Waspadai Kejahatan Berkedok Misi Sosial
Senin, 09 November 2020 - 08:18 WIB
loading...
A
A
A
Tak hanya itu, memanfaatkan popularitas public figure juga menjadi modus yang kerap dijalankan pelaku kejahatan berkedok misi sosial. Hal demikian seperti yang dialami artis Inul Daratista pada Juli 2020 lalu. Inul dibuat murka karena namanya dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk melakukan penipuan.
Modus yang dilakukan sederhana. Pelaku menghubungi korban dengan membawa nama Inul dan meminta korban untuk mentransfer sejumlah uang ke yayasan panti jompo.
Bukan hanya Inul yang mengalami nasib serupa. Desainer kondang Anne Avantie juga didera persoalan yang sama. Niat baiknya membantu atasi krisis stok alat perlindungan diri (APD) petugas medis yang menangani pasien Covid-19 justru dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab dengan membuka donasi abal-abal yang mengatasnamakan sosok sang desainer.
Media sosial turut menjadi salah satu sarana yang kerap digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya. Pelaku kejahatan tak segan membuat akun di media sosial dan kemudian mencatut nama badan-badan tertentu untuk mengelabui korbannya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merupakan salah satu lembaga yang pernah dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk melakukan aksi penipuan. (Baca juga: Penyakit Penyerta Covid-19 Perlu Diwaspadai)
Aktivitas penggalangan dana palsu ini juga marak terjadi di media sosial lain seperti Instagram dan Facebook. Umumnya bermodus “membius” korban melalui paparan cerita- cerita serta video seputar korban yang mampu menggugah emosi.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat juga menghadirkan berbagai modus kejahatan baru, salah satunya melalui e-mail phising. E-mail ini kerap digunakan pelaku kejahatan untuk mengelabui korbannya, seolah-olah e-mail tersebut dikirim langsung oleh lembaga amal resmi. Padahal e-mail itu merupakan pembuka jalan pelaku untuk melancarkan aksi kejahatannya.
Emosional vs Rasional
Modus yang dilakukan sederhana. Pelaku menghubungi korban dengan membawa nama Inul dan meminta korban untuk mentransfer sejumlah uang ke yayasan panti jompo.
Bukan hanya Inul yang mengalami nasib serupa. Desainer kondang Anne Avantie juga didera persoalan yang sama. Niat baiknya membantu atasi krisis stok alat perlindungan diri (APD) petugas medis yang menangani pasien Covid-19 justru dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab dengan membuka donasi abal-abal yang mengatasnamakan sosok sang desainer.
Media sosial turut menjadi salah satu sarana yang kerap digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya. Pelaku kejahatan tak segan membuat akun di media sosial dan kemudian mencatut nama badan-badan tertentu untuk mengelabui korbannya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merupakan salah satu lembaga yang pernah dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk melakukan aksi penipuan. (Baca juga: Penyakit Penyerta Covid-19 Perlu Diwaspadai)
Aktivitas penggalangan dana palsu ini juga marak terjadi di media sosial lain seperti Instagram dan Facebook. Umumnya bermodus “membius” korban melalui paparan cerita- cerita serta video seputar korban yang mampu menggugah emosi.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat juga menghadirkan berbagai modus kejahatan baru, salah satunya melalui e-mail phising. E-mail ini kerap digunakan pelaku kejahatan untuk mengelabui korbannya, seolah-olah e-mail tersebut dikirim langsung oleh lembaga amal resmi. Padahal e-mail itu merupakan pembuka jalan pelaku untuk melancarkan aksi kejahatannya.
Emosional vs Rasional
Lihat Juga :