Ladang Salak, Padi, dan Sengonnya Dikubur Muntahan Lava Pijar Semeru, Sumarto: Semua Habis

Kamis, 03 Desember 2020 - 20:19 WIB
loading...
Ladang Salak, Padi,...
Pengungsi dari Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, dievakuasi ke pos pengungsian yang ada di Lapangan Kamarkajar, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Foto/SINDOnews/Yuswantoro
A A A
Gemuruh disertai ledakan petir pada Selasa (1/12/2020) dini hari, masih terngiang di benak Sumarto (60). Pria yang sejak lahir hidup di Dusun Sumbersari itu, merasakan bagaimana kepanikan melanda saat abu, pasir, bercampur air hujan mengguyur dusunnya.

(Baca juga: Masih Hangat dan Mengeluarkan Asap, Warga Nekat Melintasi Material Vulkanik Gunung Semeru )

"Kejadiannya begitu cepat, dan kami hanya bisa berlari menyelamatkan diri. Kejadiannya mirip dengan tahun 1994 silam," ujar warga Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, tersebut.

Ya, warga Dusun Sumbersari, yang secara administrasi berada di wilayah Desa Supiturang, menjadi wilayah yang paling parah diterjang material vulkanik dari guguran lava pijar disertai awan panas letusan dari kawah Jonggring Saloko.

Warga dusun di lereng Gunung Semeru ini, semuanya selamat saat terjadi terjangan material vulkanik pada Senin (1/12/2020) dini hari. "Waktu itu saya yang teriak-teriak membangunkan warga, karena melihat ada kepulan asap pekat di udara dari arah Gunung Semeru," ungkap Mistar (55).

(Baca juga: Air Sungai Bah Bolon Meluap, Jalur Pematangsiantar-Medan Lumpuh )

Mistar terbangun pada dini hari, setelah mendengar suara sapi-sapinya ramai di kandang. Begitu keluar rumah, dilihatnya ada awan kelabu yang muncul dari Gunung Semeru , disertai dengan suara gemuruh.

Selamatnya seluruh warga dusun dari amukan material vulkanik, tidak diikuti dengan sawah ladang mereka. Material vulkanik yang jumlahnya jutaan meter kubik itu, menelan begitu saja seluruh sawah ladang yang berada di sekitar Besuk Kobokan.

Ladang Salak, Padi, dan Sengonnya Dikubur Muntahan Lava Pijar Semeru, Sumarto: Semua Habis


Besuk Kobokan yang selama ini menjadi lokasi penambangan pasir dan batu, dengan kedalaman dari permukiman warga sekitar 30 meter, kini telah rata. Jurang sedalam 30 meter itu telah hilang berganti tumpukan material vulkanik yang masih mengepulkan asap panas hingga hari ketiga usai kejadian.

(Baca juga: Jelang Coblosan, Ribuan Saksi Gibran-Teguh di Pilwalkot Solo Jalani Rapid Test )

Kepulan asap putih di tengah Besuk Kobokan, menandakan masih adanya panas di dalam tumpukan material vulkanik yang memenuhi seluruh ruang di Besuk Kobokan yang lokasinya berjarak 11 km dari kawah Gunung Semeru .

"Padi, salak, kopi, dan sengon yang kami tanam sudah ludes semuanya. Tidak tersisa sedikitpun. Sawah ladang tempat kami mencari nafkah kini sudah tidak bisa diolah lagi, semuanya berisi debu, batu, dan lava yang masih panas," ujar Sumarto.

Dia tak tahu lagi harus mengadu ke siapa, terkait nasibnya ke depan setelah sawah ladang itu tidak bisa lagi difungsikan. "Ya kami hanya bisa berharap ada bantuan pemerintah untuk membersihkan material lahar, agar sawah ladang kami bisa ditanami lagi," ungkapnya.

(Baca juga: Solo Gempar, Mobil Mewah Milik Bos Perusahaan Tekstil Ditembaki Secara Brutal )

Sumarto mengaku, lahan salak, pagi, dan sengonnya ada sekitar tiga hektare. Hampir semuanya ludes ditenggelamkan oleh material vulkanik yang dimuntahkan dari Jonggring Saloko.

"Padinya masih usia 50-60 hari. Baru saja tumbuh dan belum berbuah, kini sudah lenyap semuanya terpendam di dalam lahar. Kami belum tahu besok mau kerja apa untuk dapat penghasilan," ungkapnya.

Ladang Salak, Padi, dan Sengonnya Dikubur Muntahan Lava Pijar Semeru, Sumarto: Semua Habis


Hal senada juga dirasakan Priyanto (55). Kedua mata petani ini nampak sembab saat tiba di pos pengungsian Kamarkajar, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. "Tanaman sengon dan salak saya habis tertimbun lahar," ungkapnya.

