10 Aksi Heroik Pahlawan Nasional Berkhidmat Membela Rakyat dan Bangsa
Selasa, 10 November 2020 - 07:42 WIB
loading...
A
A
A
Bung Tomo pada Oktober dan November 1945 menjadi salah satu pemimpin yang menggerakkan dan membangkitkan semangat rakyat Surabaya melawan tentara sekutu. (BACA JUGA: La Nyalla Siap Perjuangkan Pendiri Al Wasliyah Jadi Pahlawan Nasional)
![10 Aksi Heroik Pahlawan Nasional Berkhidmat Membela Rakyat dan Bangsa]()
Saat itu Surabaya diserang habis-habisan oleh pasukan Inggris yang mendarat untuk melucutkan senjata tentara pendudukan Jepang dan membebaskan tawanan Eropa.
Di sinilah Bung Tomo tampil dengan seruan-seruan dalam siaran-siaran radio yang membangkitkan semangat rakyat Surabaya untuk melawan sekutu.
Rakyat Surabaya berhasil memukul mundur pasukan Inggris dan kejadian ini dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia.
7. I Gusti Ngurah Rai
Saat usianya masih belia I Gusti Ngurah Rai sudah memimpin pertempuran menghadapi tentara Belanda. Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai
meninggal dunia pada usai 29 tahun.
Pahlawan Nasional ini lahir pada 30 Januari 1917 di Desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali, Hindia Belanda, 30 Januari 1917 dan – meninggal di Marga, Tabanan, Bali 20 November 1946. (BACA JUGA: Si Jalak Harupat, Otto Iskandardinata Pahlawan dari Bojongsoang)
![10 Aksi Heroik Pahlawan Nasional Berkhidmat Membela Rakyat dan Bangsa]()
Ciung Wanara adalah nama pasukannya yang melakukan pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama Puputan Margarana. Dalam bahasa Bali, puputan artinya habis-habisan. Sedangkan Margarana berarti pertempuran di Marga.
Di tempat puputan tersebut lalu didirikan Taman Pujaan Bangsa Margarana. Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Markas Besar Oemoem) Dewan Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di Kompleks Monumen de Kleine Sunda Eilanden, Candi Marga, Tabanan.
8. Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin atau terlahir dengan nama Muhammad Bakir/Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape sebagai nama pemberian dari Qadi Islam Kesultanan Gowa yakni Syeikh Sayyid Jalaludin bin Ahmad Bafaqih Al-Aidid.
Dia lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Gowa 12 Juni 1670 atau pada umur 39 tahun.
Karena keberaniannya, Sultan Hasanuddin dijuluki De Haantjes van Het Osten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan dari Timur. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa mulai tahun 1653 sampai 1669. Kerajaan Gowa adalah merupakan kerajaan besar di Wilayah Timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.
Pada pertengahan abad ke-17, Kompeni Belanda (VOC) berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku setelah berhasil mengadakan perhitungan dengan orang-orang Spanyol dan Portugis.
![10 Aksi Heroik Pahlawan Nasional Berkhidmat Membela Rakyat dan Bangsa]()
Kompeni Belanda memaksa orang-orang negeri menjual dengan harga yang ditetapkan oleh mereka, selain itu Kompeni menyuruh tebang pohon pala dan cengkih di beberapa tempat, supaya rempah-rempah jangan terlalu banyak. (BACA JUGA: Keturunan HB II Minta Inggris Kembalikan Harta Rampasan Geger Sepehi)
Maka Sultan Hasanuddin menolak keras kehendak itu, sebab bertentangan dengan kehendak Allah. Pada 1660, VOC Belanda menyerang Makassar, tetapi belum berhasil menundukkan Kerajaan Gowa. Tahun 1667, VOC Belanda di bawah pimpinan Cornelis Speelman beserta sekutunya kembali menyerang Makassar.
Pertempuran berlangsung di mana-mana, hingga pada akhirnya Kerajaan Gowa terdesak dan semakin lemah, sehingga dengan sangat terpaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667 di Bungaya.
Gowa yang merasa dirugikan, mengadakan perlawanan lagi. Pertempuran kembali pecah pada 1669. Kompeni berhasil menguasai benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada 24 Juni 1669.
9. Kapitan Pattimura
Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy lahir di Haria, Pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783 – dan meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 atau pada umur 34 tahun.
Patimmura melawan ketidakadilan saat Belanda menetapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongitochten). (Foto/Ist)
Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad.
![10 Aksi Heroik Pahlawan Nasional Berkhidmat Membela Rakyat dan Bangsa]()
Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura. Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sifat kesatria.
Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para raja patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirim Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.
Kekuatan pasukan Patimurra sungguh luar biasa. Bahkan Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. (BACA JUGA: Putra Pahlawan Pembebasan Irian Barat Wafat, PKPI: Kami Sangat Berduka)
Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di Kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura diangkat sebagai pahlawan nasional.
10. Frans Kaisiepo
Frans Kaisiepo dikenang sebagai pahlawan nasional Indonesia dari Papua berdasarkan Keputusan Presiden nomor 077/TK/1993. (Foto/Ist)
Dalam masa revolusi, Frans Kaisiepo ikut dalam Konferensi Malino 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua.
![10 Aksi Heroik Pahlawan Nasional Berkhidmat Membela Rakyat dan Bangsa]()
Frans Kaisiepo lahir di Biak pada 10 Oktober 1921 dan meninggal di Jayapura 10 April 1979 atau pada umur 57 tahun.
Frans adalah anak Papua yang cinta kepada tanah kelahiran dan negaranya. Sehingga tak heran pada 31 Agustus 1945, ketika Papua masih diduduki Belanda, Frans termasuk salah satu orang menegakkan eksistensi Republik Indonesia dan orang pertama yang mengibarkan Merah Putih dan menyayikan lagu Indonesia Raya di Papua. Frans dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura.

