Mas-mas TRIP Berjuang Hingga Akhir Zaman...
Minggu, 01 November 2020 - 05:46 WIB
loading...
A
A
A
Pasca perang mempertahankan kemerdekaan, para prajurit TRIP ini tidak putus untuk terus berjuang menjaga kedaulatan Indonesia. Mereka bukan hanya melanjutkan perjuangan melalui jalur militer, banyak juga yang menyebar menjadi guru, dan berbagai profesi untuk mengisi kemerdekaan.
Bahkan tidak sedikit yang akhirnya melanjutkan sekolah, dan menjadi tenaga ahli di pabrik-pabrik gula. Pabrik-pabrik gula yang sebelumnya dikuasai Belanda, masuk ke pangkuan ibu pertiwi, untuk menyejahterakan rakyat.
Pada tahun 1957, pemerintah Indonesia, mengambil alih pengelolaan pabrik-pabrik gula dari orang-orang Belanda. Sejumlah mantan prajurit TRIP yang melanjutkan pendidikan tentang gula, menjadi bagian dari orang-orang pribumi yang pertama kali bertugas untuk mengoperasikan pabrik-pabrik gula tersebut di bawah kibaran Merah Putih.
Sebagian lagi ada yang menjadi guru. Para prajurit TRIP ini memilih jalur mencerdaskan anak bangsa, melalui pendirian sejumlah sekolah. Perjuangan Indonesia, bagi para prajurit TRIP ini belumlah tuntas. (Baca juga: Jejak Bhatara Katong, Putra Brawijaya V Raja Terakhir Majapahit )
Perjuangan, masih panjang. Tantangannya juga semakin berat. Apabila dahulu TRIP memperjuangkan kemerdekaan dengan senjata, dan bertaruh nyawa. Kini, tantangannya adalah globalisasi yang bisa membuat anak-anak bangsa hanya menjadi penonton.
Anak-anak dan cucu-cucu para pejuang TRIP sering menggelar acara untuk menandai riwayat perjuangan TRIP tersebut. Biasanya mereka menggelar napak tilas pertempuran bumi hangus Kota Malang, yang terjadi pada 31 Juli 1947 silam.
Tetesan keringat, air mata, dan darah, telah dipersembahkan oleh para pahlawanan untuk Indonesia. Para anggota TRIP , tidak lagi muda. Tangan yang dahulu gagah mengokang senjata, telah berubah menjadi keriput. Tetapi, mereka terus berjuang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk Indonesia. Perjuangan yang tidak pernah putus, sebagai wujud semboyan dari TRIP , yakni Berjuang Kuteruskan Sampai Akhir Jaman...
Bahkan tidak sedikit yang akhirnya melanjutkan sekolah, dan menjadi tenaga ahli di pabrik-pabrik gula. Pabrik-pabrik gula yang sebelumnya dikuasai Belanda, masuk ke pangkuan ibu pertiwi, untuk menyejahterakan rakyat.
Pada tahun 1957, pemerintah Indonesia, mengambil alih pengelolaan pabrik-pabrik gula dari orang-orang Belanda. Sejumlah mantan prajurit TRIP yang melanjutkan pendidikan tentang gula, menjadi bagian dari orang-orang pribumi yang pertama kali bertugas untuk mengoperasikan pabrik-pabrik gula tersebut di bawah kibaran Merah Putih.
Sebagian lagi ada yang menjadi guru. Para prajurit TRIP ini memilih jalur mencerdaskan anak bangsa, melalui pendirian sejumlah sekolah. Perjuangan Indonesia, bagi para prajurit TRIP ini belumlah tuntas. (Baca juga: Jejak Bhatara Katong, Putra Brawijaya V Raja Terakhir Majapahit )
Perjuangan, masih panjang. Tantangannya juga semakin berat. Apabila dahulu TRIP memperjuangkan kemerdekaan dengan senjata, dan bertaruh nyawa. Kini, tantangannya adalah globalisasi yang bisa membuat anak-anak bangsa hanya menjadi penonton.
Anak-anak dan cucu-cucu para pejuang TRIP sering menggelar acara untuk menandai riwayat perjuangan TRIP tersebut. Biasanya mereka menggelar napak tilas pertempuran bumi hangus Kota Malang, yang terjadi pada 31 Juli 1947 silam.
Tetesan keringat, air mata, dan darah, telah dipersembahkan oleh para pahlawanan untuk Indonesia. Para anggota TRIP , tidak lagi muda. Tangan yang dahulu gagah mengokang senjata, telah berubah menjadi keriput. Tetapi, mereka terus berjuang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk Indonesia. Perjuangan yang tidak pernah putus, sebagai wujud semboyan dari TRIP , yakni Berjuang Kuteruskan Sampai Akhir Jaman...
(eyt)
Lihat Juga :