Gubernur Sulsel Kunjungi Tana Beru, Desa Asal Lahirnya Kapal Pinisi
Kamis, 04 Februari 2021 - 15:25 WIB
loading...
A
A
A
Nurdin juga menanyakan kendala apa yang dihadapi oleh para pembuat kapal, salah satunya, Rusdi Mulyadi yang akrab disapa Haji Ulli, yang saat ini tengah mengerjakan lima kapal.
Baca juga: Pemkab Bulukumba Akhirnya Punya Aset Kapal Pinisi
Dalam kesempatan itu, Ulli meminta agar pemerintah memberikan dukungan dengan mempermudah material bahan pembuatan kapal masuk ke Sulsel. "Kami cuma minta dukungan pemerintah untuk mempermudah masuknya material. Material dari Kendari," pinta Ulli.
Ulli menyampaikan, kemampuan membuat kapal diwarisi dari orang tuanya, Haji Muslim Baso. Ia merekrut tenaga kerja dari warga setempat sebagai upaya pelestarian budaya dari nenek moyang.
Ia menjelaskan, pemesan kapal kebanyakan datang dari luar negeri, sebanyak 75 persen. Pemesan biasanya melakukan survei terlebih dulu sebelum memesan. Tanpa promosi, karyanya dikenal dari unggahan sosial media para wisatawan.
"Rata-rata mereka melakukan survei. Saya berkomunikasi langsung, kalau rumit pakai penerjemah bahasa. Kapal ini investasinya besar, otomatis orang melalui tahap survei dulu. Kami tidak pernah upload di medsos . Cuma pengunjung datang foto-foto meminta izin (upload), kami bilang silahkan itu bagian dari promosi," ungkapnya.
Baca juga: Tinjau Pulau Lantigiang Selayar, Nurdin Sebut Tidak Mungkin Diperjual-belikan
Baca juga: Pemkab Bulukumba Akhirnya Punya Aset Kapal Pinisi
Dalam kesempatan itu, Ulli meminta agar pemerintah memberikan dukungan dengan mempermudah material bahan pembuatan kapal masuk ke Sulsel. "Kami cuma minta dukungan pemerintah untuk mempermudah masuknya material. Material dari Kendari," pinta Ulli.
Ulli menyampaikan, kemampuan membuat kapal diwarisi dari orang tuanya, Haji Muslim Baso. Ia merekrut tenaga kerja dari warga setempat sebagai upaya pelestarian budaya dari nenek moyang.
Ia menjelaskan, pemesan kapal kebanyakan datang dari luar negeri, sebanyak 75 persen. Pemesan biasanya melakukan survei terlebih dulu sebelum memesan. Tanpa promosi, karyanya dikenal dari unggahan sosial media para wisatawan.
"Rata-rata mereka melakukan survei. Saya berkomunikasi langsung, kalau rumit pakai penerjemah bahasa. Kapal ini investasinya besar, otomatis orang melalui tahap survei dulu. Kami tidak pernah upload di medsos . Cuma pengunjung datang foto-foto meminta izin (upload), kami bilang silahkan itu bagian dari promosi," ungkapnya.
Baca juga: Tinjau Pulau Lantigiang Selayar, Nurdin Sebut Tidak Mungkin Diperjual-belikan
Lihat Juga :