Monumen Kresek, Saksi Sejarah Peristiwa Madiun
Sabtu, 05 Desember 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Kolonel Inf Marhadi adalah prajurit TNI berpangkat tertinggi yang gugur dalam pertempuran Desa Kresek, namanya lalu diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Madiun dan didirikan pula patungnya di alun-alun Kota Madiun sebagai bentuk penghormatan.
Area Monumen Kresek dahulu adalah bekas rumah warga yang dijadikan PKI sebagai ajang pembantaian. Warga sekitar dikurung di dalam rumah tersebut lalu rumah tersebut dibakar bersama warga yang ada di dalamnya. Di sebelah utara Monumen Kresek terdapat monumen kecil yang terbuat dari batu kali yang mengukir nama-nama prajurit TNI dan para pamong desa yang dibantai oleh PKI.
“Tempat ini merupakan tempat yang dijadikan untuk membantai para korban. Tempat ini dahulunya merupakan rumah dari seorang warga. Tempat ini sengaja dipilih oleh PKI untuk menyembunyikan para korban, karena ditempat ini aman untuk dijadikan persembunyian,” ujar warga Kresek.
Rumah tempat pembantaian itu kini tidak terlihat lagi. Karena pada waktu terjadi agresi belanda rumah tersebut dihancurkan dengan cara dibakar. Agar rumah ini tidak lagi digunakan oleh PKI sebagai sarang. Salah satu korban PKI dari pihak TNI yang memiliki pangkat tertinggi adalah Kolonel Marhadi. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama salah satu jalan yang ada di kota Madiun. Patungnya juga dibuat di alun-alun kota Madiun sebagai tanda penghormatan akan jasa-jasanya.
Mengingatkan tentang sekelumpit Peristiwa Madiun. Pemberontakan ini diawali dengan jatuhnya kabinet RI yang pada waktu itu dipimpin oleh Amir Sjarifuddin karena kabinetnya tidak mendapat dukungan lagi sejak disepakatinya Perjanjian Renville. Lalu dibentuklah kabinet baru dengan Mohammad Hatta sebagai perdana menteri, namun Amir beserta kelompok-kelompok sayap kiri lainnya tidak setuju dengan pergantian kabinet tersebut.
Dalam sidang Politbiro PKI pada tanggal 13-14 Agustus 1948, Musso, seorang tokoh komunis Indonesia yang lama tinggal di Uni Soviet (sekarang Rusia) ini menjelaskan tentang “pekerjaan dan kesalahan partai dalam dasar organisasi dan politik” dan menawarkan gagasan yang disebutnya “Jalan Baru untuk Republik Indonesia”.
Musso menghendaki satu partai kelas buruh dengan memakai nama yang bersejarah, yakni PKI. Untuk itu harus dilakukan fusi tiga partai yang beraliran Marxsisme-Leninisme: PKI ilegal, Partai Buruh Indonesia (PBI), dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). PKI hasil fusi ini akan memimpin revolusi proletariat untuk mendirikan sebuah pemerintahan yang disebut "Komite Front Nasional".
Selanjutnya, Musso menggelar rapat raksasa di Yogya. Di sini dia melontarkan pentingnya kabinet presidensial diganti jadi kabinet front persatuan. Musso juga menyerukan kerja sama internasional, terutama dengan Uni Soviet, untuk mematahkan blokade Belanda.
Area Monumen Kresek dahulu adalah bekas rumah warga yang dijadikan PKI sebagai ajang pembantaian. Warga sekitar dikurung di dalam rumah tersebut lalu rumah tersebut dibakar bersama warga yang ada di dalamnya. Di sebelah utara Monumen Kresek terdapat monumen kecil yang terbuat dari batu kali yang mengukir nama-nama prajurit TNI dan para pamong desa yang dibantai oleh PKI.
“Tempat ini merupakan tempat yang dijadikan untuk membantai para korban. Tempat ini dahulunya merupakan rumah dari seorang warga. Tempat ini sengaja dipilih oleh PKI untuk menyembunyikan para korban, karena ditempat ini aman untuk dijadikan persembunyian,” ujar warga Kresek.
Rumah tempat pembantaian itu kini tidak terlihat lagi. Karena pada waktu terjadi agresi belanda rumah tersebut dihancurkan dengan cara dibakar. Agar rumah ini tidak lagi digunakan oleh PKI sebagai sarang. Salah satu korban PKI dari pihak TNI yang memiliki pangkat tertinggi adalah Kolonel Marhadi. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama salah satu jalan yang ada di kota Madiun. Patungnya juga dibuat di alun-alun kota Madiun sebagai tanda penghormatan akan jasa-jasanya.
Mengingatkan tentang sekelumpit Peristiwa Madiun. Pemberontakan ini diawali dengan jatuhnya kabinet RI yang pada waktu itu dipimpin oleh Amir Sjarifuddin karena kabinetnya tidak mendapat dukungan lagi sejak disepakatinya Perjanjian Renville. Lalu dibentuklah kabinet baru dengan Mohammad Hatta sebagai perdana menteri, namun Amir beserta kelompok-kelompok sayap kiri lainnya tidak setuju dengan pergantian kabinet tersebut.
Dalam sidang Politbiro PKI pada tanggal 13-14 Agustus 1948, Musso, seorang tokoh komunis Indonesia yang lama tinggal di Uni Soviet (sekarang Rusia) ini menjelaskan tentang “pekerjaan dan kesalahan partai dalam dasar organisasi dan politik” dan menawarkan gagasan yang disebutnya “Jalan Baru untuk Republik Indonesia”.
Musso menghendaki satu partai kelas buruh dengan memakai nama yang bersejarah, yakni PKI. Untuk itu harus dilakukan fusi tiga partai yang beraliran Marxsisme-Leninisme: PKI ilegal, Partai Buruh Indonesia (PBI), dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). PKI hasil fusi ini akan memimpin revolusi proletariat untuk mendirikan sebuah pemerintahan yang disebut "Komite Front Nasional".
Selanjutnya, Musso menggelar rapat raksasa di Yogya. Di sini dia melontarkan pentingnya kabinet presidensial diganti jadi kabinet front persatuan. Musso juga menyerukan kerja sama internasional, terutama dengan Uni Soviet, untuk mematahkan blokade Belanda.
Lihat Juga :