(Baca juga: Prajurit Hantu Laut Marinir TNI AL Terlibat Pertempuran Sengit Jarak Dekat )

Dia mengaku, belum terbayang akan kerja apa setelah bencana ini. Menurutnya, mau tidak mau yang pilihanya harus kerja keluar desa dahulu karena tidak mungkin bercocok tanam dengan kondisi lahan penuh material vulkanik.

"Dahulu tahun 1994 pemerintah menawarkan program transmigrasi, usai ada bencana seperti ini. Sekarang, mungkin juga kalau masih ada program itu saya akan memikirkannya untuk ikut serta," katanya lirih.

Kalaupun ikut menambang pasir di Besuk Kobokan, dia mengaku pastinya tidak bisa dilakukan dalam waktu 1-2 bulan ini, karena kondisinya masih panas. Selain itu, persaingan penambangan pasir sangat ketat, karena banyak pengusaha besar menggunakan alat berat untuk mempercepat penambangan, sementara penduduk hanya secara manual.

"Selisihnya sangat jauh. Kalau pakai alat berat, untuk mengisi penuh pasir di bak truk dibutuhkan waktu hanya sekitar satu jam. Sementara kami yang manual, harus bekerjasama minimal tiga orang untuk menaikkan pasir ke truk, itupun untuk mengisi satu truk dibutuhkan waktu setengah hari," katanya.

(Baca juga: Awas Cuaca Ekstrim Landa Sulawesi Utara, BMKG Minta Masyarakat Hati-hati )

Sementara Sekda Kabupaten Lumajang, Agus Triono mengaku saat ini yang diutamakan adalah penanganan warga yang terdampak langsung bencana ini. "Kami salurkan bantuan kebutuhan pokok dan air bersih, serta menyediakan pos pengungsian," ujarnya.

Terkait lahan pertanian yang ikut terkubur oleh material vulkanik, Agus mengaku masih akan melakukan pendataan. Nantinya juga akan berupaya melaporkan hal ini ke Kementrian Pertanian, dan Gubernur Jatim, sehingga bisa dibantu penganggarannya untuk penanganan dampak bencana Gunung Semeru , terhadap pertanian masyarakat.

Sumarto, Priyanto, dan Mistar, serta warga Dusun Sumbersari, yang terdampak langsung bencana guguran lava pijar dan awan panas letusan Gunung Semeru , tentunya berharap kondisinya segera pulih seperti sediakala, dan bisa segera kembali ke sawah ladangnya, untuk mencari nafkah menghidupi kehidupan mereka.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gunung Lewotobi Laki-laki...
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi, Kolom Abu Capai 1.000 Meter di Atas Puncak
Gunung Semeru Erupsi,...
Gunung Semeru Erupsi, Tinggi Kolom Abu Capai 1.200 Meter di Atas Puncak
Gunung Merapi Luncurkan...
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 2.000 Meter
Gunung Lewotobi Laki-laki...
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Pagi Ini, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1.500 Meter
Gunung Dukono Erupsi...
Gunung Dukono Erupsi Pagi Ini, Luncurkan 1.300 Meter Abu Vulkanik
Gunung Semeru Erupsi...
Gunung Semeru Erupsi Malam Ini, Luncurkan Kolom Abu 2.000 Meter
Wisata Ranu Regulo Dibuka...
Wisata Ranu Regulo Dibuka Kembali 21 Maret 2026: Kuota Pengunjung Dibatasi, Aturan Diperketate
Kembali Erupsi, Gunung...
Kembali Erupsi, Gunung Semeru Tetap Berstatus Siaga
Klaim Asuransi Cair...
Klaim Asuransi Cair untuk Ratusan Korban Erupsi Semeru
Rekomendasi
Berkas Perkara Roy Suryo...
Berkas Perkara Roy Suryo dan Dokter Tifa Dilimpahkan ke PN Jakarta Timur
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Berita Terkini
Peserta Jumtek PMR-Relawan...
Peserta Jumtek PMR-Relawan Antusias Adu Tangkas Tandu Darurat hingga Belajar Bahasa Isyarat
Ketua PMI DKI Jakarta:...
Ketua PMI DKI Jakarta: Relawan Muda Garda Terdepan yang Siap Go Internasional
Pegadaian CPS Pondok...
Pegadaian CPS Pondok Aren Gelar Pengobatan Gratis bagi Ratusan Masyarakat
Ini Penampakan Taufik...
Ini Penampakan Taufik Hidayat usai Ditangkap Polisi, Tangan Diborgol Tali Ties
Taufik Hidayat Pelaku...
Taufik Hidayat Pelaku Penganiayaan Sadis Ditangkap di Majalaya
Breaking News! Polisi...
Breaking News! Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penyekap dan Penganiaya Sadis Wanita selama 3 Tahun di Kosan
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved