Perjuangan HCML Beradaptasi Menghadapi Pandemi COVID-19
Sabtu, 14 November 2020 - 00:00 WIB
loading...
Perjuangan HCML Beradaptasi Menghadapi Pandemi COVID-19
A
A
A
PASURUAN - Pandemi COVID-19 membuat hidup berubah. Banyak hal yang harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan, terutama menyangkut kesehatan saat bekerja di lapangan. Inilah yang dirasakan para pekerja lapangan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) khususnya yang bertugas di Gas Metering Station (GMS) Pasuruan.
Manager Regional Office HCML, Hamim Tohari mengatakan, hal pertama yang paling dirasakan adalah perubahan perjalanan dan prosedur yang harus dilalui hingga ke lokasi kerja.
Tak lagi menggunakan pesawat dari Jakarta ke Surabaya, karena sesuai arahan Departemen Health, Safety, Security and Enviroment (HSSE Dept.), pekerja diarahkan untuk menggunakan transportasi darat berupa bus yang khusus disewa oleh perusahaan.
"Ini untuk mengurangi resiko penularan yang bisa saja terjadi bila menggunakan transportasi umum," katanya, Jumat (13/11/2020).(Baca juga: Siswi SMP Mual Dikira Masuk Angin, Dibawa ke Tukang Pijit, Eh Ternyata Dihamili Paman )
Sebelum melakukan perjalanan, kata dia, mereka diharuskan menjalani karantina mandiri selama sembilan hari dan secara rutin melaporkan kondisi klinis setiap hari, serta dipantau dengan ketat oleh tim dari HSSE Dept. "Para pekerja juga harus mengikuti tes polymerase chain reaction (PCR) di lokasi-lokasi yang ditunjuk oleh HSSE Dept., seperti Rumah Sakit, laboratorium atau klinik," terangnya.
Perjalanan darat dari Jakarta ke Surabaya tentu menguras tenaga, karena memakan waktu 10-12 jam, dibanding perjalanan satu setengah jam dengan pesawat. Selama perjalanan pun mereka wajib mentaati protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, hanya mengisi 50% kapasitas kendaraan, dan menjaga kebersihan tangan.
"Pekerja diizinkan bermalam di hotel yang ada di Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi kerja keesokan harinya. Hotel yang dipilih tentunya telah ditinjau dengan ketat oleh tim dari HSSE Dept. dengan memperhatikan penerapan protokol kesehatan," ungkapnya.(Baca juga: Belasan Tahun Berjuang, Ipong Berharap Tanahnya Bisa Kembali )
Manager Regional Office HCML, Hamim Tohari mengatakan, hal pertama yang paling dirasakan adalah perubahan perjalanan dan prosedur yang harus dilalui hingga ke lokasi kerja.
Tak lagi menggunakan pesawat dari Jakarta ke Surabaya, karena sesuai arahan Departemen Health, Safety, Security and Enviroment (HSSE Dept.), pekerja diarahkan untuk menggunakan transportasi darat berupa bus yang khusus disewa oleh perusahaan.
"Ini untuk mengurangi resiko penularan yang bisa saja terjadi bila menggunakan transportasi umum," katanya, Jumat (13/11/2020).(Baca juga: Siswi SMP Mual Dikira Masuk Angin, Dibawa ke Tukang Pijit, Eh Ternyata Dihamili Paman )
Sebelum melakukan perjalanan, kata dia, mereka diharuskan menjalani karantina mandiri selama sembilan hari dan secara rutin melaporkan kondisi klinis setiap hari, serta dipantau dengan ketat oleh tim dari HSSE Dept. "Para pekerja juga harus mengikuti tes polymerase chain reaction (PCR) di lokasi-lokasi yang ditunjuk oleh HSSE Dept., seperti Rumah Sakit, laboratorium atau klinik," terangnya.
Perjalanan darat dari Jakarta ke Surabaya tentu menguras tenaga, karena memakan waktu 10-12 jam, dibanding perjalanan satu setengah jam dengan pesawat. Selama perjalanan pun mereka wajib mentaati protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, hanya mengisi 50% kapasitas kendaraan, dan menjaga kebersihan tangan.
"Pekerja diizinkan bermalam di hotel yang ada di Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi kerja keesokan harinya. Hotel yang dipilih tentunya telah ditinjau dengan ketat oleh tim dari HSSE Dept. dengan memperhatikan penerapan protokol kesehatan," ungkapnya.(Baca juga: Belasan Tahun Berjuang, Ipong Berharap Tanahnya Bisa Kembali )
Lihat Juga :