Saat itu Surabaya diserang habis-habisan oleh pasukan Inggris yang mendarat untuk melucutkan senjata tentara pendudukan Jepang dan membebaskan tawanan Eropa.
Di sinilah Bung Tomo tampil dengan seruan-seruan dalam siaran-siaran radio yang membangkitkan semangat rakyat Surabaya untuk melawan sekutu.
Rakyat Surabaya berhasil memukul mundur pasukan Inggris dan kejadian ini dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia.
7. I Gusti Ngurah Rai
Saat usianya masih belia I Gusti Ngurah Rai sudah memimpin pertempuran menghadapi tentara Belanda. Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai
meninggal dunia pada usai 29 tahun.
Pahlawan Nasional ini lahir pada 30 Januari 1917 di Desa Carangsari, Petang, Kabupaten Badung, Bali, Hindia Belanda, 30 Januari 1917 dan – meninggal di Marga, Tabanan, Bali 20 November 1946. (BACA JUGA: Si Jalak Harupat, Otto Iskandardinata Pahlawan dari Bojongsoang)

Ciung Wanara adalah nama pasukannya yang melakukan pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama Puputan Margarana. Dalam bahasa Bali, puputan artinya habis-habisan. Sedangkan Margarana berarti pertempuran di Marga.
Di tempat puputan tersebut lalu didirikan Taman Pujaan Bangsa Margarana. Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Markas Besar Oemoem) Dewan Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di Kompleks Monumen de Kleine Sunda Eilanden, Candi Marga, Tabanan.
8. Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin atau terlahir dengan nama Muhammad Bakir/Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape sebagai nama pemberian dari Qadi Islam Kesultanan Gowa yakni Syeikh Sayyid Jalaludin bin Ahmad Bafaqih Al-Aidid.
Dia lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Gowa 12 Juni 1670 atau pada umur 39 tahun.
Karena keberaniannya, Sultan Hasanuddin dijuluki De Haantjes van Het Osten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan dari Timur. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa mulai tahun 1653 sampai 1669. Kerajaan Gowa adalah merupakan kerajaan besar di Wilayah Timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.
Pada pertengahan abad ke-17, Kompeni Belanda (VOC) berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku setelah berhasil mengadakan perhitungan dengan orang-orang Spanyol dan Portugis.

Kompeni Belanda memaksa orang-orang negeri menjual dengan harga yang ditetapkan oleh mereka, selain itu Kompeni menyuruh tebang pohon pala dan cengkih di beberapa tempat, supaya rempah-rempah jangan terlalu banyak. (BACA JUGA: Keturunan HB II Minta Inggris Kembalikan Harta Rampasan Geger Sepehi)
Maka Sultan Hasanuddin menolak keras kehendak itu, sebab bertentangan dengan kehendak Allah. Pada 1660, VOC Belanda menyerang Makassar, tetapi belum berhasil menundukkan Kerajaan Gowa. Tahun 1667, VOC Belanda di bawah pimpinan Cornelis Speelman beserta sekutunya kembali menyerang Makassar.
Pertempuran berlangsung di mana-mana, hingga pada akhirnya Kerajaan Gowa terdesak dan semakin lemah, sehingga dengan sangat terpaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667 di Bungaya.
Gowa yang merasa dirugikan, mengadakan perlawanan lagi. Pertempuran kembali pecah pada 1669. Kompeni berhasil menguasai benteng terkuat Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada 24 Juni 1669.
9. Kapitan Pattimura
Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy lahir di Haria, Pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783 – dan meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 atau pada umur 34 tahun.
Patimmura melawan ketidakadilan saat Belanda menetapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongitochten). (Foto/Ist)
Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad.

Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura. Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sifat kesatria.
Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para raja patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirim Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.
Kekuatan pasukan Patimurra sungguh luar biasa. Bahkan Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. (BACA JUGA: Putra Pahlawan Pembebasan Irian Barat Wafat, PKPI: Kami Sangat Berduka)
Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di Kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura diangkat sebagai pahlawan nasional.
10. Frans Kaisiepo
Frans Kaisiepo dikenang sebagai pahlawan nasional Indonesia dari Papua berdasarkan Keputusan Presiden nomor 077/TK/1993. (Foto/Ist)
Dalam masa revolusi, Frans Kaisiepo ikut dalam Konferensi Malino 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua.

Frans Kaisiepo lahir di Biak pada 10 Oktober 1921 dan meninggal di Jayapura 10 April 1979 atau pada umur 57 tahun.
Frans adalah anak Papua yang cinta kepada tanah kelahiran dan negaranya. Sehingga tak heran pada 31 Agustus 1945, ketika Papua masih diduduki Belanda, Frans termasuk salah satu orang menegakkan eksistensi Republik Indonesia dan orang pertama yang mengibarkan Merah Putih dan menyayikan lagu Indonesia Raya di Papua. Frans dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura.
(vit)
Lihat Juga :