Bukan 'Virgin' Biasa, VCO Inovasi Bambang Bantu Perbaikan Gizi Anak Parigi Moutong
Minggu, 13 Desember 2020 - 20:46 WIB
loading...
A
A
A
Melalui inovasi teknologi produksi VCO ini melahirkan tiga kelompok mitra usaha masyarakat yang saling mendukung. Pertama, kelompok masyarakat Qonita Nur di Kabupaten Parigi Moutong sebagai penyedia bahan baku kelapa varietas dalam dan tempat riset.
Kedua, kelompok masyarakat Muflih di Palu, sebagai tempat produksi dan pemasaran VCO. Ketiga, kelompok masyarakat Usaha Tadulako, yang memproduksi dan mengembangkan biskuit Blondo VCO.
Dengan berkembangnya industri VCO di Palu, diharapkan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat , terutama di Sulawesi Tengah
Teknologi VCO yang ditemukan Bambang Sardi merupakan metode baru pembuatan minyak kelapa murni selain menggunakan metode fermentasi anaerob, juga tidak menggunakan pemanasan dalam pembuatan VCO.
Selama ini, kata dia, masyarakat Sulawesi Tengah memakai cuka dan pemanasan untuk memproduksi VCO. Akhirnya, dia tertantang memaksimalkan pemanfaatan kelapa yang melimpah di daerahnya. Setelah melakukan percobaan berulang kali, Bambang akhirnya bisa memproduksi VCO pada 2016.
Teknologi ini sangat murah dan sangat sederhana, di mana menggunakan sistem fermentor selimut yakni, santan perasan kelapa diselimuti oleh ampas sisa perasannya. Alhasil, VCO memiliki kandungan protein yang tinggi daripada hasil metode konvensional.
“Kandungan laurat yang mencapai lebih dari 50 persen membuat VCO ini efektif digunakan sebagai antivirus, antijamur dan antibakteri. Lebih baik lagi, kini masyarakat Sulawesi Tengah sudah dapat memproduksi VCO sendiri dengan teknologi yang murah, mudah, namun punya hasil berkualitas tinggi,”paparnya.
Pria kelahiran Wakatobi, 29 Januari 1986 menuturkan, terinspirasi menciptakan teknologi VCO dengan metode aenarob semuanya bermula dari pengalaman dan riset yang cukup panjang.
Hal itu, berawal dari Kota Makassar dan Kabupaten Sinjai sebagai tempat menuntut ilmu pada tingkat sarjana. Di mana, pada Kota Makassar dan Kabupaten Sinjai telah ada kelompok masyarakat yang melakukan pembuatan minyak kelapa murni secara konvensional dengan kualitas dan rendamen minyak yang sangat rendah.
“Kemudian, setelah saya hijrah ke Kota Palu dan beraktivitas di Kabupaten Parigi Moutong, pada tahun 2015 saya melihat masyarakat dominan sebagai petani kelapa dengan produk olahan seperti kopra, minyak goreng dan buah kelapa. Namun, keberadaan kelapa di masyarakat Parigi Moutong tidak memberikan dampak ekonomi dan kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Hal ini disebabkan karena produk yang dihasilkan masih dalam produk primer. Padahal varietas kelapa yang dimiliki masyarakat Sulawesi Tengah di dominasi kelapa varietas dalam. Karena kondisi inilah membuatnya melakukan riset tanpa henti. Hasilnya, rupanya VCO tersebut memberikan banyak manfaat tidak saja untuk dikonsumsi makanan, tapi juga bisa menjadi obat bahkan bisa membantu peningkatan gizi kurang anak-anak.
![Bukan 'Virgin' Biasa, VCO Inovasi Bambang Bantu Perbaikan Gizi Anak Parigi Moutong]()
Warga sedang membuat VCO dengan menerapkan teknologi VCO temuan Bambang Sardi dengan menggunakan metode fermentasi anaerob dan tidak menggunakan pemanasan dalam pembuatan VCO. Foto: Dokumen Bambang Sardi
Termasuk, ungkap Bambang, pemanfaatan teknologi ini dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di sana, karena mereka memiliki mata pencaharian baru memproduksi VCO sendiri dan memasarkan ke konsumen tidak saja di daerah sekitar tapi sudah menjangkau beberapa daerah di sekitarnya, termasuk ke Makassar.
