10 Aksi Heroik Pahlawan Nasional Berkhidmat Membela Rakyat dan Bangsa
Selasa, 10 November 2020 - 07:42 WIB
loading...
A
A
A
Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.
Kaum Adat dan Kaum Padri akhirnya bersatu dan melawan Belanda pada awal 1833. Kedua belah pihak yang awalnya berkonflik kemudian bahu-membahu melawan Belanda.
![10 Aksi Heroik Pahlawan Nasional Berkhidmat Membela Rakyat dan Bangsa]()
Bersatunya kaum Adat dan kaum Padri ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an). (BACA JUGA: Tuan Rondahaim Saragih Raja ke-14 Simalungun Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional)
Pada Oktober 1837 Belanda berhasil mengalahkan kekuatan Tuanku Imam Bonjol Imam Bonjol lalu diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan lagi ke Ambon dan akhirnya ke Lotta, Minahasa, dekat Manado.
Di tempat terakhir itu dia meninggal dunia pada 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut.
Perjuangan yang telah dilakukan oleh Tuanku Imam Bonjol dapat menjadi apresiasi akan kepahlawanannya dalam menentang penjajahan.
4. Bandung Lautan Api
Bandung Lautan Api adalah peristiwa besar dan sangat bersejarah pada 23 Maret 1946. Sekitar 200.000 penduduk Bandung, Jawa Barat membakar seluruh rumah dan bangunan mereka lainnya dalam waktu tujuh jam.
Hal ini mereka lakukan karena ketidakrelaannya Belanda ingin menduduki Kota Bandung dan menguasai aset bangunan dan rumah milik rakyat Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR, diserahkan kepada mereka.
Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari.
Malam 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata. (BACA JUGA: Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) II Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional)
Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumi-hangus". Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA.
Kolonel AH Nasution selaku Komandan Divisi III TRI memerintahkan evakuasi warga Kota Bandung. Rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan Kota Bandung menuju pegunungan di daerah selatan Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung. Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) juga berhasil menghancurkan gudang amunisi milik Belanda.
5. Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro atau Pangeran Harya Dipanegara lahir di Yogyakarta Hadiningrat, 11 November 1785 dan wafat di Makassar, Sulawesi Selatan pada 8 Januari 1855 atau pada umur 69 tahun.
Siapa yang tak mengenal sosoknya yang memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa selama periode tahun 1825 hingga 1830 melawan pemerintah Hindia Belanda.
Pertempuran pasukan Pangeran Diponegoro dengan Belanda tercatat menjadi pertempuran yang paling banyak menewaskan kedua belah pihak dalam sejarah Indonesia.
Sekitar 8.000-an korban serdadu Hindia Belanda, 7.000-an pribumi, dan 200 ribu orang Jawa serta kerugian materi 25 juta Gulden.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa adalah adalah sikap Pangeran yang ingin melepaskan penderitaan rakyat miskin dari sistem pajak Hindia Belanda dan membebaskan istana dari madat.
Keputusan dan sikap Pangeran Diponegoro yang menentang Hindia Belanda secara terbuka kemudian mendapat dukungan dan simpati dari rakyat. Atas saran dari sang paman, yakni GPH Mangkubumi, Pangeran Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo dan membuat markas di Gua Selarong.
![10 Aksi Heroik Pahlawan Nasional Berkhidmat Membela Rakyat dan Bangsa]()
Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu.
Medan pertempuran Perang Diponegoro mencakup Yogyakarta, Kedu, Bagelen, Surakarta, dan beberapa daerah seperti Banyumas, Wonosobo, Banjarnegara, Weleri, Pekalongan, Tegal, Semarang, Demak, Kudus, Purwodadi, Parakan, Magelang, Madiun, Pacitan, Kediri, Bojonegoro, Tuban, dan Surabaya. (BACA JUGA: Pemkab Klungkung Percepat Usulan Pahlawan Nasional Ida Dewa Agung Jambe)
Pasukan Pangeran Diponegoro dibagi menjadi beberapa batalyon yang diberi nama berbeda-beda, seperti Turkiya, Arkiya, dan lain sebagainya. Setiap batalyon dibekali dengan senjata api dan peluru-peluru yang dibuat di hutan.Pangeran Diponegoro bersama para panglimanya menerapkan strategi perang gerilya yang selalu berpindah-pindah.
Pada Oktober 1826, pasukan Diponegoro menyerang pasukan Hindia Belanda di Gawok dan mendapat kemenangan. Namun, sang Pangeran terluka dan terpaksa harus ditandu ke lereng Gunung Merapi. Pada 17 November 1826, sang Pangeran bertolak ke Pengasih (sebelah barat Yogyakarta) untuk menyerang pasukan Hindia Belanda.
Di lokasi ini, sang Pangeran mendirikan keraton di Sambirata sebagai pusat negara baru. Pasukan Belanda sempat menyerang Sambirata, namun Diponegoro berhasil meloloskan diri. Perang sempat berhenti akibat gencatan senjata pada 10 Oktober 1827, namun perundingan tidak menemui kesepakatan apa pun.
6. Bung Tomo (Sutomo)
Pahlawan nasional Bung Tomo adalah kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920 – meninggal dunia di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 saat menunaikan ibadah haji.
Kaum Adat dan Kaum Padri akhirnya bersatu dan melawan Belanda pada awal 1833. Kedua belah pihak yang awalnya berkonflik kemudian bahu-membahu melawan Belanda.

