Jabar Siapkan Crisis Center Atasi Gangguan Kejiwaan Akibat Pandemi
Rabu, 07 Oktober 2020 - 21:10 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan hasil survei tersebut, kata Kang Emil, hampir 8% berasal dari Provinsi DKI Jakarta, Jabar, dan Banten. Kondisi tersebut menurutnya relevan dengan peningkatan jumlah pasien yang mengalami kecemasan ke RSJ Provinsi Jabar.
"Tekanan psikologis juga sangat berat. Tingginya angka kematian oleh COVID-19, informasi ketidakjelasan kapan pandemi akan berakhir, belum hadirnya vaksin, isu isolasi sosial, stigma, kehilangan pekerjaan, perubahan cara belajar mengajar, dan tingginya juga kekerasan rumah tangga sebagai dampak terjadinya perceraian adalah sesuatu yang tidak bisa kita sepelekan," paparnya.
Selain itu, beredarnya berita bohong (hoaks) semakin menimbulkan ketakutan serta meningkatkan kekhawatiran yang berlebihan. Oleh karenanya, kedewasaan dalam pemanfaatan media sosial harus terus dikampanyekan. "Hari ini masalahnya bukan mencari informasi, tapi memilah informasi. Maka situasi berita negatif tentu harus kita kontrol," tegasnya.
Dia juga menyebutkan, pandemi COVID-19 juga turut menyasar aktivitas pendidikan anak dan remaja. Berbagai kendala dirasakan para orang tua dan siswa ketika menjalani pembelajaran dalam jaringan (daring).
"Juga pada anak-anak ada sistem yang mengharuskan menjalani pendidikan di rumah atau jarak jauh. Ini juga membuat stres kepada anak dan orang tua, apalagi keterbatasan internet dan lainnya. Sungguh sangat memprihatinkan," tandasnya.
"Tekanan psikologis juga sangat berat. Tingginya angka kematian oleh COVID-19, informasi ketidakjelasan kapan pandemi akan berakhir, belum hadirnya vaksin, isu isolasi sosial, stigma, kehilangan pekerjaan, perubahan cara belajar mengajar, dan tingginya juga kekerasan rumah tangga sebagai dampak terjadinya perceraian adalah sesuatu yang tidak bisa kita sepelekan," paparnya.
Selain itu, beredarnya berita bohong (hoaks) semakin menimbulkan ketakutan serta meningkatkan kekhawatiran yang berlebihan. Oleh karenanya, kedewasaan dalam pemanfaatan media sosial harus terus dikampanyekan. "Hari ini masalahnya bukan mencari informasi, tapi memilah informasi. Maka situasi berita negatif tentu harus kita kontrol," tegasnya.
Dia juga menyebutkan, pandemi COVID-19 juga turut menyasar aktivitas pendidikan anak dan remaja. Berbagai kendala dirasakan para orang tua dan siswa ketika menjalani pembelajaran dalam jaringan (daring).
"Juga pada anak-anak ada sistem yang mengharuskan menjalani pendidikan di rumah atau jarak jauh. Ini juga membuat stres kepada anak dan orang tua, apalagi keterbatasan internet dan lainnya. Sungguh sangat memprihatinkan," tandasnya.
Lihat Juga :