 2010, di kawah Jonggring Seloko, yang merupakan kawah termuda Gunung Semeru, terus mengalami fase pembentukan kubah lava," terang Liswanto.
Saat ini material vulkanik yang terbentuk sejak tahun 2010 tersebut, diperkirakan telah mencapai lebih dari 100 juta meter kubik. "Pada awal pemantauan yang kami lakukan tahun 2010, baru terbentuk kubah lava sekitar 5 meter kubik. Kubah lava tersebut terus tumbuh, dan tahun 2017 kami amati sudah mencapai sekitar 100 juta meter kubik," tuturnya.

Material vulkanik ini kondisinya labil, sehingga ketika terjadi dorongan energi dari dalam kawah gunung, atau terkena gerusan air hujan dengan intensitas tinggi, bisa runtuh dan meluncur ke bawah menjadi lahar hujan.
Selain lahar hujan, bahaya bencana skunder yang perlu diwaspadai dari Gunung Semeru, menurut Liswanto adalah semburan material vulkanik yang dipicu oleh dorongan energi dari dalam kawah.
"Material vulkanik ini bisa mengganggu jalur penerbangan pesawat dari Bandara Abdulrachman Saleh Malang, karena sebaran material vulkaniknya berada di kawasan jalur penerbangan. Ini yang selalu kami pantau dan waspadai, demi keselamatan penerbangan," ungkapnya.
Pria yang sudah 25 tahun bertugas mengamati gunung api tersebut menjelaskan, keberadaan tumpukan material vulkanik di sekitar kawah tersebut bisa juga menimbulkan sumbatan pada saluran magma dari dalam kawah.
Lihat Juga :