Korban Pembacokan Satu Keluarga di Panakkukang Jalani Operasi di RS Berbeda
Minggu, 25 Oktober 2020 - 11:30 WIB
loading...
A
A
A
Dia menjelaskan SL lebih dulu dirujuk ke RS Dadi sekitar pukul 22.00 Wita, karena kondisi mertua pelaku itu sudah dianggap tepat untuk dipindahkan ke rumah sakit lain. Sementara SF, menyusul 12 jam kemudian, karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk dirujuk. Nurhidayat bilang, istri pelaku kala itu mengalami pendarahan hebat.
"Jadi Sabtu siang baru kita rujuk, kondisinya saat itukan pendarahan sampai hemoglobin (Hb) 5. Normalnya itu Hb 10 baru bisa dirujuk. Tapi keduanya langsung dioperasi semua begitu sampai sana. Karena ketika kita lakukan proses Sisrut (sistem rujukan terpadu) kami maksimalkan permintaan hasil-hasil pemeriksaan awal di Ibnu Sina , jadi begitu sampai langsung dikerja (operasi)," terang dr wanita itu.
Nurhidayat membantah tudingan pihak keluarga korban yang menganggap pihaknya enggan mengoperasi SL dan SF karena terindikasi Covid-19 melalui tes cepat atau rapid test. Kata dia setiap pasien yang masuk ke RS Ibnu Sina dan RS di seluruh Indonesia pada umumnya memang harus melewati prosedur pemeriksaan cepat virus menular itu.
"Kami tidak tolak atau tidak mau operasi karena reaktif. Tapi memang kondisi para korban ini sangat parah ditambah sarana dan prasarana kami terbatas. Kami juga tidak mau asal kerja, apalagi kondisi korban-korban memang sangat kritis, banyak kehilangan darah. Kita juga khawatir kalau fisik mereka melemah lalu mengambil tindakan operasi," ucapnya.
Baca Juga: Karaoke di Pesta Pernikahan di Majene Berujung Pembacokan
"Jadi Sabtu siang baru kita rujuk, kondisinya saat itukan pendarahan sampai hemoglobin (Hb) 5. Normalnya itu Hb 10 baru bisa dirujuk. Tapi keduanya langsung dioperasi semua begitu sampai sana. Karena ketika kita lakukan proses Sisrut (sistem rujukan terpadu) kami maksimalkan permintaan hasil-hasil pemeriksaan awal di Ibnu Sina , jadi begitu sampai langsung dikerja (operasi)," terang dr wanita itu.
Nurhidayat membantah tudingan pihak keluarga korban yang menganggap pihaknya enggan mengoperasi SL dan SF karena terindikasi Covid-19 melalui tes cepat atau rapid test. Kata dia setiap pasien yang masuk ke RS Ibnu Sina dan RS di seluruh Indonesia pada umumnya memang harus melewati prosedur pemeriksaan cepat virus menular itu.
"Kami tidak tolak atau tidak mau operasi karena reaktif. Tapi memang kondisi para korban ini sangat parah ditambah sarana dan prasarana kami terbatas. Kami juga tidak mau asal kerja, apalagi kondisi korban-korban memang sangat kritis, banyak kehilangan darah. Kita juga khawatir kalau fisik mereka melemah lalu mengambil tindakan operasi," ucapnya.
Baca Juga: Karaoke di Pesta Pernikahan di Majene Berujung Pembacokan
Lihat Juga :