Bersatunya kaum Adat dan kaum Padri ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an). (BACA JUGA: Tuan Rondahaim Saragih Raja ke-14 Simalungun Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional)
Pada Oktober 1837 Belanda berhasil mengalahkan kekuatan Tuanku Imam Bonjol Imam Bonjol lalu diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan lagi ke Ambon dan akhirnya ke Lotta, Minahasa, dekat Manado.
Di tempat terakhir itu dia meninggal dunia pada 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut.
Perjuangan yang telah dilakukan oleh Tuanku Imam Bonjol dapat menjadi apresiasi akan kepahlawanannya dalam menentang penjajahan.
4. Bandung Lautan Api
Bandung Lautan Api adalah peristiwa besar dan sangat bersejarah pada 23 Maret 1946. Sekitar 200.000 penduduk Bandung, Jawa Barat membakar seluruh rumah dan bangunan mereka lainnya dalam waktu tujuh jam.
Hal ini mereka lakukan karena ketidakrelaannya Belanda ingin menduduki Kota Bandung dan menguasai aset bangunan dan rumah milik rakyat Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR, diserahkan kepada mereka.
Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari.
Malam 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata. (BACA JUGA: Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) II Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional)

Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumi-hangus". Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA.
Kolonel AH Nasution selaku Komandan Divisi III TRI memerintahkan evakuasi warga Kota Bandung. Rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan Kota Bandung menuju pegunungan di daerah selatan Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung. Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) juga berhasil menghancurkan gudang amunisi milik Belanda.
5. Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro atau Pangeran Harya Dipanegara lahir di Yogyakarta Hadiningrat, 11 November 1785 dan wafat di Makassar, Sulawesi Selatan pada 8 Januari 1855 atau pada umur 69 tahun.
Siapa yang tak mengenal sosoknya yang memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa selama periode tahun 1825 hingga 1830 melawan pemerintah Hindia Belanda.
Pertempuran pasukan Pangeran Diponegoro dengan Belanda tercatat menjadi pertempuran yang paling banyak menewaskan kedua belah pihak dalam sejarah Indonesia.
Sekitar 8.000-an korban serdadu Hindia Belanda, 7.000-an pribumi, dan 200 ribu orang Jawa serta kerugian materi 25 juta Gulden.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa adalah adalah sikap Pangeran yang ingin melepaskan penderitaan rakyat miskin dari sistem pajak Hindia Belanda dan membebaskan istana dari madat.
Keputusan dan sikap Pangeran Diponegoro yang menentang Hindia Belanda secara terbuka kemudian mendapat dukungan dan simpati dari rakyat. Atas saran dari sang paman, yakni GPH Mangkubumi, Pangeran Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo dan membuat markas di Gua Selarong.

Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu.
Medan pertempuran Perang Diponegoro mencakup Yogyakarta, Kedu, Bagelen, Surakarta, dan beberapa daerah seperti Banyumas, Wonosobo, Banjarnegara, Weleri, Pekalongan, Tegal, Semarang, Demak, Kudus, Purwodadi, Parakan, Magelang, Madiun, Pacitan, Kediri, Bojonegoro, Tuban, dan Surabaya. (BACA JUGA: Pemkab Klungkung Percepat Usulan Pahlawan Nasional Ida Dewa Agung Jambe)
Pasukan Pangeran Diponegoro dibagi menjadi beberapa batalyon yang diberi nama berbeda-beda, seperti Turkiya, Arkiya, dan lain sebagainya. Setiap batalyon dibekali dengan senjata api dan peluru-peluru yang dibuat di hutan.Pangeran Diponegoro bersama para panglimanya menerapkan strategi perang gerilya yang selalu berpindah-pindah.
Pada Oktober 1826, pasukan Diponegoro menyerang pasukan Hindia Belanda di Gawok dan mendapat kemenangan. Namun, sang Pangeran terluka dan terpaksa harus ditandu ke lereng Gunung Merapi. Pada 17 November 1826, sang Pangeran bertolak ke Pengasih (sebelah barat Yogyakarta) untuk menyerang pasukan Hindia Belanda.
Di lokasi ini, sang Pangeran mendirikan keraton di Sambirata sebagai pusat negara baru. Pasukan Belanda sempat menyerang Sambirata, namun Diponegoro berhasil meloloskan diri. Perang sempat berhenti akibat gencatan senjata pada 10 Oktober 1827, namun perundingan tidak menemui kesepakatan apa pun.
6. Bung Tomo (Sutomo)
Pahlawan nasional Bung Tomo adalah kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920 – meninggal dunia di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 saat menunaikan ibadah haji.
Lihat Juga :