Kedua, kelompok masyarakat Muflih di Palu, sebagai tempat produksi dan pemasaran VCO. Ketiga, kelompok masyarakat Usaha Tadulako, yang memproduksi dan mengembangkan biskuit Blondo VCO.
Dengan berkembangnya industri VCO di Palu, diharapkan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat , terutama di Sulawesi Tengah
Teknologi VCO yang ditemukan Bambang Sardi merupakan metode baru pembuatan minyak kelapa murni selain menggunakan metode fermentasi anaerob, juga tidak menggunakan pemanasan dalam pembuatan VCO.
Selama ini, kata dia, masyarakat Sulawesi Tengah memakai cuka dan pemanasan untuk memproduksi VCO. Akhirnya, dia tertantang memaksimalkan pemanfaatan kelapa yang melimpah di daerahnya. Setelah melakukan percobaan berulang kali, Bambang akhirnya bisa memproduksi VCO pada 2016.
Teknologi ini sangat murah dan sangat sederhana, di mana menggunakan sistem fermentor selimut yakni, santan perasan kelapa diselimuti oleh ampas sisa perasannya. Alhasil, VCO memiliki kandungan protein yang tinggi daripada hasil metode konvensional.
“Kandungan laurat yang mencapai lebih dari 50 persen membuat VCO ini efektif digunakan sebagai antivirus, antijamur dan antibakteri. Lebih baik lagi, kini masyarakat Sulawesi Tengah sudah dapat memproduksi VCO sendiri dengan teknologi yang murah, mudah, namun punya hasil berkualitas tinggi,”paparnya.
Pria kelahiran Wakatobi, 29 Januari 1986 menuturkan, terinspirasi menciptakan teknologi VCO dengan metode aenarob semuanya bermula dari pengalaman dan riset yang cukup panjang.
Hal itu, berawal dari Kota Makassar dan Kabupaten Sinjai sebagai tempat menuntut ilmu pada tingkat sarjana. Di mana, pada Kota Makassar dan Kabupaten Sinjai telah ada kelompok masyarakat yang melakukan pembuatan minyak kelapa murni secara konvensional dengan kualitas dan rendamen minyak yang sangat rendah.
“Kemudian, setelah saya hijrah ke Kota Palu dan beraktivitas di Kabupaten Parigi Moutong, pada tahun 2015 saya melihat masyarakat dominan sebagai petani kelapa dengan produk olahan seperti kopra, minyak goreng dan buah kelapa. Namun, keberadaan kelapa di masyarakat Parigi Moutong tidak memberikan dampak ekonomi dan kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Hal ini disebabkan karena produk yang dihasilkan masih dalam produk primer. Padahal varietas kelapa yang dimiliki masyarakat Sulawesi Tengah di dominasi kelapa varietas dalam. Karena kondisi inilah membuatnya melakukan riset tanpa henti. Hasilnya, rupanya VCO tersebut memberikan banyak manfaat tidak saja untuk dikonsumsi makanan, tapi juga bisa menjadi obat bahkan bisa membantu peningkatan gizi kurang anak-anak.

Warga sedang membuat VCO dengan menerapkan teknologi VCO temuan Bambang Sardi dengan menggunakan metode fermentasi anaerob dan tidak menggunakan pemanasan dalam pembuatan VCO. Foto: Dokumen Bambang Sardi
Termasuk, ungkap Bambang, pemanfaatan teknologi ini dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di sana, karena mereka memiliki mata pencaharian baru memproduksi VCO sendiri dan memasarkan ke konsumen tidak saja di daerah sekitar tapi sudah menjangkau beberapa daerah di sekitarnya, termasuk ke Makassar.
Lihat Juga :