Cerita Warga Majalengka Memutus Mata Rantai Penyebaran COVID-19
Senin, 14 Desember 2020 - 06:11 WIB
loading...
A
A
A
Setelah memutuskan untuk isolasi mandiri, lanjut dia, permasalahan baru kembali datang. Dia mengaku mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama menjalani isolasi mandiri. "Dari mana kami bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari? Satu sisi kami harus isolasi, di sisi lain, kebutuhan sehari-hari kami bagaimana?" jelas dia.
"Terbaru kami baca berita bahwa warga yang terkonfirmasi positif dijamin Rp45 ribu per hari. Nyatanya, dari tanggal 6 kami isolasi, tidak ada apapun dari pemerintah, khususnya pemdes," tambahnya. (Baca: Aliansi Umat Sulsel Tuntut Polisi Bebaskan Habib Rizieq).
Bagi dia, dalam menjalani isolasi mandiri, jaminan biaya hidup Rp45 ribu per hari, bukan yang utama. Apalagi, jelas dia, dalam satu hari dibutuhkan di atas Rp100 ribu untuk pemenuhan makan. "Yang jadi fokus kami, bagaimana pemerintah memastikan hak-hak warga yang terkonfirmasi positif, yang lagi isolasi mandiri," jelas dia.
Lebih jaih dia berharap, ke depan, pemerintah lebih serius lagi dalam mengawal setiap kebijakan yang dikeluarkannya. Dengan demikian, penanganan COVID 19 benar-benar bisa berjalan dengan maksimal.
"Terbaru kami baca berita bahwa warga yang terkonfirmasi positif dijamin Rp45 ribu per hari. Nyatanya, dari tanggal 6 kami isolasi, tidak ada apapun dari pemerintah, khususnya pemdes," tambahnya. (Baca: Aliansi Umat Sulsel Tuntut Polisi Bebaskan Habib Rizieq).
Bagi dia, dalam menjalani isolasi mandiri, jaminan biaya hidup Rp45 ribu per hari, bukan yang utama. Apalagi, jelas dia, dalam satu hari dibutuhkan di atas Rp100 ribu untuk pemenuhan makan. "Yang jadi fokus kami, bagaimana pemerintah memastikan hak-hak warga yang terkonfirmasi positif, yang lagi isolasi mandiri," jelas dia.
Lebih jaih dia berharap, ke depan, pemerintah lebih serius lagi dalam mengawal setiap kebijakan yang dikeluarkannya. Dengan demikian, penanganan COVID 19 benar-benar bisa berjalan dengan maksimal.
(nag)
Lihat Juga :